banner 468x60

Antisipasi Cuaca Ekstrim, BMKG Dirikan Sekolah Lapang Iklim di 25 Provinsi

iklan

lahan pertanianPenakita | JAKARTA – Guna mengantisipasi akibat perubahan cuaca ekstrim terhadap ketahanan pangan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuat sekolah lapang iklim di 25 provinsi. Bekerjasama dengan penyuluh pertanian, BMKG memberi informasi mengenai kalender tanam, parameter-parameter iklim dan jenis tanaman yang cocok ditanam pada iklim tertentu.

Hasilnya? Kegiatan yang sudah dilakukan sejak 2011 itu diakui Andi Eka Sakya, Kepala BMKG sudah memberikan dampak positif bagi petani berupa penambahan produksi.

“Kami sudah buat sekolah lapang iklim ini di 25 provinsi terutama di sentra padi. Hasilnya sangat positif. Terbukti di NTB misalnya, terjadi penambahan produksi dari biasanya sekitar empat ton menjadi tujuh sampai delapan ton padi per hektar,” papar Andi.

Ditekankan Andi, fokus utama BMKG dengan sekolah lapang iklim terutama di 11 wilayah sentra padi yaitu seluruh Jawa kecuali Jakarta, Bandar Lampung, Aceh, NTB, Bali, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. “Sekolah lapang iklim memberikan informasi yang memadai kepada petani terkait perubahan cuaca dan dampaknya terhadap pertanian,” ucapnya.

Menurut Andi, iklim ekstrim diperkirakan terjadi akibat perubahan iklim negatif sehingga dampaknya sangat luas dari fenomena ini adalah kekeringan yang terjadi di sebagian besar belahan dunia termasuk Indonesia. Program ketahanan pangan nasional merupakan kegiatan yang akan terkena dampak langsung dari fenomena kekeringan.

Ditambahkan pula, selain mendirikan sekolah lapang iklim, dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional, BMKG pun telah membangun suatu sistim peringatan dini iklim (climate early warning system/CEWS) yang tahun ini mulai beroperasi.

“Fokus kegiatan CEWS adalah monitoring dan prediksi kekeringan di wilayah Indonesia khususnya di daerah sentra pangan,” pungkasnya. adi

author