Yohana : Penyandang Tuna Netra Bukan Sampah

Penakita | MALANG – Yohana yang lolos di pentas X Factor Indonesia ternyata memiliki bakat menyanyi yang diperoleh dari garis sang bunda. Nenek Yohana, Wiwik Sri Tunjung juga dikenal sebagai penyanyi keroncong. Tapi Yohana mengaku tidak bisa bernyanyi keroncong. Adik kandung pesepakbola, Eka Hera ini memilih jalur pop dan rock.

Sejak kecil Yohana sudah sering bernyanyi. Tapi dia baru bersedia ikut lomba menyanyi sejak duduk di bangku SMA. Bukti cemerlang olah vokal Yohana dibuktikan dengan terpampangnya puluhan piala di rumahnya. Berbagai tropi itu tertata rapi di rak ruang tamu di Perum Permata Regency I Blok 13/8 Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Sebelumnya, Yohana juga sempat menjadi vokalis beberapa band, diantaranya Albatros Akustic Group, Afa Band, VIP Band, Double Six Band, dan Zeal Band. Tapi dia tidak bertahan lama bergabung di band yang diperkuatnya.

“Saya dikeluarkan tanpa alasan yang jelas. Tidak ada yang mengemukakan alasan pemecatan saya sebagai vokalis,” tutur Yohana.

Dia menduga penyebab dikeluarkannya dari band karena keterbatasannya dalam melihat. Bila alasan ini yang memicu pemecatannya, dia pun menyadari dan bisa menerimanya.

Tapi Yohana yakin mampu menyalurkan hobinya meski tanpa bergabung di band. Alasan ini pula yang dikemukakan pada dewan juri X Factor di Jakarta. Saat itu, anggota dewan juri, Rossa bertanya alasannya ikut X Factor. Yohana menjawab,

“Saya ingin membuktikan bahwa penyandang tunanetra bukan hanya sampah, tapi bisa berprestasi,” tegas Yohana yang menggunakan nomor dada 10559.

Akankah Yohana berhasil hingga babak puncak dan meraih predikat jawara X Factor? Perjalanan panjang memang masih akan dilalui anak kedua pasangan Johanes Geohera-Dino Sri Suryantina ini. Namun setidaknya Yohana bisa membuktikan kekurangan dirinya sama sekali bukan halangan untuk menggapai keinginannya menjadi penyanyi. sry

Yohana Menjajal Peluang di X Factor Indonesia

Penakita | MALANG – Memiliki kekurangan dalam diri tak harus membuat seseorang putus asa. Karena jika seseorang terus berusaha menunjukkan kemauannya yang kuat Tuhan pasti memberi jalan yang terbaik.

Itulah yang dialami Yohana Febianti Hera. Gadis berusia 22 tahun ini semula memang sempat tidak menerima musibah yang dialaminya. Dia mengalami kebutaan sejak Juli 2008 lalu. Dokter yang memeriksanya pun menyerah memulihkan pengelihatan anak kedua pasangan Johanes Geohera-Dino Sri Suryantina ini.

Teman-teman Yohana perlahan-lahan menjauhinya. Akibatnya, Yohana mengalami depresi berat. Dia lebih sering mendekam di dalam kamar. Dia tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Bahkan Yohana juga jarang menyalurkan hobinya, yaitu menyanyi.

Dia hanya bernyanyi bila merasa tidak ada tetangga di dekat rumahnya. Bila merasa ada tetangga di dekat rumahnya, dia langsung masuk ke kamar dan meninggalnya mic-nya.

Yohana baru siap menerima keadaannya pada pertengahan 2012 lalu. Yohana mulai menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
“Saya senang melihat Yohana kembali bangkit. Saya merasa harta saya sudah kembali,” kata Johanes ditemui di rumahnya di Perum Permata Regency I Blok 13/8 Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Sabtu (2/2/2013).

Mahasiswa semester dua Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) ini kembali mengikuti berbagai audisi bernyanyi. Diantara adalah Audisi X Factor Indonesia yang diadakan di Surabaya bulan Oktober 2012 lalu.

Meski lama absen bernyanyi, Yohana mampu bersaing dengan peserta lainnya. Sekitar 3.000 peserta dalam babak penyisihan di Surabaya berhasil disisihkan. Sejak itulah Yohana harus mondar-mandir Malang-Jakarta menuju babak final ajang penggalian bakat.

Yohana dipastikan lolos dari babak 24 besar. Panitia X Factor menelponnya, Jumat (1/2/2013) malam. Dia diminta berangkat ke Jakarta pada Rabu (6/2/2013) mendatang.

Kabar ini tentu membuat Yohana gembira. Dia pun langsung road show ke sekolahnya dulu untuk menggalang dukungan. “Saya minta doa restu dan dukungan dari para guru,” harap Yohana.  sry

Kendalikan Anak Agar Terhindar Dampak Negatif Gadget

Penakita | JAKARTA – Di era teknologi yang berkembang pesat seperti sekarang, para orang tua perlu menjaga anak-anak agar terhindar dari dampak negatif, namun juga tetap mendapat dampak positifnya. Menurut psikolog senior Ratih Ibrahim, para orang tua perlu membiarkan anak tetap melek teknologi, tetapi tidak serta merta membebaskan mereka dalam penggunaan teknologi. Salah satu contoh sederhana adalah penggunaan gadget seperti ponsel, tablet ataupun laptop.

Ratih berpendapat, orang tua tetap perlu membuat pembatasan pada penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, penggunaan yang tidak terkendali akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi anak.

“Ibarat ikan, dulu kita hidup di air tawar. Seiring perkembangan zaman, saat ini kita hidup di air payau. Kita tidak bisa memaksakan anak untuk menjalani gaya hidup di air tawar, karena mereka sudah dilahirkan di air payau,” ungkapnya di Jakarta pekan lalu.

Artinya, para orang tua perlu membiarkan anak tetap akrab dengan teknologi, tetap dengan menerapkan peraturan dan pembatasan. Karena jika tidak, yang dikhawatirkan Ratih, anak-anak akan lebih tertarik dengan gadget dan tidak tertarik pada kehidupan nyata.

Layar gadget yang berkedip dengan cepat dapat menstimulasi otak anak-anak untuk merasa tertarik. “Ketertarikan inilah yang membuat kehidupan nyata menjadi membosankan bagi anak-anak,” kata Ratih.

Karena itu, Ratih menyarahkan,”Beri pengertian pada anak Anda bahwa fungsi gadget adalah untuk berkomunikasi sehingga penggunaannya perlu dibatasi.”

Ini juga berlaku bagi orang tua, karena orang tua adalah role model bagi anak. “Jangan sampai orang tua melarang anak menggunakan gadget namun tidak membatasi gadget untuk diri mereka sendiri,” ungkap psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Namun terkadang, ada pula orang tua yang malah mengalihkan perhatian anak dengan gadget karena tak ingin anaknya bergerak terlalu aktif. Padahal menurut Ratih, bergerak aktif adalah salah satu proses alamiah anak dan tak perlu dialihkan dengan penggunaan gadget.

“Anak-anak memang tipikalnya tidak bisa diam, biarkan saja, nanti juga ada masanya mereka tidak terlalu aktif. Malah begitu yang bagus, jangan dilarang, apalagi dialihkan dari gadget,” pungkas Ratih.