banner 468x60

Inilah Lulusan SD yang Getol Tularkan Semangat Gemar Membaca

395 views
iklan

kiswanti perpustakaan di BogorPenakita | JAKARTA – Berjuang kini memang tak harus mengangkat senjata. Dengan caranya yang khas, Kiswanti pun melakukan perjuangan bagi masyarakat sekitar tempatnya tinggal di Lebak, Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Saya suka membaca dan ingin menularkan kegiatan itu pada orang lain melalui taman bacaan. Buat saya, itu sudah menjadi kontribusi dalam dunia pendidikan,” demikian ujar Kiswanti tentang aktivitas yang akhirnya berbuah positif.

Perempuan asal Bantul, Yogyakarta yang hanya lulusan sekolah dasar (SD) ini berhasil membuat masyarakat di sekitarnya jadi gemar membaca. Kegiatan yang diyakini bisa mengikis angka buta aksara.

Di tempat tinggalnya kini (Lebak), angka buta aksara justru terjadi pada mereka yang memasuki usia lanjut, yaitu di atas 70 tahun. Menurut Kiswanti, kebanyakan dari mereka hanya menguasai huruf-huruf kuno.

Maka Kiswanti lalu mewujudkan sebuah taman bacaan masyarakat yang dia beri nama Warabal, Warung Baca Lebak Wangi, di Parung, Bogor. Kiswanti bertekad menjadikan buku sebagai senjatanya untuk memajukan Indonesia.

Melalui koleksi buku di taman bacaan miliknya, Kiswanti berharap setiap masyarakat mendapatkan akses pendidikan yang sama. Dengan begitu, semua warga dapat menjadi manusia terdidik, baik mendidik diri sendiri maupun mendidik orang lain.

Kiswanti mengaku, upayanya itu dilandasi prinsip tak mengenal usia dan warna kulit. Sebagai penganut Islam, ia juga memercayai bahwa ajarannya mengatakan kalau setiap orang berkewajiban menuntut ilmu, mulai dari dalam kandungan hingga di liang lahat.

Karena itu, Kiswanti merasa punya kewajiban untuk mengajari dan menumbuhkan minat baca para lansia ini. “Tapi, dengan syarat, hanya untuk mereka yang mau. Tugas kita menstimulus dan merangkul mereka biar mau belajar. Saya yakin, semua yang kita lakukan dengan kebaikan pasti akan menghasilkan kebaikan. Yang jelas, kita menikmati proses itu. Kalau hasil dari proses itu baik, jadi bonus buat kita,” begitu paparnya.

Butuh Niat dan Mental Kuat
Mendirikan sebuah taman bacaan yang awalnya hanya beralaskan papan, dan kini layaknya sebuah gedung di Lebak, bukanlah perkara mudah bagi Kiswanti. Semua pengalaman, baik yang bagus maupun yang buruk, dijadikannya sebagai pengalaman berharga.

Untuk melakukan sesuatu, menurut dia, harus dimulai dengan niat, rencana, dan mental yang kuat. Jangan sampai, dimulai dari hati, tapi perilakunya malah tidak dilandaskan dengan hati.

Kiswanti memberi contoh soal permasalahan tidak memiliki buku. Ia mengaku tidak punya uang untuk membeli. Nyatanya, dengan tekad bulat, persoalan ini bisa ia siasati. Kiswanti mencari pengadaan buku-buku di tukang loak koran, majalah, serta buku-buku bekas.

“Kita punya niat dan rencana, dan tak kalah penting antisipasi untuk berjaga-jaga kalau nanti saat di perjalanan kita tersandung, lalu jatuh. Jadi, selain niat, mental juga harus kita siapkan dulu,” beber perempuan kelahiran 4 Desember 1963 ini.

Tumbuh sebagai seorang anak yang hanya lulusan SD tak membuat Kiswanti patah semangat untuk terus belajar. Keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarganya tak menjadi batasan kegemarannya membaca segala jenis buku.

Pendidikan formal di sekolahnya diganti dengan pendidikan yang diajarkan sang ayah, Trisno Suwarno. Kiswanti bertutur, ayahnya biasa berperan menjadi guru di rumah apabila telah selesai bekerja sebagai penarik becak. Upah hasil menarik becak juga digunakan untuk membeli berbagai jenis buku.

Alternatif belajar seperti itu terus diikuti oleh Kiswanti hingga ia dewasa. Selain mengandalkan upah ayahnya, Kiswanti memiliki cara lain agar terus dapat menambah koleksi buku dan mewujudkan taman bacaan. Misalnya, ia bekerja menjadi pengupas kacang tanah dan melinjo.

Dari pekerjaan mengupas 1 kg kacang itu ia mendapat upah Rp 7,5. Kiswanti bilang, walaupun hasilnya sedikit, ia senang menjalankan proses tersebut sehingga tidak merasa terbebani.

