banner 468x60

Graha Rektorat Universitas Negeri Malang Bakal ‘Dijaga’ Ular

589 views
iklan

universitas negeri malangPenakita | MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) bakal memiliki Graha Rektorat yang yang berlokasi di Jalan Semarang. Graha Rektorat yang berlantai 9 ini sekaligus menggantikan gedung lama yang ada di Jl Surabaya.

Menurut Prof Dr Suparno, Rektor UM, pembangunan Graha Rektorat UM sampai dengan tahap 2 ini telah menghabiskan dana Rp 75 milar. Rencananya, gedung prestisius kedua UM setelah Graha Cakrawala ini dibangun dengan dana total Rp 150 miliar.

“Tahap 1 untuk membangun fondasi dananya Rp 30 miliar. Tahap 2 seharga Rp 45 miliar ini untuk membangun pancang dan lantai. Sisanya untuk keseluruhan gedung,” tutur SUparno sambil menambahkan, keseluruhan biaya pembangunan Graha Rektorat UM menggunakan dana APBN

Ditambahkan, bangunan berbentuk huruf H dan berdiri di atas lahan 25.000 meter persegi ini atapnya tetap menggunakan desain joglo seperti gedung rektorat sekarang.

“Lantainya sembilan plus satu ruang semi-basement. Rencananya, pembangunan tahap 2 ini akan selesai bulan Desember mendatang,” sambungnya.

Lebih lanjut Suparno membeberkan alasan memindahkan kantor rektorat ini adalah agar Rektorat UM kembali seperti awal berdirinya IKIP Malang 1954. “Saya yakin waktu para pendiri IKIP Malang membangun kampus di Jalan Semarang itu tidak sembarangan menentukan lokasi. Setelah saya teliti, ternyata memang benar,” paparnya.

Suparno mengungkapkan Gedung Rektorat IKIP 1954 memiliki nilai-nilai filosofi Jawa yang adiluhung. Gedung itu, lanjut ahli bahasa ini, menghadap ke arah timur dan membelakangi Gunung Putri Tidur.

Dalam filosofi Jawa, masih kata Suparno, keadaan rumah atau bangunan yang membelakangi atau memiliki latar gunung diistilahkan ‘nyemendeng gunung’. “Artinya rumah atau bangunan itu tampak kokoh dan kuat. Harapannya, si pemilik menjadi seseorang yang berwibawa,” cetusnya.

Yang tak kalah menarik. Suparno mengaku akan memelihara ular di bagian semi-basement GR UM nanti. Alasanya, penamaan filsafat hidup dalam istilah Jawa disebut ular-ular.

“Di Jawa ular disetarakan dengan naga yang memiliki kesaktian tapi tidak semena-mena, malah bisa mengayomi. Tapi belum tahu ular apa yang akan saya pelihara ini nanti, tapi yang jelas ular yang tidak berbisa,” tandasnya.

Selain itu, pemindahan rektorat ke Jalan Semarang ini pun agar UM tidak lagi menumpang nama jalan. “Kalau di Jalan Surabaya yang merupakan jalan umum, kami sekedar menumpang nama. Tapi kalau di Jalan Semarang, itu memang akses utama ke kampus dulunya,” urainya.

Bangunan gedung berhuruf H, lanjutnya, merupakan perlambangan program studi (prodi) yang ada di UM, yaitu Kependidikan dan Non-Kependidikan. “Dan kantor Rektor nanti ada di tengah-tengah, seperti merangkul kedua prodi itu,” tutur Suparno. sum

author