banner 468x60

Lolos Wakili Universitas Brawijaya di Lomba Pidato Tingkat Jatim, Adhe Mengaku Alami Kesulitan Fokus pada Dua Hal Ini

iklan
Masaki Tani, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya (dua dari kiri) bersama para pemenang Lomba Pidato Bahasa Jepang yang kali ini diadakan di Kampus Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. (foto: Lintang Suminar K)

penakita.com | SURABAYA – Berorasi di depan para juri dan penonton menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta Lomba Pidato Bahasa Jepang. Belum lagi harus menyampaikan pidatonya dalam bahasa Jepang selama kurang lebih 5-7 menit tanpa melihat teks.

Ketegangan itu pula yang tampak pada peserta saat orasi bahasa Jepang tingkat regional ke-40 yang kali ini digelar Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya di Graha Wiyata UNTAG (Universitas 17 Agustus), Sabtu (22/06/2019).

Tak sedikit peserta yang gugup dan demam panggung. Ada pula yang melakukan inisiatif unik untuk mengusir ketegangan, diantaranya menyanyikan sebait lagu, mengutip cerita lucu dengan sedikit berakting saat pidato.

Baca Juga : http://penakita.com/cara-berpidato-menarik-tetapi-masaki-tani-pesan-sebaiknya-peserta-pilih-tema-umum-begini-alasannya/

Untuk menyuguhkan sebuah pidato yang sempurna tentu memerlukan proses yang tidak mudah, terkadang diperlukan sedikit pengorbanan dan kerja keras. Adhe Putri Nur Wahyudi Ansyah misalnya, mengaku banyak tantangan saat menyiapkan materi untuk lomba pidato ini.

Mahasiswi Sastra Jepang tahun ketiga Universitas Brawijaya Malang yang akrab disapa Adhe ini menyatakan sudah melakukan persiapan sejak bulan Maret 2019. Perjalanan panjang ikut lomba pidato ini ditegaskan Adhe terbantu oleh program khusus di kampusnya.

“Di kampus ada seleksi khusus bagi yang ingin mengikuti lomba ini. Kami harus mengumpulkan naskah untuk diseleksi. Kemudian dipilih dua orang saja yang mewakili Universitas Brawijaya Malang,” paparnya.

Disamping itu, lanjut Adhe, ada drill lagi setiap hari untuk memperbaiki naskah, cara bicara, manner ketika berpidato, dan hal lain secara mendetil. 

Adhe tak menampik bahwa dalam proses persiapan beberapa bulan sebelumnya ia sempat mengalami kesulitan. Mahasiswa yang juga aktif di beberapa kegiatan di kampusnya ini menuturkan dirinya harus membagi fokus antara persiapan lomba pidatonya dengan acara yang sedang diikutinya di kampus pada bulan April lalu.

“Acara di kampus diadakan bersamaan dengan persiapan seleksi lomba pidato yang diadakan oleh dosen di kampus. Saya mengalami kesulitan untuk berbagi fokus agar kedua hal itu tetap berjalan dan berhasil,” ungkapnya.

Mengenai tema pidato yang dia bawakan, Adhe sengaja memilih tema yang baginya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yakni ‘kejujuran’. Adhe menilai saat ini, di kampus sendiri, banyak mahasiswa yang tidak jujur dalam ujian.

“Jika ini tidak dikoreksi oleh diri sendiri, tentu memberikan dampak lebih besar di kemudian hari,” cetus Adhe yang berhasil terpilih sebagai Juara 2.  

Dalam tema pidato bertajuk ‘Kejujuran adalah Harta Seumur Hidup’, Adhe turut menyelipkan ungkapan Jawa ‘Wong Jujur Bakal Mujur’ dan mengaitkannya dalam fenomena yang terjadi dalam kehidupannya.

“Bagi saya, hal yang kecil seperti kejujuran, jika dibiasakan mulai dari sekarang akan membawa berkah yang luar biasa bagi kehidupan kita nantinya,” katanya dengan ekspresi sumringah. sum

author