banner 468x60

Dana BSM Kabupaten Nganjuk Yang Tersalurkan Kurang dari 50 Persen

364 views
iklan

uang11Penakita | NGANJUK – Ketua Komisi D DPRD Nganjuk, Sumardi SH MH menilai kinerja Satker Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Kabupaten Nganjuk tidak baik. Alasannya, dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) di daerah tersebut tidak tersalurkan sesuai kuota.

Menurut Sumardi, realisasi dana BSM rata-rata kurang dari 50 persen dari kuota yang ditetapkan. Karena itu, Sumardi meminta Bupati Nganjuk Drs H Taufiqurrohman segera turun tangan memperbaiki kinerja dinas itu.

“Sayang, ada bantuan untuk siswa kok tidak bisa tersalurkan,” demikian kata Sumardi.

Ditekankan Sumardi, bantuan tersebut sangat dinantikan siswa. Namun ketika dana sudah tersedia tak disalurkan.

“Ini menjadi catatan negatif bagi Dinpora, dan segera ditindaklanjuti,” cetusnya.

Informasi yang diperoleh PENAKITA, untuk tingkat SD tercatat kuota 35.993 siswa penerima, namun yang berhasil cair hanya untuk 19.998 orang, sedangkan sisanya 15.995 siswa gagal cair. Untuk tingkat SMP terdapat kuota 16.897 orang, namun yang cair hanya 5.310 orang. Sedangkan untuk tingkat SMA tercatat kuota 3.310 penerima BSM, yang terealisasi 1.224 siswa

Sedangkan besaran dana BSM per siswa bervariasi, untuk SD besarnya Rp 425 ribu/siswa,untuk SMP Rp 550 ribu dan Rp 700 ribu per siswa (SMA). “Saya dengar kabar untuk SMK sama sekali tidak cair, bahkan kuotanya pun tidak terajukan,” tutur Sumardi.

Sumardi menambahkan, banyaknya kuota yang gagal cair dari anggaran BSM itu karena ada ganjalan tidak dimilikinya Kartu Perlindungan Sosial (KPS) bagi calon penerima. Ini sangat disayangkan. Harusnya jauh-jauh hari Dinpora Nganjuk melakukan antisipasi dengan membantu pengurusan dan bekerjasama dengan SKPD terkait penerbitan KPS.

Terkait upaya Dinpora Nganjuk saat ini tengah membantu menguruskan surat keterangan miskin bagi keluarga siswa calon penerima, menurut Sumardi, merupakan sikap reaktif yang tidak mencerminkan bentuk kerja layanan yang baik. “Harusnya jauh-jauh hari melakukan korektif, jangan ketika ada persoalan baru melakukan pekerjaan,” tegasnya. adi

author