Dukung Minat Baca Anak-Anak di Pelosok Desa, Ini yang Dilakukan Monique Bersama ‘Indonesia Cerdas’

Monique Aditya (belakang bertopi) di tengah anak-anak di pelosok Tanah Air.

Penakita | SURABAYA – Anak-anak milenial tidak suka baca? Asumsi ini kontan dibantah oleh Monique Aditya.

Pendiri gerakan Indonesia Cerdas ini justru mencermati banyak anak di negeri ini yang haus pengetahuan. Haus buku-buku berkualitas, haus membaca.

“Tetapi karena keterbatasan akses mendapatkan buku dan di desa atau pulau itu terpencil, buku menjadi sangat mahal harganya,” kata Monique kepada penakita.com.

Maka di tengah kesibukan mengelola bisnis yang mengharuskannya sering mondar-mandir Cirebon-Surabaya, Monique lalu mencetuskan ide untuk membuat taman baca, perpustakaan bahkan ‘learning and activity center’ untuk desa-desa yang sudah ditargetkan.

Melalui ‘Indonesia Cerdas’ ini, Monique sudah menjangkau sejumlah daerah terpencil. Di antaranya adalah dua pulau di Kepulauan Mentawai, yaitu Pulau Sipora dan Siberut, Dusun Kompa di tengah kebun sawit Bogor, Desa Randegan dengan Program Oemah Bejo yang merupakan project pertama.

“Untuk Oemah Bejo, hampir semua warga terlibat. Dan sekarang sudah mandiri,” ungkapnya.

Monique yang sempat jadi relawan bencana alam ini menyaksikan ada perhatian yang terlewatkan oleh banyak pihak saat bencana alam itu sudah berlalu. “Bagaimana nasib anak-anak yang tidak bisa sekolah. Mereka perlu kegiatan untuk mengisi kebosanan di tempat pengungsian,” cetusnya.

Ketika melakukan kegiatan traveling di sejumlah daerah di Tanah Air pun Monique sering menemukan anak-anak yang di waktu sepulang sekolah tidak punya kegiatan yang bermanfaat. “Ini banyak terlihat terutama di desa-desa kecil, di saat orangtua mereka sibuk di sawah atau hutan,” imbuhnya.

Ibu dua anak ini menyatakan, kegiatan ‘Indonesia Cerdas’ difokuskan pada mereka yang berusia 3-15 tahun. “Kami sediakan bacaan bermutu dan menarik bagi mereka,” katanya.

Selain itu, ‘Indonesia Cerdas’ juga mengajar ibu-ibu rumah tangga terkait kegiatan yang berkaitan dengan ekonomi produktif.

“Kami beri pelatihan bagaimana menggunakan hasil produksi pertanian lokal sehingga mendapatkan nilai ekonomi dan income bagi mereka,” tegasnya.

Dan agar ilmu yang diberikan bisa berkelanjutan, Monique menggandeng masyarakat setempat untuk meneruskan program tersebut. “Kami ingin setelah kami pergi pengetahuan yang sudah kami berikan tetap berjalan secara kontinyu dan bisa mengajari anak-anak yang sudah aktif di taman-taman baca tersebut,” tuturnya. dit

Pengiriman Foto Tinggal Sehari, Juri Segera Beraksi

Salah satu gaya Muhamad Sujai
Salah satu gaya Muhamad Sujai

Penakita | SURABAYA – Pengiriman foto bagi peserta Lomba Foto Anak & Story Telling tinggal satu hari lagi. Selanjutnya panitia akan melakukan pendataan awal atas karya-karya foto yang masuk.

Hasil seleksi awal ini kemudian diserahkan ke dewan juri yang diketuai Muhammad Sujai, fotografer freelance yang menggeluti fotografi sejak kecil. Pria asal Banyuwangi itu menggeluti dunia fotografi berawal dari foto dokumentasi wedding sampai saat ini profesional di Fotografi Tour Leader.

Sujai yang kini mukim di Sidoarjo itu mengantongi penghargaan di sejumlah panggung kompetisi foto. Pria yang lahir 5 Mei 1975 ini juara diberbagai event Lomba Foto Nasional spt Epson Photo Contest, Canon Photo Marathon, Vision Of Indonesia, Bank Kalsel, dan Pos Indonesia. Selain itu, Sujai pun aktif menjadi juri dalam berbagai event lomba foto.

Sebagaimana diberitakan, untuk kedua kalinya PENAKITA bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengadakan Lomba Foto dalam rangka Hari Anak 2014. Tetapi, kali ini materi lomba ditambah dengan penyelenggaraan Lomba Mewarnai dan Story Telling.

Lomba Mewarnai khusus bagi siswa TK usia 4-6 tahun. Sedang Story Telling disasarkan bagi para Bunda PAUD di kawasan Surabaya dan sekitarnya.

