// you’re reading...

Ekonomi dan Pembangunan

Ekspor Beras Versus Ketahanan Pangan

Belajar pada keberhasilan swasembada beras tahun 1984, kita perlu merenungkan bahwa keberhasilan itu dicapai melalui kerja keras puluhan tahun dengan pembangunan irigasi, pabrik pupuk, Bimas, KUT, KUD, dan lain-lain. Swasembada beras yang kini sedang kita nikmati agar dipertahankan dan ditingkatkan. Karena dengan swasembada beras, selain menguntungkan secara ekonomi, juga dapat memenuhi tuntutan sosial dan politik bernegara, yaitu kebanggaan sebagai bangsa yang mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Sebagai alumnus IPB Bogor, saya tadinya tersinggung dengan akronim “IPB” yang diplesetkan menjadi “Institut Pleksibel Banget” karena lulusannya boleh menjadi apa saja kecuali jadi petani. Saya mulai ragu pada ketersinggungan saya karena ternyata banyak lulusan sekolah pertanian seperti saya lebih suka mencari pekerjaan ke kota dan enggan turun ke sawah. Maka ketika rakyat di negeri ini sering bernostalgia pada keberhasilan Pemerintah Orde Baru mencapai swasembada beras pada tahun 1984, sayapun termotivasi untuk lebih tekun mempraktekan ilmu pertanian yang pernah saya dapat di bangku kuliah, kendati masih terbatas pada usaha tanaman hias di samping profesi saya sebagai ibu rumah tangga.

Dua tahun terakhir, swasembada beras yang selama satu dekade terakhir hanya sebatas nostalgia, kembali menjadi kenyataan. Tidak semata-mata karena banyak teman-teman lulusan sekolah pertanian yang dioptimalkan untuk turun ke sawah, tetapi adalah akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Ada upaya-upaya kongkrit dan konsisten seperti peningkatan luas kepemilikan lahan pertanian, pengadaan irigasi dan perbaikan infrastruktur pedesaan, reformasi agraria serta peningkatan daya saing pedesaan.

Hasilnya, produksi padi pada 2007 sudah mulai kelebihan (surplus) 1 juta ton, dan produksi padi nasional pada tahun 2008 diprediksi mencapai 61 juta ton atau lebih tinggi 5 persen dibanding tahun 2007 (Kata Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso sebagaimana dirilis media massa awal pekan ini). Bersamaan dengan itu, di pasaran dunia harga beras mengalami lonjakan harga cukup signifikan yaitu mencapai level US$700 per ton. Sementara harga beras di dalam negeri saat ini berkisar antara US$ 300 hingga US$ 400 per ton. Kondisi ini telah menimbulkan kecemasan baru, yaitu larinya beras Indonesia ke pasar luar negeri karena tergiur disparitas harga yang tinggi.

Sejumlah kalangan telah meminta pemerintah untuk tidak terburu-buru memutuskan untuk mengekspor beras. Bisa dibayangkan apa jadinya jika petani kemudian menjual hasil panennya kepada pedagang, yang kemudian mengekspor karena tergiur keuntungan besar. Pasokan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sangat mungkin berkurang sehingga harga ke konsumen pun ikut-ikutan naik. Saat ini negara-negara pengekspor beras terbesar dunia, seperti Mesir, India, serta Vietnam, justru mengurangi ekspor beras mereka. Sementara, Vietnam yang merupakan negara pengekspor beras terbesar kedua setelah Thailand, memangkas ekspor beras sebesar 1 juta ton tahun ini, sebagai upaya memelihara ketahanan pangan dan menjaga tingkat inflasi. Negara-negara tersebut lebih memilih menyimpan hasil panen untuk konsumsi dalam negeri daripada dilempar ke pasar internasional, meskipun harga makanan pokok tersebut sangat menggiurkan. Sebaliknya, Tiongkok justru melempar semua hasil panennya ke dalam negeri. Negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia itu, bahkan memberikan subsidi untuk menjaga harga beras.
Pemerintah Tiongkok mengatakan akan membayar lebih banyak kepada para petani padi dan gandum untuk mendorong produksi serta menjaga tingkat inflasi.

Berdasarkan perhitungan, produksi beras nasional tahun 2008 diprediksi akan mengalami surplus sekitar 2,3 juta ton. Namun, jumlah itu dinilai belum aman untuk cadangan nasional. Pasalnya, cadangan yang aman untuk satu bulan berada pada kisaran 2,6 juta ton-2,7 juta ton. Berdasarkan riset Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 65% produksi beras nasional berasal dari masa musim raya yang berlangsung antara Maret-Mei. Kemudian, mulai menurun saat memasuki Juni-Agustus hingga puncaknya adalah musim paceklik mulai Oktober sampai Januari.

Mudah-mudahan surplus beras dalam dua tahun terakhir tidak membuat kita berpuas diri, karena masih ada kenyataan lain bahwa peningkatan produksi beras tidak dengan sendirinya berdampak pada membaiknya tarar hidup para petani. Mereka tetap saja terpuruk sekalipun produksi padi melimpah dan harga beras naik. Disamping itu, kita masih sering berhadapan dengan persoalan ketahanan pangan yang rentan. Penduduk Indonesia masih akan terus bertambah dan diperkirakan mencapai 315 juta pada tahun 2025. Pada saat itu kebutuhan pangan Indonesia akan meningkat 178%. Untuk itu mulai sekarang kita harus terus berupaya untuk menata masalah ketahanan pangan kita. Sebagai negara tropis, Indonesia berpotensi menjadi negara eksportir produk-produk pertanian tropis, tidak saja beras, tetapi juga perlu diarahkan pada jagung, kedelai, ternak sapi, susu dan gula.

Belajar pada keberhasilan swasembada beras tahun 1984, kita perlu merenungkan bahwa keberhasilan itu dicapai melalui kerja keras puluhan tahun dengan pembangunan irigasi, pabrik pupuk, Bimas, KUT, KUD, dan lain-lain. Swasembada beras yang kini sedang kita nikmati agar dipertahankan dan ditingkatkan. Karena dengan swasembada beras, selain menguntungkan secara ekonomi, juga dapat memenuhi tuntutan sosial dan politik bernegara, yaitu kebanggaan sebagai bangsa yang mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Anggi Astuti
Jaringan Epistoholik Jakarta (JEJAK)

Popularity: 21% [?]

Tulisan Menarik Lainnya:

Discussion

No comments for “Ekspor Beras Versus Ketahanan Pangan”

Post a comment

Advertisement