Bermasalah dengan Keringat Berlebih? Begini Cara Mengatasinya

Penakita | SURABAYA – Keringat berlebih atau hyperhidrosis adalah hal normal yang disebabkan aktivitas berlebihan dalam sistem saraf pusat, sehingga memberikan simulasi berlebih terhadap kelenjar keringat lokal. Meski hal ini sebenarnya normal, karena keringat bertujuan untuk menjaga suhu tubuh tetap normal, hyperhidrosis sering menjadi keluhan.

Keringat berlebihan yang keluar dari bagian-bagian tubuh tertentu ini sering memicu bau tak sedap. Otomatis hal ini membuat seseorang jadi tidak percaya diri.

Untuk memastikan apakah seseorang mengidap hyperhidrosis atau tidak, dr Menul Ayu Umborowati SpKK dari Skin A Dermatology and Aesthetic Surabaya menggunakan dua bahan yang mudah didapat, yakni Betadine dan tepung yang mengandung glukosa.

Pertama-tama, oles Betadine merata di bagian tubuh yang mengeluarkan keringat berlebih, kemudian bubuhi dengan tepung. “Lalu tunggu sekitar 1-2 menit. Kalau tidak ada perubahan warna, berarti keringat biasa, bukan hyperhidrosis. Sedangkan jika berubah warna ungu, berarti disebabkan oleh hyperhidrosis,” kata Menul, Senin (27/8/2018).

Bagi pengidap hyperhidrosis yang sudah parah, lanjut Menul, warnanya bisa berubah menjadi hitam pekat. “Untuk mendapatkan hasil akurat, sebaiknya dilakukan pengetesan  di ruangan dengan suhu sejuk,“ begitu saran Menul.

Keringat berlebih ini, kata Menul, dapat diatasi dengan dua cara, yakni dengan topikal antiperspirant dan botox. Topikal antiperspirant (TA) adalah aluminium chloride yang saat dioleskan ke kulit akan membentuk gumpalan yang menyumbat sehingga mencegah keringat keluar.

“TA ini sering dikombinasikan dengan deodorant,” ungkap Menul.

Meski deodorant menjadi satu di antara senjata yang sering digunakan untuk melawan keringat berlebih, namun menurut Menul deodorant tak benar-benar membantu menjaga bagian tubuh tetap kering, karena biasanya hanya bertahan sebentar.

Terutama bagi pengidap hyperhidrosis, deodorant tidak akan banyak membantu mereka. Apalagi deodorant hanya dipakai di area ketiak, sedangkan hyperhidrosis bisa terjadi di berbagai bagian tubuh.

“Deodorant hanyalah penanganan medis pertama, karena mengandung tawas dan pewangi. Tugasnya menyumbat pori-pori agar tidak keluar keringat berlebih. Hasilnya tidak bertahan lama, karena itu butuh perawatan khusus untuk menanganinya,” tegas Menul.

Hyperhidrosis primer sering timbul pada telapak tangan, telapak kaki, ketiak dan wajah. Sedangkan bila terjadi di area lain, disebut hyperhidrosis sekunder.

“Hampir semua orang berpotensi hyperhidrosis, tetapi sekitar 30-60 persen karena faktor genetik. Kondisi ini biasanya dialami oleh keluarga dengan riwayat sama,” tutur dokter lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini.

Untuk mengatasi keringat berlebih ini Menul menyarankan terapi khusus yang bisa dilakukan dengan menggunakan antiperspirant. Antiperspirant mengandung aluminium chloride yang saat dioleskan ke kulit akan membentuk gumpalan yang menyumbat, sehingga mencegah keringat keluar.

“Terapi khususnya adalah injeksi botulinum toxin A. Terapi ini dilakukan dengan menyuntikkan botulinum toxin A di daerah tubuh yang hyperhidrosis,” paparnya.

Botulinum toxin bekerja untuk mencegah keluarnya asetilkolin, yakni zat kimia di saraf yang berfungsi mengaktivasi kelenjar keringat. Setelah disuntik botulinum toksin A, kelenjar keringat di area tersebut akan berhenti memproduksi keringat.

“Satu kali suntik bisa tahan 4-7 bulan. Setelah itu harus suntik lagi agar efeknya lebih lama. Untuk area primer seperti telapak tangan, biasanya butuh 1-2 unit, maksimal tiga unit. Kalau bagian ketiak empat unit,” ujarnya.

Untuk memastikan apakah seseorang mengidap hyperhidrosis atau tidak Menul akan mengoles Betadine merata di bagian tubuh yang mengeluarkan keringat berlebih, kemudian dibubuhi dengan tepung yang mengandung glukosa.

“Lalu ditunggu saja 1-2 menit. Kalau tidak ada perubahan warna, berarti keringat biasa, bukan hyperhidrosis. Sedangkan jika berubah warna ungu, berarti disebabkan oleh hyperhidrosis,” katanya.

Pada pengidap hyperhidrosis yang sudah parah, warnanya bisa berubah menjadi hitam pekat. Botulinum toxin A akan diinjeksi di area yang berubah warna. sum