“Titik bidiknya tetap sama, yaitu anak-anak. Dan karena penyelenggaraan lomba kali ini pada bulan November maka tema yang diambil adalah seputar kepahlawanan. Ini tentu penting, khususnya dalam rangka memberi pengertian masalah sosok pahlawan dalam versi yang berbeda, pahlawan yang tak lagi membawa senjata melawan penjajahan. Di era merdeka ini sosok pahlawan lebih kompleks lagi,” papar Ari Prabowo, Panitia Lomba Foto Anak & Story Telling 2014.

Menurut Ari, untuk ikut lomba-lomba ini peserta tak dipungut beaya alias gratis. Namun, peserta terlebih dulu harus mendaftar melalui formulir yang ada di website penakita.com. Berkas formulir yang sudah diisi kemudian dikirim via email ke lombafoto.penakita@gmail.com.

Meski batas akhir pendaftaran bisa dilakukan hingga Jumat (21/11/2014), namun Ari mengharap peserta segera mendaftarkan diri karena jumlah peserta dibatasi. “Untuk lomba mewarnai maksimal 75 anak, sedang lomba story telling kami hanya terima sampai 50 orang. Ini semata karena tempat dan waktunya sangat terbatas. Jadi begitu jumlah peserta mencukupi langsung kami tutup,” kata Ari. sum

Inilah Tips Sukses Niluh Djelantik Tembus Pasar Luar Negeri

Niluh Djelantik
Niluh Djelantik

Penakita | SURABAYA – Meski banyak entrepreneur luar negeri yang gagal dalam pendidikan di perguruan tinggi bisa meraih sukses berkarier, Niluh Djelantik tetap beranggapan bahwa pendidikan itu penting. Desainer sepatu asal Pulau Bali ini menegaskan, pendidikan akan mengubah pola pikir dan dasar penting melangkah ke tangga selanjutnya.

“Saya sangat tidak setuju ada anggapan sukses tak harus sekolah. Kalau mau sukses karier dan menjalani kehidupan ini ya harus tuntas pendidikannya,” cetus perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini.

Walau begitu, Niluh tak menepis bahwa dirinya tak pernah menggunakan ijazah sarjananya untuk melamar kerja. “Bagi saya, manfaat pendidikan adalah memberikan pengalamanan dan nilai tambah ketika seseorang harus berwirausaha,” ucapnya.

Pemilik nama lengkap Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik ini lalu menyarankan calon mahasiswa agar pintar memilih tempat belajar. Baginya belajar tidak sekadar mendengarkan, mencatat, pulang dan mengerjakan tugas.

Selebihnya, lanjut Niluh, mahasiswa harus mencoba mandiri dengan melakukan praktek kerja sambil kuliah. Jika jadwal padat, pekerjaan itu bisa dilakkan paruh waktu (part time).

”Kalau hanya kuliah dan kuliah, ketika masuk kerja maka saingannya adalah lulusan SMA yang sudah bekerja lima tahun sambil kuliah, pasti keteteran,” ucap mantan Direktur Marketing perusahaan fashion milik orang Amerika ini.

Ditekankan Niluh, usaha apapun harus memiliki jiwa, dilakukan sepenuh hati, dan berpegang pada prinsip. “Ketiga hal tersebut akan membedakan kalian dengan pribadi lainya,” saran Niluh yang produknya pernah digunakan selebritis dunia seperti Julia Robert, Uma Thurman, supermodel Gisele Bundchen, Tara Reid, dan Robyn Gibson.

Diakui Niluh, untuk bisa sukses setiap usaha pasti ada masalah yang menyertai. Dua kendala besar yang pernah dialaminya adalah soal birokrasi dalam pengurusan perizinan serta proses regenerasi.

”Tidak mudah untuk mengubah mindset bahwa bekerja di pabrik sepatu itu kurang layak, ini tantangan terbesar yang harus kita lewati dalam perkembangan teknologi yang tinggi saat ini,” ujarnya.

Meski kini banyak sekali produk sepatu yang diproduksi masal, Niluh tidak tertarik untuk mencobanya. Niluh yang tahun ini akan membuka kembali pangsa pasar Eropa dan Amerika ini tetap memilih produksi terbatas sesuai pangsa pasar yang sudah dijelajahinya.

”Satu yang tidak bisa diambil itu kesetiaan pelanggan. Perlu waktu untuk menciptakan ini. Mendapat 100 pelanggan baru itu jauh lebih mudah dibandingkan mempertahankan 10 pelanggan lama. Jadi kita harus memelihara hubungan itu,” imbuhnya.

Mengenai pasar bebas ASEAN (Asean Economic Community) 2015, Niluh telah menyiapkan hal itu sejak 11 tahun silam. Di AEC akan banyak produk-produk fashiopn yang dijual lebih murah dengan standar internasional. Dan Niluh menjanjikan produk yang berkualitas tinggi hasil karya anak bangsa yang dibuat dengan segenap jiwa. dde