• Home »
  • Aktualita »
  • Kobaran Semangat Kepahlawanan Cak Durasim, Anak-Anak Ini Siap Ditangkap Tentara Jepang

Kobaran Semangat Kepahlawanan Cak Durasim, Anak-Anak Ini Siap Ditangkap Tentara Jepang

Penakita | SURABAYA – ‘Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro.’ Itulah kidungan yang selalu digemakan Cak Durasim di masa penjajahan Jepang.

Gara-gara parikan itu pula, Cak Durasim diburu oleh para tentara Jepang. Namun, semangat juang arek Petemon ini tak pernah surut, meski kemudian dia harus berakhir di atas panggung ludruk karena dibunuh tentara Jepang.

Itulah penggalan kisah ‘Cak Durasim Sang Pahlawan’ yang bakal ditampilkan seniman ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara di Gedung Balai Budaya, Kompleks Balai Pemuda pukul 19.00, Minggu (13/5/2018).

Pada hari yang sama, pukul 09.00 kelompok kesenian ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara juga menyajikan kisah patriotik berjudul ‘Bung Karno Sang Proklamator’. Dua pertunjukan kesenian ludruk ini digelar untuk memperingati ulang tahun ke-725 Kota Surabaya.

“Spirit kepahlawanan dari dua tokoh inilah yang ingin saya sampaikan kepada penonton, terutama para generasi muda,” kata Meimura, sutradara sekaligus penulis cerita dua pertunjukan tersebut.

Melalui pementasan ludruk, lanjut Meimura, Cak Durasim menjawab propaganda tentara Jepang bahwa kehadiran mereka adalah sebagai saudara tua rakyat Indonesia yang tak perlu dikhawatirkan dan ditakuti. Karena mereka, menurut propaganda itu, tidak sama dengan Belanda atau negara-negara lain yang berniat menguasai Indonesia.

Tetapi, Cak Durasim selalu menggemakan bahwa Jepang sama saja dengan Belanda. “Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro (Bekupon rumahnya burung dara, ikut Jepang tambah sengsara),” begitulah kidungan Cak Durasim yang membuat tentara Jepang marah.

Maka Cak Durasim pun diburu tentara Jepang sampai ke pelosok-pelosok kampung. Ternyata seluruh arek Suroboyo sepakat melindungi Cak Durasim dan rela mengaku dirinya sebagai Cak Durasim setiap ditanya oleh tentara Jepang.

“Itulah militansi arek Suroboyo terhadap Cak Durasim. Semuanya ngaku dirinya Cak Durasim, semata agar Cak Durasim terlindungi dan bebas dari kejaran tentara Jepang,” ungkap Meimura.

Cak Durasim sempat ditangkap dan dimasukkan penjara. Tak hanya itu, selama di balik jeruji besi, Cak Durasim mendapat siksaan dan dilarang main ludruk.

“Tetapi Cak Durasim bukan seniman biasa. Dia seniman yang paham cita-cita bangsanya. Maka begitu keluar dari penjara Jepang, dia tetap main ludruk. Terus mengobarkan semangat arek Suroboyo, terus menyadarkan masyarakat agar melakukan perlawanan pada Jepang,” kata Meimura.

Amarah tentara Jepang pun kian memuncak. Jepang akhirnya berhasil menangkap dan langsung mengeksekusi seniman ludruk tersebut. “Cak Durasim diakhiri di atas panggung, yang lokasinya sekarang dipakai Gedung Kesenian Cak Durasim itu,” tegasnya.

Seperti kisah Bung Karno Sang Proklamator, cerita Cak Durasim Sang Pahlawan juga didukung belasan anak-anak. Mereka yang berperan sebagai Cak Durasim cilik ini antara lain, Sutris, Panji, Gibran, Damar, Rio, dan Arie Setiawan. din