Ia mengaku, meski tak sekolah, dirinya rajin membaca pelajaran setingkat SMP-SMA. Jika tak mengerti, ia bertanya kepada tetangganya yang berprofesi sebagai guru. Karena kecerdasan otaknya menangkap ilmu, Kiswanti sering kali menjadi tempat bertanya teman seusianya yang justru bisa melanjutkan sekolah. Tak heran, saking semangatnya, hingga saat ini Kiswanti masih tetap berniat bisa mendirikan sebuah perpustakaan gratis.

Cita-cita itu bukan tanpa dasar yang kuat. Kiswanti pun menceritakan kembali pengalaman masa kecilnya. Sewaktu masih kanak-kanak, hasratnya menjadi anggota perpustakaan sudah ada. Namun, muncul sebuah pertanyaan dalam benaknya. Mengapa untuk menjadi seorang anggota, harus dikenakan biaya?

Saat itulah, ia berpikir seharusnya perpustakaan dapat dinikmati semua kalangan dan tidak membutuhkan biaya perawatan. Akhirnya, setelah berpuluh tahun berhasil mengelola taman bacaan, ternyata anggapannya salah. Sama dengan yang lainnya, ia juga membutuhkan biaya untuk perawatan koleksi buku. Cita-cita itu masih masih terpatri kuat di dalam benaknya hingga sekarang.

Buang Stereotip
Kian lama, Taman Bacaan Warabal dan perjuangan Kiswanti semakin dikenal masyarakat Lebak. Akhirnya, Kiswanti bertemu salah seorang staf Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mengajaknya untuk mengumpulkan buku dan juga mengenalkannya kepada kolega lainnya. Sejak itu, Kiswanti sering diajak ke Jakarta untuk mengunjungi pameran buku.

Pergi ke ibukota kini bukan hal mustahil lagi bagi dirinya. Seiring berjalannya waktu, koleksi buku Taman Bacaan Warabal yang pada awalnya berjumlah 250 koleksi, bertambah banyak hingga puluhan ribu koleksi.

Selain anak-anak, menurut Kiswanti, ibu-ibu juga gemar datang ke taman bacaannya untuk membaca buku keterampilan. Di taman bacaan itu pula, ibu-ibu dapat mempraktikkan seni keterampilan. Dari keterampilan itu, mereka dapat menghasilkan sebuah keuntungan ekonomis. Misalnya, menjual barang hasil karya keterampilan ke koperasi di kota.

Suatu penghargaan, Kiswanti dapat menarik warga untuk mau membaca buku di taman bacaan miliknya. Perempuan yang mulai mendirikan Taman Bacaan Warabal sejak umur 33 tahun ini menceritakan, para warga sekitar awalnya tidak mengetahui kalau membaca adalah sebuah kebutuhan.

“Mereka menganggap bahwa membaca itu hanya dapat dilakukan orang-orang kaya dan mewah. Karena itulah warga miskin tidak dapat membaca,” imbuhnya.

Kiswanti pun berupaya mendobrak stereotip itu. Ia kini membuktikan bahwa seluruh warga desanya sudah dapat membaca. Buku-buku itu pun disediakan tanpa memandang harta dan benda bagi mereka yang ingin membacanya.

Kiswanti mengaku, menumbuhkan minat baca pada warga itu membutuhkan waktu hingga sepuluh tahun. Sepuluh tahun berikutnya, masyarakat akan menyadari banyak efek dan manfaat yang didapat dari membaca buku.

“Intinya adalah menikmati semua proses yang ada,” tegas Kiswanti.

Waktu berpuluh-puluh tahun itu pun akhirnya tidak terasa. Tanpa sadar, Kiswanti sudah melewati berbagai liku perjalanan hidupnya yang ‘unik’ ini. Taman Bacaan Warabal yang pada awalnya berdiri hanya dihadiri lima anak, semakin lama semakin bertambah.

Anak-anak yang membaca buku di sana saling menceritakan satu sama lain tentang Taman Bacaan Warabal di sekolah hingga semakin berkembang menjadi sebuah bimbingan belajar semipermanen. Apabila ada anak-anak yang kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya, dapat ditanyakan di Taman Bacaan Warabal.

Selain itu, di taman bacaan itu juga diajarkan ilmu-ilmu agama, seperti ilmu Hadis, Al Quran, Fiqih, dan Marawis. Melihat perjuangan panjang yang ditunjukkan Kiswanti, tak sedikit keluarga dan tetangga yang turut mendukung kegiatan edukasinya itu.

Kiswanti mengaku, semangat memberikan pengetahuan lewat taman bacaan ini perlu diperluas. Karena itu, di Hari Aksara Internasional yang dirayakan setiap 8 September, ia berharap tidak sekadar peringatan seremonial. Kiswanti memiliki harapan agar semua unsur turun langsung dan memberantas buta aksara demi memajukan pendidikan.

Tak hanya pemerintah saja yang memiliki peran untuk memajukan pendidikan. Menurut dia, semua warga seharusnya dapat berkontribusi apa pun yang bisa diberikan untuk bangsa dan negaranya dan dengan cara apa saja. kps/dde

author