banner 468x60

Agar Bayi Lahir Cerdas, Gamal Siapkan Sabuk Bayi Pintar

670 views
iklan
Gamal (kanan) penggagas healthpreneur  yang juga pendiri InMed Malang

Gamal (kanan) penggagas healthpreneur yang juga pendiri InMed Malang

Tak puas dengan gagasan Klinik Asuransi Sampah (KAS), Gamal Albinsaid (24) kini ancang-ancang menggagas sebuah produk baru.

Didukung sejumlah krunya, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) ini siap meluncurkan produk sabuk bayi pintar. Sabuk ini merupakan sabuk audio yang dipasangkan pada perut ibu hamil. Sabuk ini nanti bisa memutar lagu-lagu klasik atau ayat-ayat Alquran.

Ide kreatifnya ini, diakui Gamal, dilatari hasil penelitian yang menyebutkan bahwa musik bisa memengaruhi perkembangan otak janin. “Namun alat khusus untuk bisa memutar musik bagi ibu hamil ini masih belum ada,” demikian cetus dokter muda yang magang di RSSA Malang ini.

Ditemui di sela-sela acara Seminar Social-Healthepreneur di Hotel Gajahmada Graha, Minggu (1/12/2013), Gamal mengungkapkan akan melaunching produk inovatifnya itu pada 22 Desember mendatang. Dalam kesempatan itu, Gamal menekankan perlunya merealisasikan sebuah gagasan.

Menurut Gamal, semua orang pasti memiliki ide cemerlang. Tetapi tidak semua orang bisa merealisasikan gagasan tersebut. Dan bila tidak ada tindakan lanjut, bisa dipastikan ide-ide cemerlang itu akan menguap begitu saja,

Bertolak dari pemikiran itulah, Gamal berusaha keras mewujudkan hasil penelitiannya menjadi sebuah produk inovatif yang memiliki nilai jual. Karena latar belakang pendidikan yang diperolehnya berkait erat dengan kesehatan, maka lelaki asli Malang ini memakai istilah healthpreneur untuk aplikasi gagasannya tersebut.

Ditegaskan Gamal, yang dibutuhkan untuk menjadi pelaku healthpreneur sama seperti entrepreneurship lainnya, inovasi dan realisasi. Yang membedakan hanya produknya saja.

Lebih lanjut Gamal mengungkap, dari pemikiran itu dirinya kemudian membuat perusahaan sendiri yang diberi nama Indonesia Medika (InMed) pada Agustus silam. InMed ini khusus untuk membuat produk-produk kesehatan berdasarkan riset-riset akademik. Hasil-hasil produk yang dihasilkan para inovator muda Kota Malang di InMed sudah masuk nominasi Unilever Sustainability Living Young Entrepreneurship Awards.

“Jangan takut juga membagi ide kepada orang lain. Di InMed sendiri kami selalu berdiskusi ide. Dari diskusi ini, justru ide-ide kami akan semakin lengkap,” paparnya.

Sementara Makhyan Jibril (22), staf Department Health Applied Science and Technology Development InMed Malang, berpendapat, hasil-hasil penelitian mahasiswa masih sangat sulit bisa masuk pasar. Namun, bukan berarti hasil penelitian akademik tidak bisa dijadikan produk layak jual.

Menurut Jibril, diperlukan riset terapan agar hasil-hasil penelitian ini menjadi bernilai ekonomis dan tetap memiliki unsur akademiknya. “Ini memang tantangan. Tapi tentu sangat menyenangkan,” ujar Jibril. sum

author