banner 468x60

Kurikulum 2013 Bikin GTT Kehilangan Jam Mengajar

354 views
iklan

Kurikulum_ 2013Penakita | SURABAYA – Kurikulum 2013 membawa ‘korban’. Karena ada pengurangan mata pelajaran tertentu, akibatnya ada sekolah yang terpaksa mengurangi jumlah guru tidak tetap (GTT) lantaran berkurangnya jam mengajar guru tersebut.

Posisi GTT kian sulit ketika Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya melakukan mutasi massal pada Juli lalu. Dan sejumlah sekolah mendapat tambahan guru PNS lebih banyak dari sebelumnya.

“Akibatnya jam pelajaran saya diambil alih guru PNS yang baru masuk, sehingga saya malah nggak kebagian jam mengajar,” cetus salah seorang guru di SMK Negeri 4 Surabaya.

Informasi yang diperoleh PENAKITA.com menyebutkan, ‘korban’ Kurikulum 2013 ini menimpa guru pada hampir semua mata pelajaran (mapel). “Saya yang semula empat jam seminggu tinggal dua jam. Rata-rata pengurangan berkisar separuh jam mengajar dari sebelum kurikulum baru diberlakukan,” tutur seorang guru mapel IPA.

Akibatnya, guru-guru ini pun kelabakan mencari sekolah pengganti untuk bisa memenuhi jam mengajarnya. “Jadi sekarang saya harus mengurus pindah NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dan mencari sekolah lain untuk menerima saya mengajar,” paparnya.

Ketika dikonfirmasi, Dr Ikhsan MPd, Kepala Dindik Surabaya menyatakan bakal meminta laporan dari sekolah-sekolah di wilayahnya terkait keberadaan GTT. “Kami akan data sekolah mana yang kekurangan guru atau sebaliknya,” kata Ikhsan.

Dari data itu, lanjut Ikhsan, akan memudahkan pihaknya untuk menempatkan guru sehingga bisa kembali mengajar sesuai jam yang ditentukan. ”Apalagi GTT yang sudah lama, tentu menjadi perhatian kami,” tandasnya.

Pernyataan senada diungkapkan Yusuf Masruh, Kepala Bidang Ketenagaan Dindik Surabaya. Informasi dari sekolah-sekolah ini akan memudahkan pihaknya menempatkan guru di tempat yang baru. ”Tentu ada pertimbangan khusus untuk bisa memindahkan guru itu. Misalnya guru perempuan, sebisa mungkin dipindah ke sekolah yang dekat rumahnya. Jadi jangan memaksa untuk tetap di sekolah asal,” ungkapnya.

Ditegaskan Yusuf, meski guru GTT sepenuhnya tanggungjawab sekolah yang mengangkatnya, pihaknya tidak akan lepas tangan. Pria yang akrab disapa Ucup ini mempersilakan GTT yang kehilangan jam mengajarnya untuk menemui dirinya.

“Kami akan upayakan mencarikan sekolah yang sanggup menampung mereka. Tidak harus sekolah setingkat misalnya SMA harus ke SMA. Bisa juga mereka dipindah ke SMP atau SD,” pungkasnya. ari

author