banner 468x60

Beasiswa UGM Juga Bisa Dimanfaatkan Penerima Bidikmisi

383 views
iklan

beaPenakita | YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) mengelola beasiswa Rp 66 miliar dari berbagai sumber setiap tahun untuk 11.700 mahasiswa. Menurut Sekretaris Eksekutif UGM, Gugup Kismono, beasiswa itu bisa dimanfaatkan pula oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi.

“Besarnya jumlah beasiswa yang dikelola UGM memungkinkan mahasiswa penerima Bidikmisi yang mengalami kesulitan ekonomi, tetapi memiliki kemampuan potensial secara akademik bisa bersaing mendapatkan beasiswa lainnya,” begitu katanya di Yogyakarta, Rabu (8/5/2013).

Ditambahkan Gugup Kismono, mahasiswa penerima Bidikmisi yang secara akademik memiliki kemampuan di atas rata-rata diizinkan untuk bersaing memperebutkan beasiswa dari sumber lain.

“Jumlah mahasiswa penerima Bidikmisi UGM saat ini sekitar 3.000 orang, terdiri atas 500 mahasiswa yang diterima tahun 2010, 1.450 mahasiswa tahun 2011, dan 1.102 mahasiswa tahun 2012. Penerima Bidikmisi dibebaskan dari kewajiban membayar biaya kuliah,” tegasnya.

Gugup mengatakan, UGM mendistribusikan dana beasiswa bantuan hidup penerima Bidikmisi setiap bulan, meskipun dana tersebut oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) diberikan secara kumulatif enam bulan sekali. Cara ini diambil untuk menjaga agar dana tersebut bisa dimanfaatkan secara efektif untuk keperluan pendidikan.

Menurut dia, UGM menyalurkan dana Bidikmisi setiap bulan agar dana tersebut dapat dikelola sebaik-baiknya dengan sasaran akhir keberhasilan pendidikan bagi penerima beasiswa. “Kami berharap dana bantuan biaya hidup bisa dimanfaatkan mahasiswa penerima Bidikmisi dengan baik dan menggunakannya betul-betul untuk keperluan pendidikan,” tuturnya.

Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan yang diberikan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai tahun 2010 kepada mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai, tetapi kurang mampu secara ekonomi.

Jika tidak dikelola dengan baik, lanjutnya, bukan hanya mahasiswa yang dirugikan, tetapi juga pemerintah yang menanggung risiko lebih besar karena meningkatnya kemungkinan mereka gagal dalam menyelesaikan pendidikannya.

“Masyarakat juga bisa dirugikan karena mahasiswa yang berpotensi tinggi untuk lebih berkontribusi bagi kemajuan bangsa gagal mengemban misi peningkatan kualitas pendidikannya,” ucap Gugup.

Dalam beasiswa ini, bantuan biaya hidup sebesar Rp 600.000 per bulan juga untuk memenuhi kebutuhan hidup mahasiswa. Dengan demikian, para mahasiswa bisa lebih berkonsentrasi dalam mengikuti proses belajar. dde/kompas.com

author