banner 468x60

Benarkah Rokok Elektrik Lebih Sehat?

532 views
iklan

rokok elektrikPenakita | SURABAYA – Banyak cara untuk menghentikan kebiasaan merokok. Selain memakan permen, tak jarang orang lebih memilih rokok elektrik. Rokok jenis ini dipercaya lebih bersahabat dan tak memberi pengaruh besar dalam hal kesehatan, benarkah?

Rokok elektrik pertama kali diperkenalkan di Eropa dan Amerika. Revolusi cara merokok ini pertama kali dikenalkan karena alasan rokok berharga sangat mahal di beberapa negara tersebut.

Kebiasaan ini berkembang dan menjadi isu yang dipercaya sampai di seluruh dunia. Bahwa menggunakan rokok elektrik memiliki risiko kecil merusak kesehatan ketimbang merokok konvensional pada umumnya. Alasannya, rokok elektrik tidak mengandung bahan nikotin.

Dalam perkembangannya, rokok elektrik kemudian menjadi kian popular, bahkan sampai juga di tren perokok aktif di Indonesia.

Dikutip dari Daylimail, penggunaan alat ini pada dasarnya menggunakan tenaga baterai tabung. Dengan perangkat khusus alat sederhana ini dapat dihisap dengan cita rasa dan asap seperti halnya merokok. Hanya saja, zat Propylene glycol dalam e-rokok, ternyata diketahui lebih berbahaya.

Menurut Dr Elisabeth Pott, direktur Pusat Pendidikan Federal Kesehatan di Cologne, Jerman, zat ini pada dasarnya dapat menyebabkan iritasi sistem pernafasan akut lebih parah. Bahkan jika dibandingkan kebiasaan rokok konvensional.

Profesor John Britton, dari Royal College of Physicians ‘Kelompok Penasehat Tembakau, menyerukan regulasi e-rokok yang perlu dikaji ulang. Menurutnya, penggunaan alat ini harus diatur ke tingkat yang wajar soal bahan kimia yang ada di dalamnya.

Di beberapa negara seperti Kanada, Australia, dan beberapa negara Amerika, produk ini mulai dilarang diperjualbelikan. Dan baru-baru ini, penggunaannya di Hanover, Jerman sedang akan menuju ke arah yang sama.  adi

author