banner 468x60

Belajar Kanji Jangan Dipaksa, Begini Tips dari Mahasiswa STIBA Saraswati Bali

iklan
Peserta Kanji Cup antusias menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.

Penakita | SURABAYA – Bagi sebagian besar pembelajar bahasa Jepang, Kanji memang menjadi momok bahkan penghambat dalam proses belajar mereka. Namun di panggung Kanji Cup, anggapan negatif tersebut berusaha ditepis.

Kompetisi yang diadakan setiap tahunnya di Surabaya itu menjadi bukti bahwa antusiasme para pembelajar bahasa Jepang dalam memahami kanji cukup tinggi. 

Ini terbukti dari antusiasme yang ikut Kanji Cup ke-17 yang digelar pada Sabtu (2/3). Kegiatan yang diadakan di Auditorium Wiyata Mandala Gedung LP3M Universitas Negeri Surabaya itu diikuti oleh 152 peserta dari beberapa universitas di Jawa dan Bali.

Kompetisi yang diadakan oleh International Multicultural Center (IMC) serta didukung oleh Konsulat Jenderal Jepang Surabaya, PERSADA dan lembaga kursus bahasa Jepang Jasmin tersebut terbagi atas dua kategori yakni level dasar perorangan, shokyu dan level menengah beregu, chukyu.

Dari sebanyak 120 peserta level dasar perorangan, hanya diambil dua pemenang. Sedangkan pada level menengah yang berjumlah total sebanyak 16 tim juga hanya diambil dua tim pemenang.

Setelah melalui beragam jenis pertanyaan dan persaingan ketat antar peserta akhirnya Kanji Cup ke-17 level dasar dimenangkan oleh Isyana Safira, mahasiswi semester dua Universitas Diponegoro Semarang sebagai Juara 1, dan Rifki rekan sekelasnya keluar sebagai Juara 2.

Sementara pada level menengah beregu tim STIBA Saraswati dari Bali berhasil tampil unggul diantara di babak final hingga meraih posisi Juara 1, dan Juara 2 diraih tim Unesa.

Ketika ditemui penakita.com usai kompetisi, duo tim STIBA Saraswati I Putu Gede Aditya Djanardhana mahasiswa semester 6 dan Kadek Pendi Pranata mahasiswa semester 8 ini mengaku keduanya tidak menyangka akan memenangkan kompetisi tersebut.

“Karena kompetisinya sulit, kami tidak berharap menang. Tetapi kami berusaha melakukan yang terbaik,” ujar pria yang akrab dipanggil Danan dan baru belajar bahasa Jepang selama 3 tahun ini.

Sementara rekannya, Kadek Pendi Pranata menuturkan persiapan yang mereka lakukan hanya belajar seperti biasa di kampus dengan dosen pembimbing.

Bagi mereka babak tersulit dalam kompetisi yakni mengingat Kanji yang muncul di layar dan menuliskannya kembali, kemudian menulis kombinasi Kanji dengan jumlah sebanyak-banyaknya.

Ketika ditanya mengenai tips belajar Kanji versi mereka, jawabannya sederhana saja, yakni sering-sering berlatih menulis kanji. “Dengan sering belajar menulis Kanji, kita akan bisa hafal jumlah goresan dan makna Kanji itu dengan sendirinya,” tutur Pendik.

Masaki Tani, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya.

Danan menambahkan ketika belajar Kanji, suasana hati sangat mendukung, “Jadi belajar Kanji jangan dipaksa. Kalau suasana hati sedang tidak pas maka apa yang dipelajari akan percuma,” imbuhnya.

Kemudian juara 2 pada level menengah beregu diraih oleh tim tuan rumah, Unesa yang beranggotakan mahasiswa semester 4, Yoga dan Adam. Berbeda dengan tim Saraswati, tim Unesa mengungkapkan pihak kampusnya telah mengadakan persiapan rutin yakni dengan mengadakan Klub Benkyoukai atau Klub Belajar Bersama. sum

author