Terima Bantuan Hibah dari Jepang, Murid di Sekolah Ini Tak Lagi Belajar di Masjid Desa dan Perpustakaan

Masaki Tani, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya (ketiga dari kiri) bersama lembaga penerima hibah, MI Nasyiatul Mubtadiin.

Penakita | SURABAYA – Pemerintah Jepang terus memberi perhatian pada perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Kali ini yang memperoleh bantuan adalah MI Nasyiatul Mubtadiin Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Lembaga pendidikan yang berada di Desa Duwet, Kecamatan Wates, Kediri ini lokasinya sekitar 30 km dari pusat Kabupaten Kediri. Sekolah yang terdiri dari 544 siswa ini memiliki 19 rombel, namun karena terbatasnya ruang kelas, sebagian murid harus belajar di masjid desa dan perpustakaan.

Bantuan tersebut akan diwujudkan berupa gedung sekolah dua lantai yang terdiri dari enam kelas. “Diharapkan pembangunan ini dapat memberi kontribusi dalam perbaikan lingkungan pendidikan MI Nasyiatul Mubtadiin,” kata Masaki Tani, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Jumat (9/11/2018).

Penandatanganan kontrak bantuan hibah dengan total dana sebesar Rp 920 juta itu dilakukan langsung oleh Masaki Tani dan Cucun Aly Yuana, Kepala Sekolah MI Nasyiatul Mubtadiin di Kantor Konsul Jenderal Jepang di Surabaya.

“Bantuan ini menunjukkan tekad Pemerintah Jepang untuk terus berkontribusi pada dunia di bidang keamanan manusia khususnya di Jawa Timur,” ujar Masaki Tani.

Dalam kesempatan itu, Masaki Tani juga berharap agar bantuan hibah ini dapat mendukung masyarakat setempat dalam pemenuhan kebutuhan dasar sebagai manusia dan meningkatkan kesejahteraan daerah penerima bantuan hibah. “Melalui seleksi yang ketat telah terpilih Proyek Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Kediri,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Konjen Tani juga menyampaikan harapan agar penandatanganan yang juga bertepatan dengan peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia ini dapat menjadi momentum yang baik guna mempererat ikatan persahabatan antara kedua negara. dit

‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’, Inilah Cara Anak-Anak Indonesia Menjaga Kekayaan Laut Negeri Ini

Anak-anak tampil dalam cerita ludruk ‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’ di Balai Budaya, Kompleks Balai Pemuda Surabaya..

Penakita | SURABAYA – Indonesia adalah negeri bahari. Kekayaan hasil lautnya sangat menjanjikan untuk kehidupan penduduk negeri ini.

Tetapi, ketika sekelompok anak-anak hanya mendapatkan sampah serta barang-barang tidak berharga ketika memancing di laut, anak-anak ini mencurigai ada sesuatu yang tidak beres. Penelusuran mereka pun membuahkan hasil, dan terbukti ada yang menjarah kekayaan laut Tanah Air.

Anak-anak ini pun tidak rela sumber kehidupan bagi penduduk Indonesia dicuri oleh bangsa lain. Mereka pun bertekad melakukan perlawanan terhadap penjarah laut Indonesia.

Namun, kemudian mereka menyadari ternyata tak mudah menjadi pelindung dan penjaga Samudera Indonesia. Mereka merasa perlu ilmu dan teknologi untuk mengimbangi kekuatan lawan.

Berhasilkah keinginan mulia anak-anak ini dalam upaya menjaga laut Indonesia? Lalu apa yang mereka lakukan agar keinginan tersebut terpenuhi?

Jawabannya ada di pentas ludruk berjudul ‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’ yang bakal disajikan di Gedung Balai Budaya, Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (3/11/2018). Dalam aksinya malam ini, seniman ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara akan melakukan kolaborasi dengan seniman–seniman cilik yang tergabung di Sanggar Medang Taruno Budoyo, dan Pusat Olahseni Budaya Mulyorejo Enterprise.

Pementasan yang berlangsung selama 90 menit itu para pemain ludruk didominasi anak-anak usia tahun hingga mereka yang berstatus pelajar SMP. “Selama ini cerita ludruk hanya bertutur soal daratan. Padahal negeri ini dikelilingi oleh laut,” tegas Meimura, sang penulis cerita ‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’.

Fakta itu pula yang membuat Meimura untuk menyiapkan cerita seputar kekayaan yang dimiliki Tanah Air ini. “Saya ingin memapar bahwa Indonesia bukan hanya daratan. Cerita ini juga untuk menunjukkan kecintaan kita pada laut dan segala isinya,” tegas Meimura yang juga bertindak langsung sebagai sutradara untuk kisah ‘Lautku, Lautmu, Laut Kita’. dit

Wardah Berikan Dana Pendidikan ke Pemkot Surabaya, Tri Rismaharini Berkomentar Seperti Ini

Suci Hendrina, PR Manager Wardah (kiri) menyerahkan secara simbolik dana bantuan pendidikan kepada Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya di Atrium Plaza Tunjungan Surabaya.

Penakita | SURABAYA – Bekerja di industri kreatif seperti bidang kecantikan diyakini bakal bisa memperoleh manfaat jangka panjang. Sebab, industri kreatif menuntut seseorang untuk selalu menggali hal-hal baru yang bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat luas.

“Karena itu saya yakin industri kreatif itu nggak akan ada matinya,” begitu tegas Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya usai menerima secara simbolis donasi pendidikan dari Wardah Kosmetik, Jumat (2/11/2018).

Meski begitu, wanita yang akrab disapa Risma ini menegaskan, untuk bisa eksis maka perlu kolaborasi dengan banyak pihak. “Gandeng tangan itu perlu. Kalau itu bisa dilakukan pasti bisa menjalankan industri kreatif ini dengan bagus. Sebab, tak ada orang yang tampil jelek,” tandasnya.

Beasiswa sebesar Rp 200 juta itu diserahkan secara simbolik oleh Suci Hendrina, PR Manager Wardah kepada Risma di acara Wardah Days yang diselenggarakan di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya. “Dana pendidikan itu kami serahkan sepenuhnya kepada Pemkot Surabaya untuk pengelolaannya,” ujar Suci Hendrina kepada penakita.com.

Menurut Suci, penyerahan beasiswa tersebut merupakan awal kerjasama Wardah dengan Pemkot Surabaya. Kerjasama dalam bentuk lainnya diharapkan bakal terjalin di masa mendatang.

“Ini merupakan gerbang untuk langkah selanjutnya,” tutur Suci.

Dalam kesempatan tersebut, Suci tidak menutup kemungkinan adanya alokasi dana pendidikan yang langsung diperuntukkan pada lembaga pendidikan di luar yang dikelola Pemkot Surabaya. “Karena Pemkot Surabaya tidak lagi berwenang pada lembaga pendidikan setingkat SMA/SMK, bisa jadi nanti kami langsung bersinergi dengan lembaga pendidikan setingkat SMA/SMK, dan kalangan perguruan tinggi,” ungkapnya.

Intinya, ditekankan Suci, Wardah ingin menunjukkan kepedulian pada dunia pendidikan. “Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan dalam bentuk kompetisi di bidang kecantikan itu juga dimaksudkan untuk menjaring talenta muda yang berminat di bidang industri kreatif ini,” katanya.

Dalam setiap kegiatan kompetisi, lanjut Suci, Wardah terlebih dulu akan memberikan pelatihan dan pembekalan yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk berkarya di bidang kecantikan. “Bisa memberikan tampilan yang baik tentu akan menunjang profesionalitas kerja,” cetusnya. dit