banner 468x60

Kini, IQ Saja Tidak Cukup Tentukan Kesuksesan Individu

528 views
iklan
Ilustrasi

Ilustrasi

Penakita | JAKARTA – Di zaman modern, ketika tuntutan kompetensi makin beragam, masihkah IQ memiliki korelasi dengan kemampuan membuat strategi perusahaan, problem solving dan kreativitas?

Selama ini banyak orang berpendapat, individu yang memiliki IQ tinggi adalah sosok yang smart. Angka IQ tinggi sering membuat seseorang dianggap ‘smart’, meski sebetulnya dia terlihat culun dan telmi (telat mikir).

Adakah yang salah dengan pengukuran IQ? Jawabnya adalah ‘tidak’! Penggunaannya sebagai parameter pun tidaklah keliru.

Berbagai riset jelas menunjukkan IQ punya peran signifikan terhadap kinerja individu di tempat kerja. Namun, kita memang perlu berhati-hati dalam melakukan interpretasinya. IQ mengukur kemampuan general untuk memecahkan masalah.

Di tempat kerja, ada parameter lain yang tak bisa dielakkan turut menentukan kesuksesan seseorang menuntaskan kendala-kendala yang dihadapi. Pencarian dan perolehan informasi baru, mengambil pelajaran dari kegagalan, menemukan jalan keluar unik, serta kreativitas menciptakan terobosanlah yang semakin menjadi hal kritikal.

Untuk menuntaskan masalah yang dihadapai, individu perlu mengerahkan kemampuannya secara menyeluruh. Sementara dunia kerja sekarang menuntut individu menunjukkan kemampuan untuk melepaskan diri dari kekakuan rumus-rumus, logika statis, dan juga mempersyaratkan “think outside the box”. Di sinilah tampaknya batasan kemampuan pengukuran IQ seseorang.

Cara individu memproses inteligensinya juga berpengaruh terhadap kinerja kognitifnya. Itu sebabnya, jangan heran bila sebuah studi terhadap para pimpinan perusahaan menemukan angka IQ mereka tidak terlalu hebat, tetapi para direksi ini terbukti kinerjanya sangat cemerlang. dde/kps

author