banner 468x60

Ciptakan Bata Tanah Padat Ramah Lingkungan, Totok Raih Guru Besar di ITS

iklan
Dr Ir Vincentius Totok Noerwasito MT

penakita.com | SURABAYA – Kualitas bata merah di Indonesia belakangan terus menurun. Di sisi lain, proses pembuatan bata merah ini juga menggunakan energi untuk pembakaran yang berlebihan.

Prihatin atas kondisi tersebut, Dr Ir Vincentius Totok Noerwasito MT pun berinisiatif untuk melakukan penelitian. Hasilnya kemudian dia paparkan melalui orasi ilmiah berjudul ‘Bata Tanah Padat sebagai Solusi Peningkatan Kualitas Bata Merah di Indonesia’.

Melalui penelitiannya, pria yang akrab disapa Totok ini berharap bisa memberi solusi agar bata di Indonesia bisa kembali berkualitas dengan proses yang ramah lingkungan.

Berkat penelitiannya ini pula Dosen Arsitektur Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya ini berhasil meraih gelar guru besar, dan akan dikukuhkan secara resmi pada Senin (18/11/2019).

Dari penelitiannya Totok berhasil menemukan cara pembuatan bata merah yang tidak memerlukan pembakaran dengan energi berlebih seperti pada proses pembuatan bata merah biasanya.

Totok mengaku mengawali penelitannya sejak tahun 2000-an hingga menjadi karyanya sekarang. Dia menekankan bata merah di negeri ini pernah mengalami kejayaan di masa Kerajaan Majapahit.

“Waktu itu, bata merah diaplikasikan pada bangunan candi-candi besar yang masih berdiri hingga sekarang,” ungkap lelaki kelahiran Surabaya, 1 Desember 1955 ini.

Totok menjelaskan, dengan proses hampir sama seperti bata merah, untuk membuat bata tanah padat yang pertama dibutuhkan adalah pasir dengan kandungan minimal 40 persen.

“Bahan perekat semen dan kapur dicampurkan pada kondisi kering. Dan saat campuran masih dalam kondisi lembab dicetak dengan pemadatan, kemudian pengeringannya juga dalam kondisi lembab tanpa sinar matahari,” papar suami dari Lintang Trenggonowati tersebut.

Sarjana Arsitektur ITS ini mengungkapkan, dirinya juga ingin mewujudkan tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) energi bersih dan terjangkau. Dengan proses pembakaran yang digunakan pada bata merah, akan mengeluarkan energi yang besar.

Melalui penelitian bata tanah padatnya ini, proses pembuatannya tidak dibakar dan tidak menggunakan tanah yang spesifik. “Tanah apapun bisa, tidak tergantung pada iklim di tempat-tempat tertentu, juga dapat dibentuk sesuai keingingan user,” imbuhnya.

Menurut peraih gelar master dan doktoral dari ITS ini, bata tanah padat karya itu juga bisa digunakan sebagai dinding bangunan. Yakni dengan memanfaatkan dan mengombinasikan dari berbagai macam bahan mulai dari lumpur Sidoarjo, tanah dan bambu, limbah kertas, dan kalsium silikat yang berperan sebagai finishing dan plesteran pada dinding.

“Pengembangan penelitian ini tidak akan ada habisnya, karena penelitian bata padat ini juga bisa dilakukan dengan mencampur bahan limbah lainnya, seperti akhir-akhir ini digunakan serbuk kayu juga,” beber Totok.

Totok menyatakan pula, ini adalah kesempatan untuk melakukan riset yang mendalam. Karena salah satu bahan bangunan lokal berupa bata tanah padat ini mempunyai potensi besar untuk pengembangan arsitektur Indonesia yang pernah mempunyai kehebatan di mata dunia yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan dan masih banyak lagi.

“Memanfaatkan fungsi lokal teknologi dan konsep arsitektur saat ini, akan membangkitkan jati diri kebangkitan arsitektur Nusantara,” pungkasnya. wid

author