Rayakan Dies Natalis ke-54, Unesa Kerahkan 1964 Orang untuk Menyanyi Bahasa Isyarat

Penakita | SURABAYA – Menyanyi pakai bahasa isyarat? Ini memang baru pertama kalinya terjadi di Indonesia.

Tak heran bila aktivitas yang dilakukan 1964 orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan dan komunitas disabilitas di halaman Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI.

Rekor yang dipecahkan adalah menyanyikan lagu nasional menggunakan bahasa isyarat dengan peserta terbanyak. “Kami memilih jumlah 1964 orang untuk memecahkan rekor MURI ini, karena memang 1964 itu adalah tahun kelahiran Unesa. Jadi angka ini punya makna sejarah bagi Unesa,” kata Prof Dr Nurhasan MKes, Rektor Unesa, Rabu (19/12/2018).

Prosesi menyanyi dengan bahasa isyarat itu digelar di tengah upacara peringatan Dies Natalis ke-54 Unesa. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada tim MURI dan mahasiswa yang ikut serta dalam menyukseskan kegiatan ini,” tutur rektor yang baru dilantik pada 14 Agustus 2018 ini.

Nurhasan yang memimpin langsung upacara Dies Natalis itu menambahkan, prestasi pemecahan rekor MURI ini bukan yang pertama kali bagi Unesa. “Pemecahan rekor MURI ini menjadi yang ketiga kalinya bagi Unesa, dan rekor ke-8.790 untuk keseluruhan rekor MURI,” katanya.

Di tempat yang sama, Budiyanto, Ketua Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) menambahkan, untuk memecahkan rekor MURI ini para relawan telah berlatih bahasa isyarat mulai Agustus lalu.

“Ini dilakukan para relawan sama sekali tidak ada tekanan dari pihak manapun. Namun sepenuhnya karena mereka peduli pada temen-temannya yang disable,” paparnya. dit

TAF English Beri Bantuan Kapal Buat Nelayan Palu-Donggala, Ternyata Ini Alasannya

Penakita | SURABAYA – Kunci sukses yang diperoleh dalam mengelola sebuah perusahaan, khususnya bagi TAF English, tak semata dari usaha keras dalam menjalankan bisnis. Salah satu faktor penentu lainnya ternyata adalah rajin bersedekah.

“Kesuksesan kami bukan hanya karena kerja keras dan baik, tetapi juga karena kami sering bersedekah, sehingga kami dibantu oleh Allah SWT,” tegas Laili Purnama Sari, Founder TAF English saat acara penyerahan CSR TAF English yang bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Nurul Hayat, Rabu (19/12/2018).

Tak heran bila di usia yang masih dua tahun, TAF English mampu menunjukkan kemajuan luar biasa. Lembaga pendidikan yang punya motto ‘Jadilah Pemenang dan Berakhlak Baik ‘ ini bahkan sudah memiliki delapan cabang.

“Rencananya, kami akan buka 20 cabang lagi pada tahun 2019,” ungkap Laili.

Dalam kesempatan itu, Laili menyerahkan bantuan untuk korban bencana alam di Donggala Sulawesi dan Palu, sebesar Rp 100 juta rupiah. “Sumbangan ini murni dari TAF English untuk Donggala dan Palu karena kami sudah melihat sendiri bagaimana beratnya masyarakat di sana dalam menghadapi bencana yang terjadi,” imbuhnya.

Namun, bantuan tersebut tidak diwujudkan dalam bentuk uang, melainkan 20 kapal nelayan. Wujud bantuan dalam bentuk kapal itu, diakui Laili lantaran pihaknya tidak ingin memberi ‘ikan’ tetapi ‘pancing’ pada para penerima bantuan.

“Agar bantuan itu tidak habis begitu saja,” tandasnya.

Laili berharap, melalui bantuan kapal itu bisa membangkitkan kembali semangat para nelayan di Palu dan Donggala dari keterpurukan setelah mengalami musibah gempa dan tsunami. “Selain itu, juga semoga dapat dengan segera kembali mencetak leader serta champion untuk masa.depan,” urainya.

