banner 468x60

Jazz Gunung Tetap Akan Bertahan di Alam Terbuka

466 views
iklan

Jazz Gunung_PrasetyoPenakita | BROMO – Inilah sensasi Jazz Gunung. Disajikan di panggung terbuka dengan ancaman curah hujan turun setiap saat.

Dan terbukti, meski digelar di musim kemarau, pentas musik tahunan yang digeber selama dua hari (Jumat-Sabtu, 21-22/6/2013) di pelataran Java Banana Hotel itu sempat diguyur hujan pada hari pertama. Toh, penikmat musik bergeming. Mereka tetap menikmati acara hingga seluruh penampil usai membawakan komposisinya.

Pertunjukan memang sempat dihentikan panitia. Penonton bubar, sementara Sierra Soetedjo yang ketika itu giliran tampil pun terpaksa berteduh. Namun, tak lama. Begitu hujan reda, pertunjukan kembali berlanjut. Penonton kembali ke tempat duduknya, kursi kayu yang ditata rapi di salah satu bagian tebing Gunung Bromo.

Jazz memang sudah membius penikmat musik Tanah Air, khususnya anak-anak muda yang di pentas itu mendominasi kursi penonton. Mereka asyik menikmati lagu demi lagu yang dibawakan para bintang tamu.

Pertunjukan musik di alam terbuka ini memang jadi ciri khas Jazz Gunung yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2009. Karena itu, walau ada kendala hujan Sigit Pramono, sang penggagas acara tetap ingin mempertahankan ciri khas Jazz Gunung.

“Namanya juga Jazz Gunung, pastinya tetap digelar di gunung dan di alam terbuka seperti ini,” cetus Sigit Pramono.

Sigit menambahkan,”Sebenarnya bisa dipasang tenda yang besar. Saya bisa buatkan gedung di sini, tapi apa bedanya dengan jazz yang diadakan di Jakarta atau di tempat lainnya yang di dalam ruangan.”

Komisaris BCA ini menekankan, sampai kapanpun Jazz Gunung tetap digelar di alam terbuka. Konsep Jazz Gunung, kata Sigit, adalah ketika orang datang ke Bromo tidak hanya menikmati pesona matahari terbit.

Semakin lama wisatawan singgah di Bromo, lanjut Sigit, pendapatan masyarakat sekitar juga akan bertambah karena semakin banyak wisatawan memanfaatkan jasa yang disediakan oleh penduduk lokal. Di pentas kali ini, Jazz Gunung diwarnai kreasi seni instalasi karya seniman Yani Mariani Sastranegara. Selain instalasi seni bambu karya seniman bambu asal Yogyakarta, Novi.

Venue Jazz Gunung kali ini banyak berubah. Venue yang dikemas dalam bentuk amphiteater diharapkan lebih banyak menampung pengunjung dan memberikan kenyamanan. Penataan ini memang makin mendekatkan para artis penampil di panggung dengan para penontonnya.

Sengatan hawa dingin ketika malam menjelang pun jadi tantangan tersendiri. Tak hanya buat penonton, tetapi juga para penampilnya. Namun, sekali lagi, mereka tetap antusias dan semangat memberi yang terbaik buat jazz mania.

Selain Sierra Sutedjo yang sempat berkolaborasi dengan Idang Rasyidi, sederet nama yang sudah tak asing menghiasi panggung Jazz Gunung 2013. Misalnya, Balawan dengan Batuan Ethnic Fusionnya. Musisi Bali ini tampil dinamis dengan menghadirkan istrinya dan sempat pula berjam session bareng beatbox bule asal amerika

Duo MC Alit & Gundhi dan Butet Kartarajasa yang memandu acara membuat suasana benar-benar penuh gelak tawa, hangat dan akrab ini. Atmosfer kian hangat ketika Yovie fusion project tampil penuh improvisasi di pentas tersebut. Artis lain yang tampil berikutnya adalah Rieka Roeslan, Barry Likumahua, dan Bandanaira. yok

author