banner 468x60

Inilah Cara Rendra Menikmati Masa Muda : Temukan Solusi Atas Masalah di Masyarakat dengan Ilmu dan Kemampuan Diri

iklan
Rendra Panca Anugraha bersama kedua orang tuanya usai prosesi wisuda. (foto” ist)

Penakita.com | SURABAYA –With great power, comes great responsibility.” Itulah pesan tokoh Paman Ben kepada Peter Parker dalam film ‘Spiderman’.

Ungkapan legendaris itu lah yang melandasi setiap langkah Rendra Panca Anugraha hingga berhasil meraih gelar doktor dalam Wisuda ITS pada Minggu (17/3/2019). Dalam gelaran Wisuda ke-119 tersebut, Rendra yang berasal dari Departemen Teknik Kimia ITS ini dinobatkan sebagai doktor termuda di Indonesia.

Power menurut persepsi Rendra adalah tingkat kecerdasan. Seorang doktor adalah manusia yang dikaruniai intelektualitas tinggi. “Dengan segala keterbatasan yang ada, mestinya mampu mencari peluang sehingga bisa berkontribusi kepada masyarakat melalui kapasitas intelektualnya itu,” tegasnya.

Rendra menekankan bahwa banyak problem nyata di masyarakat yang perlu dicari solusinya. Dan beberapa persoalan memiliki kompleksitas yang tinggi, sehingga memerlukan kapabilitas yang istimewa juga.

Seorang doktor memiliki bekal dasar untuk menanganinya. Inilah yang menjadi peluang bagi Rendra untuk bisa berkontribusi menjalankan perannya.

Baca Juga : http://penakita.com/tawarkan-zat-aditif-pengganti-fosil-rendra-raih-gelar-doktor-termuda-its/

“Cara saya menikmati masa muda adalah dengan menemukan solusi atas masalah di masyarakat dengan ilmu dan kemampuan yang saya miliki,” tutur Rendra yang juga dipercaya sebagai supervisor researcher di Laboratorium Termodinamika ITS.

Menurut putra pasangan Suwardjito dan Miftachul Djannah ini, doktor adalah orang yang berdiri di ujung horison perkembangan ilmu pengetahuan di bidangnya. Dia berada di tip of the edge, sehingga tugas seorang doktor setelah menyelesaikan studi doktoralnya adalah melanjutkan pengembangan ilmu di bidang tersebut.

Rendra mengaku, selama menjalani program PMDSU sempat dihadapkan pada beberapa persoalan yang menghambat progres penelitiannya. Salah satunya adalah dalam hal penyediaan bahan eksperimen.

Kadang, Rendra sampai harus mencari sendiri bahan eksperimen yang dibutuhkan tersebut di luar negeri, sehingga perlu mengurus surat ekspor-impor barang. “Sangat sulit untuk menemukan bahan baku penelitian saya di Indonesia,” kenang peraih IPK 3,95 ini.

Meskipun sulit, Rendra tetap berkomitmen untuk menjalani studi doktoralnya sebaik mungkin. Bungsu dari 5 bersaudara ini merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan amanah yang telah dipercayakan negara kepadanya melalui program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) ini.

Semangatnya ini bahkan pernah mengantarkan Rendra untuk melakoni berbagai penelitian sekaligus menghimpun pengalaman di Hiroshima University, Jepang. dit

author