banner 468x60

Cukup Rp 10 Juta Suntik Sel Punca di ITD Universitas Airlangga

176 views
iklan

logo unairPenakita | SURABAYA – Permintaan stem cell belakangan makin meningkat pesat. Namun besarnya permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi dan sering ditolak Lembaga Penyakit Tropis (Institute of Tropical Disease/ITD) Universitas Airlangga karena alat produksi yang diperlukan belum datang.

Karena itu, keberadaan RS Stem Cell (sel punca) yang diharapkan bisa beroperasi mulai Januari 2014 ini diharap bisa mendukung aktivitas ITD dalam memproduksi masal sel punca tersebut. Produksi masal stem cell ini difasilitasi Kementerian BUMN dengan memberikan alat produksi masal sekitar Rp 4 miliar.

Sedang Universitas Airlangga akan mengucurkan anggaran sebesar Rp 675 juta untuk pembangunan clean room dan laboratorium. ”Jadi ruangannya dari Unair, alatnya dari Menteri BUMN. Bantuan tersebut semuanya dalam bentuk barang. Dengan alat bantuan Menteri BUMN ini insyaallah kami bisa memberikan pelayanan untuk seluruh indonesia,” kata Prof Dr Nasronudin, Kepala ITD Unair.

Ditambahkan pula, dalam proses produksi masal ini ITD hanya memproduksi bibitnya, sedang penggandaannya dilakukan  perusahaan tunjukan Kementerian BUMN yakni PT Kimia Farma. ”Untuk regulasinya tergantung Menteri BUMN,” ucap Nasron.

Menurut Nasron, pangsa pasar stem cell sangat menjanjikan terutama untuk pangsa pasar domestik karena ini adalah terapi kini dan masa depan. Nasron menjamin stem cell buatan anak bangsa ini jauh lebih terjangkau dibandingkan produk Eropa yang sering digunakan pasien Indonesia selama ini.

“Terapi stem cell produk Eropa ini biayanya Rp 37 juta sekali suntik. Sedang untuk produk kami nanti, saya mengimbau agar lebih terjangkau sekitar Rp 5 juta sampai Rp 10 juta karena memang tujuan kami tidak mencari untung semata,” beber Nasron yang pernah dinobatkan sebagai dosen terbaik nasional pada tahun 1993. ari

author