banner 468x60

Inilah Yang Terjadi Bila Ibu-Ibu Gaptek Gunakan Perangkat Online

379 views
iklan

ibu ngenetPenakita | SURABAYA – Berselancar di dunia maya kini bukan hal asing bagi masyarakat kita. Namun, sayang kegiatan yang membawa banyak manfaat itu belum dinikmati seluruh anggota masyarakat, khususnya mereka yang sudah tengah baya.

Kalangan dewasa berusia lanjut ini tanpa segan mengaku dirinya gaptek (gagap teknologi). Tetapi, mereka punya kemauan keras untuk belajar lebih baik demi menguasai penggunaan perangkat online.

“Kalau alamat imel itu maksudnya alamat rumah kita ya Pak?” celetuk lugu salah seorang ibu peserta pelatihan tentang bisnis online Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) pekan lalu. Kegiatan ini diikuti puluhan ibu yang selama ini menangani sejumlah bisnis di rumahnya.

Bisnis online, itulah yang coba dikenalkan pada mereka yang punya kemauan keras mencoba mengembangkan usahanya melalui dunia maya ini. “Saya kan punya usaha kos-kosan. Katanya, kalau dipromosikan lewat ini (internet) bisa laku keras,” celetuk lain salah seorang kader pemberdayaan masyarakat.

Salah seorang ibu lain yang di rumah punya usaha toko kebutuhan pokok juga ingin berjualan barang-barangnya lewat online. “Terus terang saya nggak pernah pegang alat ini. Memang anak-anak di rumah setiap hari pakai, tetapi saya tidak pernah tahu gimana menggunakannya sampai ada acara seperti ini. Tentu sangat membantu saya,” tutur ibu dua anak ini polos.

Setelah mendapat pengetahuan awal dari pembimbing pelatihan, janda yang berumur 44 tahun itu menyatakan bakal meminta anaknya untuk mendampingi saat berselancar di rumahnya nanti. “Ini pengalaman menarik. Nanti kalau pulang saya mau minta tolong anak-anak untuk mengajari internet,” tegasnya.

Memang tidak semua kader pemberdayaan masyarakat ini buta internet sama sekali. Ada sebagian lagi yang sudah mengenal cara browsing. Tetapi, lantaran belum mengetahui ‘main internetan’ ini bisa mendukung usahanya sehingga bisa dikenal masyarakat lebih luas, maka hal tersebut tak dilakukan secara intens.

“Sekarang sudah lupa lagi gimana buka imel. Jadi ya, harus belajar lagi,” ucap seorang ibu yang mengaku punya usaha jualan batik. Menurut ibu yang tinggal di Lidah Wetan ini, dagangannya itu bahkan sudah sampai ke Australia.

“Batik saya dijual langsung dari tangan ke tangan. Bahkan sudah laku sampai Australia, dibawa salah seorang anggota kami yang suaminya kerja di sana (Australia),” bebernya.

Kegiatan pelatihan yang dipandu tenaga pendidikan Ubaya itu tak cuma mengenalkan dunia maya, mulai dari membuat email, serta berselancar untuk menawarkan produk-produknya melalui internet. Kader pemberdayaan masyarakat ini diajarkan pula menggunakan kamera dengan baik untuk mendukung usahanya itu.

Foto-foto yang dihasilkan nantinya bisa diunggah ke internet. Selain itu, mereka diajari pula berbahasa Inggris agar nanti bisa berkomunikasi lewat internet dengan sesama penjual maupun pembelinya dari belahan bumi yang lain.

“Para peserta pelatihan ini sudah punya produk, tinggal dipasarkan saja. Itulah yang kami ajarkan caranya,” cetus Andre dosen Informatika Fakultas Teknik Ubaya. ari

author