Ditekankan Laili, pemberian bantuan dengan model seperti ini sangat sesuai dengan komitmen TAF English yang ingin terus berkontribusi dalam bidang pendidikan dan juga menjadi pemenang dengan akhlak yang baik.

“Bisnis itu bukan semata mengeruk uang tetapi juga harus religius dan berguna untuk orang lain,” tambahnya.

Laili juga menyampaikan keinginannya untuk bisa bersedekah lebih besar lagi kedepannya, agar bisa membantu mereka yang membutuhkan lebih banyak lagi. “Karena itu pula di tahun 2019 nanti kami akan mengembangkan unit bisnis kami di bisnis property melalui anak perusahaan kami PT Indo Merdeka Property. Mohon doanya aja biar sukses dan bisa berbagi lebih besar lagi,” pungkasnya. dit

Raih Nilai Tertinggi di Uji Kemampuan Berbahasa Jepang, Peserta JLPT Diundang ke Kediaman Konsul Jenderal Jepang

Penakita | SURABAYA – Peraih tingkat tertinggi pada ujian kemampuan berbahasa Jepang (Japanese Language Proficiency Test) mendapat kesempatan istimewa. Mereka yang menjalani tes pada bulan Juli 2018 di Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang tersebut diundang ke rumah dinas Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Selasa (4/12/2018).

Para peserta Japanese Language Proficiency Test (JLPT) itu dinyatakan lulus N1, peringkat tertinggi dari lima tingkat JLPT. “Saya harap kalian tetap semangat belajar,” begitu pesan Masaki Tani usai penyerahan sertifikat JLPT.

Masaki Tani juga berharap supaya para peserta JLPT ini bisa menjadi jembatan penghubung bagi Indonesia dan Jepang agar lebih baik lagi. “Khususnya pada tahun 2018, di saat hubungan diplomatik Indonesia-Jepang sudah menginjak tahun ke 60,” paparnya.

Menurut Masaki Tani, ujian yang diselenggarakan serentak di 258 kota di seluruh dunia itu diadakan secara rutin dua kali setiap tahun oleh The Japan Foundation. Dan seiring berkembangnya jumlah pembelajar Bahasa Jepang di Jawa Timur membuat peserta JLPT kian bertambah.

Besarnya antusiasme peserta JLPT itulah yang membuat Masaki Tani terkesan dan mengundang ke kediamannya siang itu.

Konsul Muda, Kashiwabara Keigo menambahkan, mereka yang lulus N1 ada yang sebelumnya pernah ikut tes tetapi ikut lagi untuk mendapatkan nilai lebih tinggi. “Menurut saya mereka punya semangat dan motivasi tinggi dan patut diapresiasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Hideya Sato, Ketua EJJC, turut hadir dan memberikan pidato sambutan. Disamping itu, melalui rilis yang diterima oleh penakita.com, Sato menyebutkan bahwa pihaknya turut menghadiahkan penghargaan Nagayama Kazuko kepada tiga peserta.

Diakuinya, penghargaan ini sudah diberikan sejak tahun 2002 atas donasi dari mendiang Nagayama Kazuko pada tahun 1990-an kepada EJJC. “Penghargaan ini sebagai bentuk dukungan kami terhadap para pembelajar Bahasa Jepang di Jawa Timur,” ungkap Sato.

Untuk mendapatkan penghargaan Nagayama Kazuko ini selain harus lulus JLPT N1 di periode Juli, peserta juga harus masih berstatus mahasiswa jurusan Bahasa Jepang di salah satu universitas di Jawa Timur dan belum pernah tinggal kelas atau cuti kuliah.

Tahun 2018 ini, terdapat tiga orang mahasiswa yang mendapat penghargaan Nagayama Kazuko. Mereka adalah Fahmi Abdur Rozzaq (Universitas Negeri Surabaya), Chandra Trisnadi (Universitas Brawijaya) dan Andi Kikis Priyambodo (Universitas Brawijaya). Oleh EJJC, ketiganya dihadiahi sertifikat dan beasiswa sebesar Rp 2.000.000. sum