banner 468x60

Gede Ciptakan Alat Pengering Cabai Tanpa Pemanas, Begini Cara Kerjanya

480 views
iklan
I Gede Angga Karuniawan, mahasiswa Departemen Fisika Fakultas Sains ITS menciptakan pengering cabai

Penakita.com | SURABAYA – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali merilis produk inovatif. Karya itu lahir dari tangan I Gede Angga Karuniawan, mahasiswa Departemen Fisika Fakultas Sains

Untuk memenuhi tugas akhir guna meraih gelar sarjana, Gede merancang alat pengering cabai inovatif. Gede menggunakan teknologi vacuum drying sebagai alat untuk menurunkan kadar air dalam cabai.

Pascapanen, pengeringan perlu dilakukan untuk mempertahankan kualitas cabai. Namun, banyak petani yang kesulitan dalam mengurangi kadar air cabai.  

“Selama ini sebagian besar petani masih mengandalkan matahari. Sehingga saat cuaca mendung, petani kesulitan mengeringkan cabai,” ujar mahasiswa angkatan 2013 ini.

Karena itu, Gede merancang alat pengering cabai dengan memanfaatkan tekanan vakum. Tujuannya, alat tersebut dapat mengeringkan tanpa mengurangi kandungan dan mengubah struktur cabai.

Menurut Gede, ide tersebut berasal dari hasil diskusi bersama dosen pembimbingnya, Drs Bachtera Indarto MSi dan Drs Hasto Sunarno MSc.

Diakui Gede, tidak seperti pengering lain yang menggunakan pemanas dalam mesin vakumnya, alatnya ini tidak menggunakan pemanas. Selain biaya yang dikeluarkan cukup banyak, pemanas juga bisa membuat cabai terlalu kering.

“Ditakutkan nanti dapat merusak sel cabainya,” beber pria berkacamata ini.

Untuk cara kerjanya sendiri, yaitu dengan memasukkan cabai ke dalam ruang vakum dengan tekanan dalam ruang tersebut sebesar 80 kilo Pascal (kPa). Di ruang vakum itu cabai dihisap selama tiga menit, lalu dikeluarkan untuk ditimbang beratnya secara manual.

“Ini dilakukan selama satu jam, dengan rentang waktu selang tiga menit selalu ditimbang,” urai pria yang pernah menjadi kru di ITS TV ini.

Ditambahkan pula bahwa dirinya pernah mencoba mengeringkan di tekanan 70 dan 75 kPa. “Di tekanan segitu masih bisa sebenarnya. Cuma membutuhkan waktu yang lebih lama akhirnya,” paparnya.

Dalam pembuatan alat tersebut, Gede yang asal Surabaya ini mengaku membiayai sendiri. Proses pembuatannya memakan waktu sekitar satu bulan.

“Meski sempat ada kendala, seperti tidak boleh ada kebocoran ruang karena berhubungan dengan tekanan vakum, tapi syukurlah dapat menyelesaikannya,” tuturnya.

Dikatakan Gede, saat ini alat tersebut masih dalam percobaan dan kajian lagi, karena masih memerlukan pembenahan. “Saya harap alat tersebut dapat berkembang dan bermanfaat, apalagi untuk masyarakat pertanian,” pungkasnya. dit

author