• Home »
  • Aktualita »
  • Berkunjung ke Kampung Anak Negeri, Risma Sempat Dilempari Batu, Begini Reaksinya

Berkunjung ke Kampung Anak Negeri, Risma Sempat Dilempari Batu, Begini Reaksinya

Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya bersama Bledheg Sangheta, penghuni Kampung Anak Negeri.

Penakita | SURABAYA – Tekad Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk merangkul anak-anak jalanan dan mereka yang berkebutuhan khusus memang tidak mudah. Tetapi, keteguhan sikap itu akhirnya membuahkan hasil, anak-anak penghuni Ponsos Kalijudan dan Kampung Anak Negeri bisa menggelar karya di hotel berbintang.

Sebanyak 24 buah foto dan lukisan karya 16 anak Ponsos dan Kampung Anak Negeri dipajang di area Coffee Café Mercure Grand Mirama Hotel Surabaya pada Sabtu (10/11/2018). Pameran bertajuk ‘Surabaya Insight’ ini sekaligus membuktikan meski anak-anak itu tidak ‘hidup normal’ seperti lainnya, mereka tetap bisa menghasilkan karya yang bahkan punya nilai tinggi.

“Dulu waktu aku jadi wali kota pertama kali datang ke tempat mereka langsung di lempari batu. Mereka yang paling lama di sana pasti tahu, dulu sampai banyak kaca pecah,” begitu ujar Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya.

Ditemui penakita.com usai meresmikan pamerah lukisan ‘Surabaya Insight’, Risma mengungkapkan upayanya mengambil anak-anak itu dari jalanan ke tempat yang lebih baik dan di bawah pengawasan dinas sosial.

Erni Lutfia, Kepala UPTD Kampung Anak Negeri Pemkot Surabaya bersama anak-anak penghuni Kampung Anak Negeri saat pameran di Mercure Grand Mirama Surabaya.

“Mereka aku kumpulkan dari berbagai lokasi di jalan-jalan, ketemu di kampung-kampung. Orangtuanya nggak ada, maka aku ambil. Ada yg harus melalui rapat kampung dulu,” paparnya.

Ditekankan Risma, untuk mendidik anak-anak ini tidaklah mudah. Dulunya mereka tidak bisa apa-apa. “Kami berusaha mencari bentuk pengasuhan pada anak-anak tersebut. Pengasuh lalu mencarikan pelukis,” ungkapnya.

Setelah melukis bentuk kegiatannya ditambah pelatihan fotografi, dan juga musik. “Saya berharap karya mereka lebih baik, lebih berbentuk, sehingga bisa melanjutkan kehidupannya di masa mendatang. Karena mereka harus bisa mandiri dan melanjutkan kehidupannya,” cetus Risma.

Lulusan ITS Surabaya ini juga berharap karya anak-anak Ponsos Kalijudan dan Kampung Anak Negeri ini lebih dikenal di tingkat internasional. “Kalau pameran nasional mereka sudah pernah. Semoga bisa dipamerkan di tingkat internasional. Tetapi tentu tidak bisa serta merta,” tandasnya. dit