Agnes Tetap Mengajar di Usia 99 Tahun

NEW JERSEY, AS – Wanita ini telah menjadi bagian masyarakat dunia untuk sekitar satu abad lamanya. Tetapi pada usia 99 tahun, Agnes Zhelesnik masih belum siap untuk pensiun.

Guru paling tua di Amerika Serikat (AS) ini dipanggil ‘Nenek’ di sekolah, demikian seperti dilaporkan CNN dan dilansir Huffington Post, Sabtu (19/1/2013). Zhelesnik hidup sepanjang masa perang dunia serta menjadi ibu rumah tangga selama 60 tahun sebelum memulai karier mengajarnya pada 1995 lalu. Ketika itu, Zhelesnik yang berusia 81 tahun mengajar di Sundance School di North Plainfield, New Jersey, AS.

Sekarang, Zhelesnik mengajari siswanya memasak, menjahit dan membuat kostum. Anak perempuannya yang berusaia 61 tahun, dan juga bernama Agnes, mengikuti jejaknya sebagai guru di sekolah yang sama.

Mengapa Zhelesnik masih mengajar di usia senjanya itu? Zhelesnik beralasan, anak-anak di sekolah membuatnya tetap datang.

“Saya mencintai mereka. Anak-anak itu adalah pembantu terbaik saya. Merekalah satu-satunya alasan saya tetap datang ke sekolah. Meski saya memiliki anak-anak sendiri, murid-murid di sekolah ini memberi saya arti tersendiri,” ujar Zhelesnik.

Zhelesnik berkata, dia mungkin pensiun ketika umurnya 100 tahun. Sebelum Zhelesnik, AS memiliki guru tertua bernama Olivia Neubauer yang terus mengajar di Ashburn Lutheran School pada usia 100 tahun. Neubauer berkata kepada CBS Chicago, dia tidak pernah berniat terus mengajar hingga usia itu, tetapi juga tidak punya rencana pensiun.

“Saya menyukai pekerjaan yang hebat ini. Siswa-siswa saya adalah anak-anak yang baik. Hanya Tuhan yang akan memberi tahu saya kapan saya harus berhenti mengajar,” tutur Neubauer. Neubauer meninggal pada November lalu karena penumpukan cairan di paru-parunya. okz

Evaluasi Pola Unas Sambut Kurikulum 2013

JAKARTA – Konsekuensi penerapan Kurikulum 2013, antara lain pola ujian nasional perlu dievaluasi. Sebab Kurikulum 2013 menekankan tumbuhnya kreativitas, inovasi, dan keterampilan siswa, sementara ujian nasional menekankan pada prestasi nilai yang diraih siswa.

”Tes ujian kelulusan, seperti ujian nasional atau UN, tampaknya kontraproduktif dengan sistem pembelajaran yang dikehendaki Kurikulum 2013,” kata Elin Driana, praktisi pendidikan yang mendalami bidang riset dan evaluasi, di Jakarta, Minggu (20/1).

Menurut Elin, evaluasi di Indonesia, termasuk UN, selama ini berorientasi nilai. Sekolah masih menekankan pada anak didik untuk mencari nilai baik dan dapat ijazah.

”Esensi belajar atau pendidikan untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan, untuk cinta belajar, belum muncul. Anak-anak kita belajar karena mau mengejar nilai, bukan karena cinta belajar. Perubahan Kurikulum 2013 harus mampu mengubah paradigma itu,” tutur Elin.

Evaluasi untuk sekadar lulus, menurut Elin, justru mulai ditinggalkan. Ia mencontohkan Shanghai yang meninggalkan evaluasi untuk kelulusan seperti UN, terutama untuk pendidikan dasar. Dengan perubahan itu, Shanghai melesat maju dalam peningkatan hasil pendidikan dalam bidang matematika, sains, dan membaca dari beberapa evaluasi internasional, seperti TIMMS, PISA, ataupun PIRLS.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh mengatakan, ada kemungkinan UN dievaluasi. Namun, pemerintah belum membahas hal tersebut saat ini. ”Bisa saja nanti UN dievaluasi. Namun, UN memang masih dibutuhkan,” ungkap Nuh.

Waktu UN Diubah

Dalam perubahan Kurikulum 2013, pemerintah memang merencanakan perubahan UN, tetapi pada soal waktu pelaksanaan. Di SMA dan SMK, UN dimajukan ke kelas XI. Di SMA bertujuan supaya di tingkat akhir siswa bisa fokus untuk ujian masuk perguruan tinggi, sementara di SMK agar siswa bisa memperdalam praktik kerja industri untuk mematangkan sikap dan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

Secara terpisah, Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto mengatakan, pelaksanaan UN tidak relevan lagi untuk kelulusan, memotivasi belajar, dan untuk membentuk sikap kompetensi siswa. Evaluasi UN semestinya dikembalikan untuk pemetaan, untuk memastikan siswa memenuhi kompetensi abad ke-21.

Dari kajian terhadap UN Matematika, menurut Iwan, soal-soal di UN hanya membuat siswa bernalar rendah dengan perhitungan ruwet. ”Pola evaluasinya harus diubah,” tegas Iwan. kps

Pelatihan Guru Jelang Penerapan Kurikulum 2013

JAKARTA  – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana melakukan  pelatihan guru jelang penerapan kurikulum 2013. Pelatihan akan dilakukan dalam waktu 52 jam pertemuan saja untuk setiap guru.

Singkatnya waktu pelaksanaan pelatihan ini dipertanyakan banyak pihak. Namun Ketua Tim Inti Pengembangan Kurikulum 2013, Hamid Hasan, menegaskan akan ada pelatihan lanjutan.

Hamid mengatakan bahwa pelatihan guru akan terus dilanjutkan tidak terbatas pada 52 jam pertemuan. Durasi tersebut hanya merupakan pelatihan awal untuk mengubah pola pikir dan mengembangkan kemampuan dasar guru.

“Ini bukan one stop training. Pelatihannya terus berkelanjutan dan akan ada pendampingan untuk guru,” kata Hamid saat Rapat Dengar Pendapat di Ruang Rapat Komisi X, DPR RI, Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu mengatakan, para guru harus siap dalam melaksanakan kurikulum baru ini. Untuk itu, pelatihan guru memang dirancang selama 52 jam pertemuan pada tahap awal yang menyasar kepada guru kelas I, IV, VII dan X. Namun saat pelaksanaannya, guru-guru ini tetap memperoleh pendampingan.

“Guru memang harus siap melaksanakan kurikulum. Tentu harus guru yang terlatih,” jelas Hamid.

Bahkan untuk pelatih intinya, akan ada pre-test dan post-test. Tes awal dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan guru, pengawas atau kepala sekolah yang hendak menjadi pelatih inti. Setelah menjalankan pelatihan, mereka akan melaksanakan post-test untuk mengevaluasi apakah pelatihan yang dilakukan berjalan optimal.

Hal senada pernah diungkapkan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim. Bagi guru yang telah menjalani pelatihan dengan kuota yang ditentukan tapi masih belum memperoleh pemahaman yang optimal maka akan terus dibimbing hingga dapat mengimplementasikan kurikulum baru yang sesuai.

“Nanti juga ada pelatihan juga melalui internet atau dialog. Kami upayakan agar guru benar-benar tidak kesulitan mengimplementasikan kurikulum baru,” jelas Musliar. kps