Beda Pola Asuh? Ini Sisi Positifnya

Ilustrasi
Ilustrasi

Penakita | JAKARTA – Perbedaan pola asuh antara suami dan istri tentu membawa dampak negatif bagi anak. Dan ternyata, tak sedikit suami dan istri yang memiliki pola asuh berbeda saat membesarkan buah hatinya.

Beberapa dampak segera terlihat, namun sebagian lainnya baru muncul pada saat anak beranjak dewasa. Apa saja dampak jika suami dan istri menerapkan pola asuh berbeda? Simak

1. Anak akan merasa bingung, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, dan apa sebenarnya perilaku yang diharapkan ia lakukan.

2. Konflik antara suami dan istri yang berasal dari perbedaan pola asuh biasanya akan memberi kesempatan pada anak untuk berada di antara keduanya, kemudian memanipulasi situasi demi “keuntungan” pribadi. Ini tentu saja tidak baik untuk jangka panjang, karena akan menelurkan sifat-sifat tidak jujur, manipulatif, dan terciptanya hubungan tanpa apresiasi maupun empati.

3. Anak-anak bisa saja merasa bersalah karena telah membuat ayah atau ibunya berkonflik.

4. Jika perseteruan antara ayah dan ibu berlangsung lama dan sering, anak-anak bisa merasa cemas dan depresi karena bingung dan merasa telah membuat ayah dan ibunya bertengkar.

5. Anak-anak akan memihak salah satu pihak, entah ayah atau ibu, yang mereka anggap lebih baik atau lebih banyak memberi mereka hadiah serta keleluasaan.

6. Pola asuh yang berbeda juga akan membuat empati anak-anak rusak atau terganggu karena terbiasa melihat konflik. Anak-anak ini akan menjadi semacam “arena perang” bagi orangtua ketimbang sebagai anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan penuh kasih sayang.

7. Pada saat dewasa, anak-anak yang dibesarkan oleh keluarga dengan pola asuh berbeda, akan merasa bahwa pernikahan bukanlah sebuah hubungan yang ideal. Ini juga bisa membentuk pola pikir untuk tidak memiliki anak di kemudian hari. Atau, anak akan mengulangi pola yang terjadi pada orangtua, yaitu dengan menerapkan pola asuh berbeda, sehingga masalah ini menjadi siklus yang terus berulang.

8. Anak-anak kemungkinan tumbuh menjadi seorang dewasa yang selalu merasa tertekan atau cemas akibat konflik yang terekam dalam benak mereka.

Namun, selain sisi negatif, tentu masih ada sisi positf dari perbedaan pola asuh ini. Jika saja orangtua mampu menyatukan kedua pola asuh yang berbeda dengan adil dan kooperatif, anak akan melihat bahwa perbedaan pun ternyata bisa menjadi sesuatu yang produktif.

Pasalnya, memang tak ada orangtua yang sama persis dalam hal pola asuh. Anak-anak pasti akan memahami hal ini dan bisa menggunakannya secara sehat jika kedua orangtua memberikan suport maksimal. dde/nva

Soal Sepele Tetapi Tak BIsa Dijawab Secara Bebas

Ilustrasi
Ilustrasi

Penakita | JAKARTA – Sebuah foto yang menampilkan halaman pekerjaan rumah seorang siswa sekolah dasar diunggah di akun Facebook milik Muhammad Erfas Maulana pada 18 September. Buku tersebut milik adiknya bernama Habibi yang tengah mengerjakan pekerjaan rumah terkait dengan perkalian, tetapi penuh dengan coretan tinta merah dan nilai 20. Artinya, jawabannya hanya benar dua dari 10 soal.

Dalam lembar tersebut terdapat pesan Erfas kepada guru adiknya, mempertanyakan alasan sampai harus menjatuhkan nilai 20. Penyebabnya, dia membantu mengajari adiknya menyelesaikan perkalian sederhana 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 dan dijawab 4 x 6 dan hasilnya 24. Ternyata, oleh gurunya, perkalian tersebut dianggap salah dan seharusnya dijawab dengan 6 x 4.

Hal serupa terjadi di nomor- nomor selanjutnya, perkalian dari 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 yakni 6 x 7 kembali disalahkan, seharusnya memakai perkalian 7 x 6. Dua nomor yang benar karena kebetulan memakai angka yang sama, 4 x 4 dan 8 x 8.

