Tunjangan Fungsional GTT Rp 504 Juta Mengendap di Bank

KEDIRI –¬†Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri mengakui, ratusan Guru Tidak Tetap (GGT) se-Kota Kediri belum menerima tunjangan fungsional tahun 2012. Dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) tidak bisa dicairkan karena perubahan sistem mutasi perbankan.

“Mereka (GTT, red) datang kemari menanyakan haknya tentang tunjangan non PNS dari APBN, bukan APBD. Ada 140 GTT yang merupakan penerima dana tunjangan fungsional tersebut. Setelah dikonfirmasi, ternyata masih dalam proses mutasi perbankan,” ujar Kepala Disdik Kota Kediri Gunawan, Senin (28/01/2013).

Dijelaskan Gunawan, proses mutasi perbankan terjadi dari BRI Surabaya ke BRI Malang. Yang kemudian diteruskan ke BRI Kota Kediri. Apabila proses itu sudah dilalui, Disdik Kota Kediri akan memanggil para GTT penerima untuk proses pembaharuan data.

Diakui Gunawan, sebenarnya jumlah GTT penerima tunjangan fungsional dari APBN tahun 2012 sebanyak 144 orang dari berbagai sekolah. Diantara mereka, sebanyak 13 orang GTT sudah menerima. Disdik beralasan, karena proses pembaharuan data tidak bisa dilakukan secara bersamaan, melainkan perkelompok.

Gunawan berjanji segera memperjuangkan nasib para GTT yang belum menerima tunjangan fungsional. Tetapi, dirinya berharap para GTT bersabar. Karena prosedur pembaharuan data dalam sistem mutasi perbankan memang dilakukan secara teliti dan sesuai nama dan alamat atau by name by address.

Perlu diketehui, sebanyak 144 GTT Kota Kediri penerima tunjangan profesi adalah para guru non PNS diluar penerima tunjangan profesi dari APBD Kota Kediri. Besar dana tunjangan Rp 300 ribu per orang dalam satu bulan.

Sehingga dapat diketahui jumlah total dana tunjangan fungsional GTT Kota Kediri tahun 2012 yang masih mengendap di bank sebesar Rp 504 juta. Dana tersebut seharusnya bisa diterima GTT secara rapel setiap satu semester (enam bulan sekali).

Suhu Semesta Telah Mendingin

AUSTRALIA – Dengan menggunakan teleskop radio CSIRO di Australia untuk mencatat temperatur Alam Semesta, para astronom mendapati fakta bahwa Alam Semesta ternyata telah mendingin sebagaimana diramalkan teori Dentuman Besar (Big Bang). Sebagaimana dilansir Antara, tim ilmuwan dari Swedia, Perancis, Jerman dan Australia berhasil mengukur suhu semesta yang turun sampai setengah dari usia semesta.

“Ini adalah pengukuran paling teliti yang pernah dibuat mengenai bagaimana semesta telah mendingin selama 13,77 miliar tahun usianya,” kata Dr Robert Braun, Kepala Ilmuwan pada CSIRO Astronomy and Space Science, seperti dikutip Science Daily.

Mengingat cahaya memerlukan waktu untuk melintas, ketika manusia melihat ke angkasa maka apa yang dilihatnya adalah Semesta di masa lalu. Karena itu, untuk melihat kembali separuh jalan dari sejarah Semesta, manusia perlu melihat separuh perjalanan semesta.

Lantas, bagaimana suhu semesta bisa diukur dalam jarak yang begitu jauh seperti itu? Caranya, para astronom mempelajari gas pada sebuah galaksi tak bernama yang jaraknya 7,2 miliar tahun cahaya. Satu-satunya faktor yang membuat gas ini tetap hangat adalah radiasi belakang kosmik, yaitu cahaya yang tersisa dari dentuman besar.

Kebetulan, ada galaksi lain yang lebih kuat dan berbentuk quasar yang dinamai PKS 1830-211, terhampar di belakang galaksi tidak bernama itu. Gelombang radio dari quasar itu menembus gas di latar depan galaksi tak bernama itu.

Ketika itu terjadi, molekul-molekul gas menyerap energi dari gelombang radio ini, lalu meninggalkan ‘jejak’ pada gelombang radio tersebut. Dari ‘jejak’ ini para astronom menghitung temperatur gas itu, yang ternyata suhunya mencapai 5,08 Kelvin (-267,92 derajat Celsius) alias luar biasa dingin namun tetap lebih hangat dibandingkan suhu Semesta sekarang yang mencapai 2,73 Kelvin (-270,27 derajat Celsius).

Menurut teori Dentuman Besar, suhu radiasi di belakang kosmik turun perlahan begitu semesta melar. “Itulah yang kami lihat dari pengukuran-pengukuran kami itu. Semesta pada beberapa miliar tahun lalu lebih hangat beberapa derajat dibandingkan sekarang, persis seperti diprediksi teori Dentuman Besar,” tutur Kepala Tim Peneliti Dr Sebastien Muller dari Observatorium Ruang Angkasa Onsala pada Universitas Teknologi Chalmers, Swedia.

PRESTASI, Beasiswa Untuk Profesional Muda

JAKARTA – United States Agency for International Development (USAID) kembali menyelenggarakan Program to Extend Scholarships and Training to Achieve Sustainable Impacts (PRESTASI). Program ini dirancang sedemikian rupa untuk membantu para profesional muda yang berjiwa pemimpin untuk memperoleh pengetahuan baru dan meningkatkan kapasitas yang akan berguna untuk membangun Indonesia.

Milis beasiswa, Kamis (24/1/2013) melansir, PRESTASI merupakan program beasiswa penuh yang memberikan kesempatan kepada warga negara Indonesia untuk menempuh pendidikan S-2 di Amerika Serikat dan Indonesia dalam bidang-bidang tertentu. Bidang studi yang ditawarkan di antaranya yang berhubungan dengan Ekonomi, Kesehatan, Lingkungan, Demokrasi dan Pemerintahan, Pendidikan Teknologi, Matematika dan Sains, Administrasi dan Manajemen Pendidikan, dan sebagainya.

Formulir pendaftaran dan informasi lengkap tentang program beasiswa PRESTASI ini dapat diperoleh di laman resmi PRESTASI, www.prestasi- iief.org, dan melalui email prestasi@iief.or.id. Peminat juga bisa mendatangi  kantor USAID Scholarship PRESTASI Program di Menara Imperium lt. 28 Suite A Jl. HR Rasuna Said Kav. 1, Jakarta. Batas akhir pendaftaran adalah 12 April 2013, pukul 16.30 WIB.