Kenalkan Dunia Kemaritiman Lewat Limbah Laut

limbah laut_ITS

Dari limbah laut mahasiswa ITS ini menghasilkan karya yang bernilai jual

Penakita | SURABAYA – Limbah laut sudah lama diincar para nelayan dan masyarakat di sekitar pantai untuk dijadikan suvenir. Kini, mahasiswa ITS juga menjadikan kekayaan laut itu sehingga bernilai jual.

Sumarlin, mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan ITS menyatakan, ide pemanfaatan limbah laut ini muncul ketika dia mengerjakan tugas berbagai bentuk bangunan kelautan seperti pelindung pantai ataupun anjungan. “Dari tugas ini kami lalu berpikir untuk membuat bangunan yang lebih kecil seperti miniatur sekaligus kerajinan tangan yang bernilai jual,” begitu paparnya.

Ditambahkan, untuk menunjang idenya ini, Sumarlin bersama kedua temannya, Riza Inayah dan Millatur Rodliyah lalu jalan-jalan ke daerah Kenjeran untuk melihat kerajinan tangan lain yang terbuat dari hasil laut. Akhirnya, mulailah dia membuat konsep yang diberi nama Marine Shop Art (MSA).

“Kebetulan bentuk dan bagian-bagiannya kan sudah dapat ilmunya dari kuliah, jadi tinggal menyesuaikan dengan bahannya saja,” ujarnya.

Antusiasme Marlin dan teman-temannya semakin tinggi ketika mereka melihat produk kerajinan hasil laut banyak diminati. aneka kerajinan dari bahan lain bernuansa laut seperti miniatur kapal dari kayu dan kertas pun laku di pasaran.

“Produk iniĀ  juga sebagai bentuk pengenalan dunia kemaritiman kepada masyarakat,” ujar warga Keputih Surabaya ini.

Menurut Sumarlin, bahan-bahan kerajinan ini dipasok dari daerah Kenjeran. Bahan dengan murah itu lalu mereka olah menjadi produk bernilai tinggi. Meski demikian, dia tidak mematok untung terlalu besar untuk produknya. Besarnya harga tergantung model dan sulitnya pengerjaan.

Salah satu karya Sumarlin dan kawan-kawannya adalah replika anjungan minyak lepas pantai. Replika yang dibungkus kaca bening itu terlihat cukup unik. Bagian tangganya terbuat dari kayu seukuran tusuk sate.

Dibagian dek terdapat pasir putih. Kemudian pinggirannya dari keong kecil-kecil dan di menaranya ada akar-akaran laut yang sudah membatu.

Selain replika minyak lepas pantai, mahasiswa semester akhir Ini juga membuat bentuk lain seperti replika kapal barang, kapal selam, replika estuari kelautan, replika pantai dan miniatur armor unit atau pelindung pantai.

Untuk produk seperti anjungan lepas pantai ini dijual mulai harga Rp 35.000 untuk yang kecil dan Rp 50.000 yang berukuran besar. Produk-produk ini baru dibuat ketika ada pesanan.

“Pemesan umumnya berasal dari wilayah Surabaya dan sekitarnya karena pemasarannya baru sebatas dari mulut ke mulut,” bebernya.

Sumarlin ingin produk dari limbah itu bisa berkembang. Paling tidak bisa dipasarkan via online atau bahkan memiliki outlet yang khusus menjual kerajinan hasil laut.

Hanya saja keinginannya itu harus ditunda dahulu karena dua rekannya kini masih menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. “Selesai skripsi pasti akan kami kembangkan lagi,” pungkasnya. adi