Foto tersebut beredar secara luas. Dari akunnya saja sudah dibagi sebanyak 6.300 kali dan disebar hingga ke media sosial lain, seperti Twitter dan Path. Muncul perdebatan, sebagian mendukung Erfas yang mengajari adiknya untuk menggunakan jalan lain untuk mencapai hasil perhitungan, sedangkan ada pula yang menyalahkannya karena tidak tertib pada proses.

Seorang pengguna Twitter dengan akun @babyrany juga mengungkapkan pengalaman yang sama. Dia mengajari perkalian dengan cara yang sama yang dipakai Erfas dan menghadapi kejadian serupa, 4 x 2 sama dengan 4 + 4, tetapi dianggap salah, sementara jawaban yang diminta adalah 2 + 2 + 2 + 2.

Pendapat yang berbeda dilontarkan akun @OomYahya yang menyebut apa yang diajarkan para guru sebagai konsep dasar yang sudah banyak dilupakan. Dalam matematika, perkalian 3 x 7 adalah 7 + 7 + 7, bukan 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3.

Senada dengan hal tersebut, akun @iwanpranoto milik ahli matematika dari Institut Teknologi Bandung,

Prof Dr Iwan Pranoto, menjelaskan bahwa bentuk yang diminta para guru untuk mengajari para murid agar paham mengenai perkalian. Dia mencontohkan perkalian 3 x 4 di buku matematika sekolah di Singapura yang dijelaskan dengan “tiga buah empatan”.

Namun, Iwan juga khawatir bahwa para guru salah dalam bertanya atau cara mengoreksi tugas. Apabila menanyakan hasil perkalian 3 x 4 tanpa instruksi lain, artinya sama saja membebaskan para anak untuk menjawab sesuai pengertian mereka.

“Pertanyaan guru seharusnya begini ’Jika 2 x 3 = 3 + 3, tentukan 3 x 4’. Jika dg pertanyaan ini anak jawabnya 3 + 3 + 3 + 3, barulah SALAHKAN,” kicaunya.

Meskipun tampak sepele, lembar pekerjaan rumah Habibi bisa menjadi potret pendidikan di Indonesia. Masih banyak ditemukan dogma dan tidak membebaskan para murid untuk bernalar sendiri.
(Didit Putra Erlangga Rahardjo dimuat di kompas.com)

Anak-Anak Bertengkar? Ini Cara Meredamnya

Ilustrasi
Ilustrasi

Penakita | JAKARTA- Anak-anak di rumah bertengkar? Hal ini tentu bukan hal luar biasa. Masalah pemicunya bisa beragam, bahkan hanya karena soal remeh sekali pun.

Sebagai orang tua, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah pertikaian antar anak alias sibling rivalry ini? Berikut beberapa cara yang bisa ditempuh menurut Jovita Maria Ferliana MPsi, Klinis Anak dan Anak Berkebutuhan Khusus sebagaimana dikutip dari TabloidNova.com.

1. Hindari membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Contoh,”Abang memang selalu bandel ya. Udah Dek, enggak usah main dengan Abang lagi.”

2. Dengarkan keluhan anak untuk mengetahui penyebab ketidakpuasannya. Contoh,”Habisnya Kakak terus yang duluan diantar Bunda ke sekolah.”

3. Sebagai orang tua memahami perasaan anak walaupun tak selalu setuju. Contohnya,”Bunda mengantar Kakak ke sekolah duluan karena jam masuk sekolah Kakak lebih dulu dari Adik. Kalau menunggu Adik selesai, Kakak akan terlambat. Tapi percayalah Nak, Bunda menyayangimu sama seperti Bunda menyayangi Kakak.”

4. Luangkan waktu khusus setiap hari untuk masing-masing anak dengan melakukan kegiatan yang diminatinya. Misal, orang tua menemani Kakak membaca buku kegemarannya di sore hari dan setelah itu menemani Adik bermain sepeda.

5. Bersikap adil terhadap semua anak. Setiap anak unik sehingga masing-masing anak memerlukan dukungan, bantuan, dorongan, dan penghargaan pada waktu dan cara yang berbeda.

6. Jika anak menceritakan sesuatu hal negatif tentang saudaranya, ingatkan saudaranya tetap keluarganya. Seburuk apapun anak harus menerima saudaranya dan menjadi kewajibannya memperbaiki kekurangan saudaranya tersebut.

7. Luangkan waktu berdiskusi dengan anak mengenai perilaku baik dan buruk, adil dan tidak adil, serta perilaku yang mencerminkan nilai moral lainnya. Tanyakan dari sudut pandang anak, berikan pujian, penjelasan tambahan pada anak. Lakukan bersama ayah, bunda, dan anak-anak secara lengkap.

Semoga tips ini bermanfaat. dde