• Home »
  • Headline »
  • Belajar Budaya Lewat Membatik Kipas, Siswa SMA Vita School Mengaku Kesulitan Pegang Canting

Belajar Budaya Lewat Membatik Kipas, Siswa SMA Vita School Mengaku Kesulitan Pegang Canting

Siswa SMA Vita School Surabaya sedang belajar membatik di teras sekolah mereka.

Penakita | SURABAYA – Bikin batik ternyata tidak semudah ketika memakainya saat sudah menjadi busana. Perlu kesabaran yang ekstra sehingga bisa menghasilkan gambar dan warna sesuai yang diinginkan.

Pengalaman seru membatik itulah yang dialami langsung oleh sekitar 43 siswa kelas XI SMA Vita School, Kamis (30/8/2018). Bertempat di ruang terbuka depan gedung sekolah, mereka mulai proses dari awal berupa menggambar dalam bentuk skets, kemudian menggoreskan lilin dengan canting hingga tuntas jadi kain bergambar yang siap dipasang di kerangka kipas.

Meski sebelumnya sudah dapat arahan dari Komunitas Batik Surabaya (Kibas) yang bertindak selaku instruktur dalam kegiatan Membatik Kipas tersebut, para siswa ini mengaku tetap kesulitan saat praktik langsung. Kesulitan itu mereka hadapi khususnya ketika menggunakan canting untuk menuangkan cairan lilin ke bagian gambar yang sudah mereka buat sebelumnya.

“Pegang canting seperti pegang pensil. Tetapi, tidak semudah seperti pakai pensil. Harus di kemiringan tertentu sehingga jatuhnya lilin ke kain pas dan tidak melebar,” ujar Marchella Natasya.

Siswa kelas XI IPS ini mengaku sering menggunakan kain batik untuk busana sehari-hari. “Ternyata, pakainya lebih mudah ketimbang membuatnya. Sekarang saya jadi paham kenapa kain batik itu mahal,” ungkapnya.

Pengakuan senada dilontarkan Richard Ferdinand yang juga siswa kelas XI IPS. Seperti Marchella, Richard menyatakan, dirinya pernah menyaksikan proses membatik.

“Awalnya sih saya anggap gampang. Dulu waktu lihat proses membatik yang dilakukan perajinnya langsung juga sepertinya mudah. Ternyata waktu membatik langsung susah banget,” cetusnya.

Selain teknik memegang canting harus benar, lanjut Richard, diperlukan kesabaran tingkat tinggi untuk membatik ini hingga tuntas. “Selain perlu kesabaran, juga harus teliti dan cermat agar proses membatik bisa seperti yang kita inginkan,” paparnya.

Sementara Fifi Trisnawati, Kepala SMA Vita School Surabaya menandaskan, belajar membatik ini sebagai upaya mengenalkan kekayaan budaya nasional kepada generasi muda, khususnya di kalangan pelajar. “Proses belajar yang diberikan pada anak didik tak hanya dalam bentuk klasikal dalam kelas,” ucapnya kepada penakita.com.

Melalui kegiatan di luar kelas ini diharapkan anak-anak tidak bosan dan ada proses interaksi dengan lingkungannya. “Melalui kegiatan ini kami sekaligus ingin mengenalkan pada anak-anak bahwa batik tak cuma bisa dipakai jadi baju. Bisa juga jadi hiasan dinding atau lembaran kipas seperti yang mereka garap sekarang,” ungkap Fifi. dit