Cegah Siswa Cari Pelampiasan ke Tempat Lain

Ilustrasi Bimbingan Konseling

Ilustrasi Bimbingan Konseling

Penakita | SURABAYA – Mulai tahun ajaran 2014-2015, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya mewajibkan pelaksanaan ekstra kulikuler (ekskul) Konselor Sebaya di jenjang pendidikan SMP/SMA/SMK dan madrasah.

Konselor Sebaya ini juga sebagai langkah prefentif untuk mencegah kenakalan remaja seperti trafficking, narkoba maupun tawuran. Hal itu dimungkinkan karena di Konselor Sebaya ini mereka bisa saling curhat sehingga bisa dicari jalan keluar bersama-sama.

Untuk mendukung program ini Dindik memberikan pelatihan terhadap guru bimbingan konseling (BK) dan wakil kepala sekolah se Surabaya. Ada dua guru BK dan satu waka per sekolah yang dipusatkan di lima wilayah. Wilayah Utara di SMPN 11, wilayah Timur di SMKN 5, wilayah Selatan di SMKN 6, Wilayah Pusat di Gedung TLC Pawiyatan serta Wilayah Barat di SMKN 2.

Mereka dilatih selama dua hari oleh psikolog, dokter dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dari pelatihan ini diharapkan, para guru BK ini bisa mengubah persepsi negatif mengenai BK yang sudah melekat selama ini.

”Image negatif mengenai BK itu harus diubah. Guru BK harus bisa menjadi tempat curhat dan pendamping siswa. Ini penting agar siswa tidak mencari pelampiasan ke tempat lain kalau ada masalah,” cetus Eko Prasetyaningsih, Humas Dindik Surabaya.

Selain guru BK, Dindik juga akan memberikan pelatihan terhadap 10 siswa per sekolah. Mereka inilah yang nantinya ditunjuk sebagai konselor di masing-masing sekolah.

”Program Konselor Sebaya sebenarnya sudah ada sejak dua tahun lalu, dan hasilnya cukup bagus. Karena itu mulai tahun ini kami jadikan ekstrakurikuler wajib,” ungkap Eko yang asal Ponorogo. ari