Healthy Friday, Cara Siswa Vita School Mengolah Tanaman Jadi Makanan Sehat

Murid Vita Schooll sedang panen sayur sawi yang mereka tanam untuk diolah jadi makanan sehat.

Penakita | SURABAYA – Berkebun bukan hal asing bagi murid-murid SD Vita School Surabaya. Melalui kegiatan Healthy Friday, mereka rajin berkebun mulai dari menyemai, merawat tanaman selama pertumbuhan, hingga panen.

Tak hanya berkebun. Murid-murid pria dan wanita di sekolah tersebut juga belajar untuk mengolahnya hingga menjadi makanan maupun minuman yang bikin tubuh sehat.

“Saya bangga bisa meracik sayuran ini jadi minuman sehat,” celetuk Faye Daphne Ongkowijoyo usai praktik membuat jus sawi bersama teman-temannya.

Murid kelas 6 ini menambahkan, di rumah dirinya juga kerap membuat green juice ini bersama orangtuanya. “Agar tak terlalu pahit biasanya aku kasih gula sedikit,” imbuhnya.

Sementara Marcel yang juga murid kelas 6 tampak asyik membuat gado-gado bersama teman satu timnya. “Aku suka gado-gado, apalagi sayurannya enak jika dimakan bersama telor,” papar Marcel.

Kegiatan Healthy Friday, Jumat (28/9/2018) pagi itu diawali dengan kegiatan panen sayuran sawi. Puluhan siswa kelas 6 didampingi orangtua bersama-sama masuk ke green house.

Di tempat itu mereka memetik sawi yang sebelumnya mereka tanam dengan cara hidroponik. Setelah dicuci, sayuran itu kemudian mereka olah menjadi menu makanan dan minuman.

Murid-murid ini dibagi dalam empat kelompok, dan masing-masing menghadapi bahan makanan untuk mereka olah bersama dengan bimbingan orangtua dan guru. Selain jus sayur dan gado-gado, kelompok lainnya membuat omelet, dan capcay.

“Kami suka kegiatan seperti ini. Belajar di luar kelas tentu sangat menyenangkan,” imbuh Marcel yang diamini oleh Faye. dit

Kenalkan Dunia Kemaritiman Lewat Limbah Laut

limbah laut_ITS
Dari limbah laut mahasiswa ITS ini menghasilkan karya yang bernilai jual

Penakita | SURABAYA – Limbah laut sudah lama diincar para nelayan dan masyarakat di sekitar pantai untuk dijadikan suvenir. Kini, mahasiswa ITS juga menjadikan kekayaan laut itu sehingga bernilai jual.

Sumarlin, mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan ITS menyatakan, ide pemanfaatan limbah laut ini muncul ketika dia mengerjakan tugas berbagai bentuk bangunan kelautan seperti pelindung pantai ataupun anjungan. “Dari tugas ini kami lalu berpikir untuk membuat bangunan yang lebih kecil seperti miniatur sekaligus kerajinan tangan yang bernilai jual,” begitu paparnya.

Ditambahkan, untuk menunjang idenya ini, Sumarlin bersama kedua temannya, Riza Inayah dan Millatur Rodliyah lalu jalan-jalan ke daerah Kenjeran untuk melihat kerajinan tangan lain yang terbuat dari hasil laut. Akhirnya, mulailah dia membuat konsep yang diberi nama Marine Shop Art (MSA).

“Kebetulan bentuk dan bagian-bagiannya kan sudah dapat ilmunya dari kuliah, jadi tinggal menyesuaikan dengan bahannya saja,” ujarnya.

Antusiasme Marlin dan teman-temannya semakin tinggi ketika mereka melihat produk kerajinan hasil laut banyak diminati. aneka kerajinan dari bahan lain bernuansa laut seperti miniatur kapal dari kayu dan kertas pun laku di pasaran.

“Produk ini  juga sebagai bentuk pengenalan dunia kemaritiman kepada masyarakat,” ujar warga Keputih Surabaya ini.

Menurut Sumarlin, bahan-bahan kerajinan ini dipasok dari daerah Kenjeran. Bahan dengan murah itu lalu mereka olah menjadi produk bernilai tinggi. Meski demikian, dia tidak mematok untung terlalu besar untuk produknya. Besarnya harga tergantung model dan sulitnya pengerjaan.

Salah satu karya Sumarlin dan kawan-kawannya adalah replika anjungan minyak lepas pantai. Replika yang dibungkus kaca bening itu terlihat cukup unik. Bagian tangganya terbuat dari kayu seukuran tusuk sate.

Dibagian dek terdapat pasir putih. Kemudian pinggirannya dari keong kecil-kecil dan di menaranya ada akar-akaran laut yang sudah membatu.

Selain replika minyak lepas pantai, mahasiswa semester akhir Ini juga membuat bentuk lain seperti replika kapal barang, kapal selam, replika estuari kelautan, replika pantai dan miniatur armor unit atau pelindung pantai.

Untuk produk seperti anjungan lepas pantai ini dijual mulai harga Rp 35.000 untuk yang kecil dan Rp 50.000 yang berukuran besar. Produk-produk ini baru dibuat ketika ada pesanan.

“Pemesan umumnya berasal dari wilayah Surabaya dan sekitarnya karena pemasarannya baru sebatas dari mulut ke mulut,” bebernya.

Sumarlin ingin produk dari limbah itu bisa berkembang. Paling tidak bisa dipasarkan via online atau bahkan memiliki outlet yang khusus menjual kerajinan hasil laut.

Hanya saja keinginannya itu harus ditunda dahulu karena dua rekannya kini masih menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. “Selesai skripsi pasti akan kami kembangkan lagi,” pungkasnya. adi

Peduli Global Warming, China Kenakan Denda Pengguna Kantong Plastik

Ilustrasi
Ilustrasi

Penakita | JAKARTA – China memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia. Tak heran bila Negeri Tirai Bambu ini turut menyumbang dampak pemanasan global bagi bumi.

Namun, pemerintah setempat mulai menyatakan perang terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. “Global warming adalah masalah masyarakat dunia secara bersama dan juga sangat signifikan dampaknya bagi bumi, kami tentu ingin melakukan sesuatu, untuk mencegah itu,” kata Wu Hui Xian, mahasiswa Tianjin Normal University, China saat mengunjungi Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, untuk mengikuti seminar globe digital soal pemanasan global beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Andrea ini menambahkan, Pemerintah China punya beberapa kebijakan untuk perang melawan pemanasan global. Salah satunya, lanjut Andrea, pemerintah China mulai menerapkan denda jika masyarakat berbelanja menggunakan kantong plastik.

Selain itu, menurut Andrea, banyak pula masyarakat yang mulai meninggalkan kendaraannya di rumah dan naik dengan transportasi massal. “Kami diminta membayar denda jika belanja pakai plastik. Saat ini juga mulai mengurangi kendaraan, untuk mengurangi gas emisi CO,” paparnya.

Diakui Andrea hampir mayoritas masyarakat mematuhi kebijakan tersebut. Namun, Andrea tak menepis masih ada kemacetan lalu lintas di beberapa kota besar seperti Beijing dan Shanghai.

“Di beberapa kota besar masih ditemui, kalau saya pribadi juga sudah melakukan yang terbaik untuk bumi salah satunya tidak mengendarai mobil ke kampus, dan tidak pernah belanja pakai kantong plastik,” ungkapnya. dde