Ini Dia Manfaat Kunyah Permen Karet

Penakita | SURABAYA – Meski memakannya di tempat umum bisa melanggar hukum di Singapura, tapi sering mengunyah permen karet justru memberi banyak manfaat bagi kita. Diantaranya, memperlancar program diet sampai jauhkan kita dari masalah lambung.

Percaya atau tidak, mengunyah permen karet yang dilakukan secara rutin akan memberi keuntungan bahkan dibanding konsumsi jenis permen yang lain. Dikutip dari laman Medicmagic, berikut beberapa manfaat konsumsi jenis permen yang cikal bakalnya telah ditemukan sekitar 9000 tahun yang lalu ini.

Buat kita lebih fokus – Konsumsi permen karet saat mengerjakan sesuatu akan memberi kita tambahan konsentrasi penuh. Hal ini yang diungkap dalam sebuah studi di Amerika pada tahun 2011. Dalam sebuah percobaan sederhana, konsumsi permen karet terbukti meningkatkan fokus dan waspada saat mengerjakan tugas, seperti menyetir dan bekerja dengan alat berat.

Memperlancar program diet – Mengunyah dan mengunyah, saat makan permen karet akan membuat otot rahang bergerak. Hal ini yang pada akhirnya membuat kita dapat mengontrol rasa lapar yang berlebihan. Sehingga dapat menunjang program diet.

Merawat gigi – Usahakan pilih produk permen karet dengan kadar gula yang rendah. Mengunyah permen karet akan memproduksi air liur, maka  pada akhirnya memberi manfaat dan memelihara kesehatan gigi dan mulut. Karena, selain menghilangkan bau mulut, cara ini juga dapat membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi.

Cegah masalah lambung – Manfaat lain dari produksi air liur yang berlebih saat aktivitas mengunyah permen karet dapat meningkatkan motilitas usus. Hal ini yang membuat tubuh terlindungi dari masalah asam lambung, penyebab maag. adi

Cukup dengan Kalender, Obesitas Turun 5 Persen

Penakita | SURABAYA – Dewi Rahmawati, Mahasiswi Pascasarjana Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), berhasil membuat pengingat paling mujarab akan bahaya obesitas. Cukup dengan kalender, obesitas bisa turun 2,5-5 persen.

Rabu (6/2/2013) siang, Dewi menunjukkan perkembangan penderita obesitas sebagai partisipan. Dari 23 orang pengidap obesitas, 20 di antaranya melakukan aktivitas yang disarankan dalam kalender.

“Hanya dua sampai tiga orang yang tetap berperilaku malas. Tak mau gerak, tak mau berolahraga, dan memilih berdiam di depan komputer main game atau lihat televisi,” kata Dewi di kampusnya.

Penelitian yang dilakukan mahasiwi kelahiran 9 Juni 1987 ini di fokuskan pada pegawai kantor yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan komputer dan tidak banyak bergerak. “Orang-orang tersebut, faktor resiko terkena penyakit pembuluh darah,seperti stroke, jantung koroner, lebih besar,” ujar Dewi.

Karena itu dia membuat kalender meja yang gampang untuk dilihat sebagai pengingat. “Tiga bulan saya meneliti dan setiap 1 minggu saya pantau hasilnya. Rekaman aktivitas harian dan hasilnya terdapat di kalender,” ujar Dewi

Menurut Dewi, olahraga rutin dan aktivitas adalah kunci untuk menurunkan obesitas. Kalau obesitas berkurang, penyakit tak mudah datang. Dewi Rahmawati menuntun kaum obesitas melakukan hal-hal kecil tapi penting. Tak perlu olahraga berat.

Aktivitas dan olahraga yang disarankan calon ahli farmasi Ubaya tersebut, adalah rencanakan jenis olahraga untuk penurun obesitas. Lakukan pemanasan dulu lari-lari kecil selama 10 menit. Jangan makan atau minum terlaku banyak sebelum olahraga.

Aktivitas sepele seperti jalan kaki ke pasar, gunakan tangga, dan temui rekan kerja. Ini membantu turunkan obesitas. Selain itu juga jenis olahraga ringan yang disarankan, seperti berjalan cepat 1,5 km selama 30 menit. Ini bisa jadi sepele tapi berat bagi orang malas.

Selain itu bisa pula renang selama 20 menit, volley bukan pertandingan selama 45 menit, basket, joging, golf, tenis, bersepeda dan olahraga lainnya. Jika hal itu dilakukan 3-5 hari seminggu bisa menurunkan kalori 1.000 kkal.

“Setelah olahraga, jangan lupa pendinginan sebelum aktivitas olahraga benar-benar dihentikan. Rileks dan tenangkan pikiran. Mandi air hangat dan baru bilas air dingin untuk kelancaran darah. Makan setelah 1 jam olahraga,” pungkas Dewi.

Biarkan Anak-Anak Berinteraksi dengan Alam

Penakita | SURABAYA – Anak-anak yang lebih bebas bermain dan berinteraksi dengan alam cenderung lebih optimal perkembangannya. “Biarkan anak bermain dengan air, tanah, pasir, anak jadi lebih ekspresif dibandingkan hanya duduk, main gadget dan nonton TV,” kata Sani B Hermawan, psikolog keluarga beberapa waktu lalu.

Ditambahkan, interaksi anak dengan alam dan lingkungan juga bisa meningkatkan ketrampilan sosial, kreativitas, dan auto-imun anak. Namun, ia melanjutkan, kebebasan bermain yang diberikan orang tua tetap harus punya tujuan.

“Orang tua tahu misalnya main tanah liat itu untuk belajar membuat tembikar,” paparnya.

Sani mengatakan, orang tua sebaiknya mendampingi anak-anak bermain. “Bagusnya orang tua tidak hanya menyuruh, tapi jadi role model. Buat anak melihat senang saat bermain lumpur atau main di rumput tanpa alas kaki,” imbuh Sani.

Idealnya, ia menambahkan, orang tua juga memberitahu konsekuensi kebebasan bermain kepada anak. “Habis main, ajak anak untuk cuci yang kotor. Biar anak merasa bahwa mencuci juga menyenangkan. Jadi full circle,” pungkas Sani.