Bahaya Jika Anak Kecanduan Main Smartphone!

SURABAYA – Tak cuma sebagai sarana telekomunikasi, fungsi edukasi sekaligus hiburan yang dihadirkan melalui perangkat ponsel pintar (Smartphone), membuat perangkat ini kini mulai familiar di kalangan anak-anak. Seperti mainan, keberadaannya kini bahkan telah menggantikan Robot dan Boneka sebagai teman tidur malam.

Fenomena kecanduan smartphone pada anak telah menjadi sorotan di Amerika Serikat, seperti diungkap dalam USA TODAY. Dalam sebuah kasus, seorang gadis 11 tahun di Korea bahkan tak bisa lepas dari smartphonenya. Ia gemar menulis pesan untuk teman-temannya dan memberi makan hamster digitalnya.

Seperti dikutip dari Mashable, sebuah studi yang dilakukan oleh organisasi sosial Common Sense Media, mempelajari lebih lanjut tingkat ketergantungan remaja dengan perangkat mobile mereka. Dalam penelitian ini menunjukkan, 41% dari remaja mengatakan mereka mengalami “Kecanduan akut dengan perangkat mobile”.

“Beberapa remaja mengaku ingin menghilangkan kebiasaan ini dan berharap mereka memiliki kehidupan normal tanpa terkekang dengan media digital dan sosial,” papar Parenting Editor Common Sense Media, Caroline Knorr.
Dia menambahkan, dalam hal ini peran orang tua sangat diperlukan sebagai peran yang memberi contoh model perilaku yang baik dan menetapkan batasan pada media sosial.

“Orangtua perlu mengingat mereka model peran anak-anak di era digital. Dan orang tua seharusnya lebih aktif memonitor prilaku anak dalam hal beraktivitas dengan perangkat mobile dan media sosial,” jelasnya.

Bagi anak-anak, kemudahan mengakses teknologi modern suatu hari bisa berdampak berbahaya. Sebaliknya, orang dewasa juga harus ingat waktu ketika saat menggunakan perangkat mobile mereka. Karena disadari atau tidak, selain akan menghilangkan waktu untuk bersosialisasi, hal ini akan menjadi contoh yang buruk terhadap perilaku dan perkembangan anak. adi

Awas Junk Food Buat Anak Cepat Puber!

Tak cuma berisiko obesitas, bagi anak, konsumsi Junk Food akan membuat mereka lebih cepat puber. Dalam sebuah penelitian, fenomena ini telah terjadi akhir-akhir ini dan sangat terasa jika dibanding 10 tahun terakhir.

Seperti dikutip dari the Sun, penelitian di Amerika menunjukkan pubertas pada anak perempuan sering terjadi 5 tahun lebih dini. Hal ini ditandai dengan siklus menstruasi pertama mereka. Sementara pada anak laki-laki hal ini terjadi 2 tahun lebih dini. Ditandai dengan kemunculan dan perubahan fisik menuju fase remaja.

Bagi para ilmuwan, dibanding dengan apa yang terjadi pada tahun 1980, remaja saat itu baru mengalami pubertas pada usia rata-rata 16,6 tahun. Sementara pada tahun 2010, hal ini telah turun menjadi 10,5.

Para ahli khawatir hal ini dapat menyebabkan peningkatan gadis-gadis yang mengalami kehamilan di usia sangat muda.
Marcia Herman-Giddens, dari University of North Carolina, salah seorang yang terlibat dalam penelitian ini mengklaim obesitas adalah faktor utama dalam hal ini. Ia menambahkan, hal ini yang pada akhirnya berpengaruh pada perubahan hormon tubuh atau yang biasa kita sebut pubertas.

Sementara itu, fenomena obesitas yang terjadi hampir di berbagai negara sering berlatar belakang dari kebiasaan mengonsumsi junk food. Disamping faktor lain, seperti kurangnya aktivitas fisik dan sebagainya.

Pubertas sendiri adalah proses perubahan tubuh, ditandai dengan munculnya beberapa bagian tubuh yang berubah tak ubahnya orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh serangkaian sinyal kimia, yang dikirim dari otak ke kelenjar hipofisis di kepala. Kemudian dari hipofisis ke kelenjar seks, ovarium pada anak perempuan dan testis anak laki-laki.

Pada gilirannya hal ini mendorong munculnya hormon seks, estrogen pada anak perempuan dan anak laki-laki, testosteron, yang menyebabkan perubahan fisik. Pubertas yang normal terjadi selama empat sampai lima tahun di kedua jenis kelamin. Tetapi anak wanita biasanya melalui hal ini lebih awal ketimbang anak laki-laki. adi

Ternyata Kebiasaan Berhitung Pakai Jari itu Penting Lho

JERMAN – Disadari atau tidak, kebiasaan berhitung sederhana, dengan menggunakan tangan ternyata dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Hal ini diketahui dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Jerman beberapa saat yang lalu.

Ternyata, mengajari anak dalam berhitung menggunakan tangan ternyata tak hanya membuat mereka menyelesaikan setiap tugasnya dengan lancar. Karena menurut penelitian, kebiasaan sederhana ini efektif sebagai metode pembentukan otak  (pemahaman dan penalaran) selama kehidupan anak ke depan.

Menghitung dengan tangan pada dasarnya sebuah pengetahuan yang didapat dari kebudayaan turun temurun. Setiap tempat, umumnya berbeda satu dengan yang lain soal cara menghitung pakai jari.

Orang Eropa sering menghitung dengan tinju tertutup, dan mulai menghitung pada ibu jari tangan kiri. Di Timur Tengah, orang juga mulai dengan tinju tertutup, tapi mulai menghitung dengan jari kelingking tangan kanan. Kebanyakan orang Cina, dan Amerika Utara, menggunakan sistem tinju tertutup, tapi mulai menghitung pada jari telunjuk. Dan orang Jepang biasanya mulai dari posisi tangan terbuka, dan mulai menghitung dengan menutup jari kelingking terlebih dahulu.

Seperti dilaporkan Guardian, peneliti Jerman Andrea Bender dan Sieghard Beller berpendapat bahwa tingkat keragaman budaya dalam menggunakan jari untuk teknik berhitung sering diremehkan oleh banyak orang. Padahal memurut Mereka dengan mempelajari teknik menghitung jari, kita dapat mempelajari bagaimana budaya mempengaruhi proses kognitif – aritmatika terutama mental masyarakat di suatu Bangsa.

Pendapat kedua peneliti ini didapat setelah mereka melakukan penelitian dengan sistem Scan fMRI. Dari sini menunjukkan bahwa perkembangan otak sangat berkaitan dengan jari yang aktif, apa lagi di integrasikan melalui tugas-tugas numeric (Matematika).

Dalam Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa anak-anak muda yang sering berhitung dengan jari umumnya dapat melaksanakan tugas kuantitatif lebih baik ketimbang mereka yang tidak pernah melakukan cara ini. “Itu mungkin karena penghitungan jari memiliki satu pengalaman yang unik yang membedakannya dari sistem menghitung tertulis atau lisan. Hal ini yang kemudian meningkatkan pengalaman sensorik – motorik, dan secara tak langsung berhubungan dengan aktivitas otak,” jelas Andrea.

Karena penyimbolan angka pada bagian tubuh, secara tidak langsung akan mengurangi beban di otak. Dengan kata lain, penggunaan sistem simbolis ini memungkinkan seseorang untuk memiliki kemampuan aritmatika yang lebih canggih. Selain itu, hal ini juga berdampak pada peningkatan pemahaman seseorang terhadap sebuah ilmu pengetahuan baru. adi