banner 468x60

Kanji Cup Tantang Peserta Jawab Soal Pakai Imajinasi, Djodjok Soepardjo : Belajar Kanji Seperti Belajar Seni

iklan
Peserta Kanji Cup adu kecepatan menjawab setiap pertanyaan dari juri,

Penakita | SURABAYA – Sebanyak 152 peserta Kompetisi Kanji Cup ke-17 yang diselenggarakan di di Auditorium Wiyata Mandala Gedung LP3M Lantai 9, Universitas Negeri Surabaya, Sabtu (2/3/2019), tampak antusias merespons setiap tantangan yang diberikan pada mereka.

Acara yang diselenggarakan sejak pukul 09.00 tersebut berlangsung seru karena di setiap babak peserta dihadapkan pada beragam jenis soal dan cara menjawab yang berbeda pula.

Peserta yang terdiri dari mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa dan Bali ini terbagi dalam kelompok yang masing-masing terdiri dari dua orang. Mereka menjalani tes kemampuan yang terdiri dari dua katagori, yakni level dasar atau shokyu perorangan, serta level menengah atau chukyu.

Pada level dasar misalnya, peserta perorangan diseleksi dengan sistem mengangkat tanda maru-batsu atau benar-salah, serta pilihan ganda. 

Ketika masuk babak final, peserta pada level dasar ini diberi tantangan yang lebih sulit, yakni menjawab soal-soal dengan sistem adu cepat.

Bahkan ada babak saat mereka harus menjelaskan maksud kanji yang tertera di soal menurut pemahaman mereka dengan mengunakan bahasa Jepang.

Berbeda dengan level dasar, pada level menengah peserta yang juga terdiri dari kelompok dua orang ini menjalani pertandingan tanpa menggunakan sistem maru-batsu dan pilihan ganda.

Mereka langsung menjawab adu cepat dengan memencet bel di depan masing-masing. Berikutnya, mereka harus menjawab makna kanji yang tertera di soal mengunakan bahasa Jepang.

Kompetisi tahunan yang diadakan oleh International Multicultural Center sejak 2002 ini selalu menarik perhatian bagi mereka yang belajar bahasa Jepang. “Seru dan menyenangkan. Kompetisinya bikin peserta seperti bermain games,” kata Kadek Pendi Pranata, salah seorang peserta dari STIBA Saraswati, Bali.

Masaki Tani, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya yang hadir dalam acara tersebut mengakui bahwa berbagai pola dalam kompetisi Kanji Cup itu dimaksudkan agar para pembelajar bahasa Jepang dapat menikmati belajar kanji layaknya bermain game.

“Saya berharap Kanji Cup hari ini dapat meningkatkan motivasi belajar bahasa Jepang dan ketertarikan pada Jepang, serta dapat pula mempererat hubungan antara kedua negara,” tuturnya.

Ditemui usai kompetisi, Prof Dr Djodjok Soepardjo M.Litt, Direktur IMC Center mengutarakan bahwa sesungguhnya kanji itu tak semengerikan atau sesulit kelihatannya. Baginya, dalam belajar kanji, otak kanan yang bekerja, sama seperti ketika belajar seni.

“Karena sama dengan seni, maka ibaratkan kanji itu sebagai gambar yang menyerupai bentuk tertentu. Kalian harus menggunakan imajinasi untuk memahaminya,” tegas Djodok yang juga Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Universitas Negeri Surabaya. sum

author