banner 468x60

Kuisioner Uji Kesehatan Bagi Murid SMP Timbulkan Pro-Kontra. Ini Alasan Kemenkes!

iklan

kuesioner di aceh22Penakita | SLEMAN – Kuisioner yang meminta siswa mengisi ukuran alat kelamin mereka (untuk siswa laki-laki) dan ukuran payudara (bagi murid perempuan) ternyata tak cuma ditemui di Kota Sabang, Aceh. Kuesioner serupa juga dibagikan kepada siswa di wilayah Sleman, Jawa Tengah.

Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menampik ditampilkannya gambar-gambar itu merupakan bentuk pornografi karena gambar ditampilkan untuk mempermudah siswa menjawab pertanyaan tes kesehatan reproduksi.

Dinkes Kabupaten Sleman minta masyarakat tidak resah atas peredaran kuesioner tersebut. Pasalnya, selain bersifat rahasia kuesioner itu juga sudah melalui kajian berbagai Kementerian termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan juga Kementerian Agama.

Terpisah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan aturan pembuatan kuisioner itu sudah masuk dalam buku Pedoman Petunjuk Teknis (juknis) Penjaringan Kesehatan Tingkat Anak Sekolah Lanjutan milik Kemenkes. Daftar isian mengenai ukuran alat kelamin itu tercantum di halaman 42 dan 43.

“Buku ini buatan Kementerian Kesehatan,” kata Jane Soepandi, Direktur Bina Kesehatan Anak Kemenkes.

Menurut Jane, buku maupun kuisioner yang beredar tidak memiliki muatan pornografi. “Gambar scientific bukan pornografi dan gambar dari hasil sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui pubertas dari remaja tersebut,” ucapnya.

Alasan pemberlakuan kuesioner itu, lanjut Jane, adalah sebagai langkah preventif bagi siswa agar dapat mengetahui kesehatan dirinya sendiri. Apalagi, siswa SMP itu sudah masuk dalam masa pubertas yang memiliki risiko untuk merokok, minuman beralkkohol, dan seks di luar nikah.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2007, sebanyak 24,4 persen remaja yang minum alkohol di bawah 14 tahun dan 29,2 persen 15 sampai 19 tahun. “Usia itu merupakan periode penting untuk anak mengetahui perkembangan reproduksinya,” papar Jane.

Prosedur pemeriksaan kesehatan yang dilakukan untuk mengetahui anak tersebut sehat atau mengalami kelainan pubertas. “Dalam penjaringan kesehatan terdapat kuisioner yang tertera gambar terkait pertanyaan reproduksi, hal ini membantu para petugas kesehatan mengarahkan agar siswa punya perilaku yang sehat sepanjang hidupnya,” papar Jane.

Menurutnya penjaringan kesehatan ini menjadi wajib dilakukan setiap SMP saat memasuki ajaran baru. Kegiatan ini selain melindungi siswa dari masalah berisiko dan memudahkan para petugas kesehatan mengetahui masalah reproduksi anak.

Jane mengakui kurangnya sosialisasi menyebabkan kuisioner itu menjadi isu yang kurang mengenakkan. “Penjaringan ini rutin bagi setiap anak masuk saat tahun ajaran dan ini khusus anak kelas 1 yang baru masuk,” ungkapnya.

Ditambahkan pula, kuisioner tersebut baru uji coba di enam daerah, yaitu di Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Aceh, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Karena kuisioner ini berkembang dan menimbulkan pro kontra, Jane mengaku pihaknya akan mengevaluasi buku itu dengan mengundang instansi terkait seperti akademisi, KPAI, pengamat pendidikan, guru, dan orangtua Siswa. dde/adi

author