banner 468x60

Lulusan SMK Hadapi Tantangan Besar 2 Tahun Mendatang

425 views
iklan

Sugiono_1536_Ka SMK N 1 sbaya_penakitaPenakita | SURABAYA – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini menjadi andalan pemerintah untuk menyerap tenaga-tenaga terampil yang siap bersaing di dunia kerja. Seberapa besar kemampuan daya saing pelajar SMK? Dan apa pula yang menjadi tantangan lulusan SMK? Berikut wawancara khusus PENAKITA.com dengan Drs Sugiono MPd, Kepala SMK Negeri 1 Surabaya yang juga Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Jawa Timur.

Menurut Sugiono, SMK di Jawa Timur antara lain terbagi atas jurusan teknik yang jumlahnya sekitar 136 sekolah, bisnis manajemen (36), dan pariwisata (18). Dan murid SMK punya kesempatan kerja di banyak bidang industri sesuai jurusan yang mereka pilih.

Masalahnya, lanjut Sugiono, lapangan kerja tak selalu berbanding lurus dengan angka lulusan SMK. “Rasio jumlah kelas dan lapangan kerja sangat menentukan seberapa besar lulusan SMK yang bisa terserap ke dunia kerja,” tandasnya.

Diakui Sugiono, lulusan SMK yang terserap ke dunia kerja masih sekitar 5-6 persen. “Kalau ada lulusan SMK tidak terserap ke dunia kerja bukan lantaran mereka tidak bermutu. Namun, karena pasar kerjanya yang minim. Masih banyaknya pengangguran saat ini karena kurangnya lapangan kerja,” ujarnya.

Ditambahkan pula, lulusan SMK tidak harus langsung kerja. “Selain yang langsung kerja, sebagian lulusan SMK ada pula yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dan yang lainnya berwiraswasta,” papar Sugiono.

Karena itu, setiap siswa SMK dibekali ilmu kewirausahaan. “Ini untuk mengantisipasi minimnya lapangan kerja, jadi mereka harus bisa mandiri dengan ketrampilan yang mereka miliki,” katanya.

Terkait penyerapan lulusan SMK ini, ditekankan Sugiono, setiap sekolah dituntut punya mitra kerja sebagai representasi pendidikan sistem ganda yang dianut SMK. Jadi selain pemantapan ilmu di sekolah mereka selanjutnya mengaplikasikannya di dunia kerja yang jadi mitra sekolah masing-masing.

“Istilahnya prakerin (dulu praktek kerja lapangan/PKL), yaitu prakterk kerja industri yang dijalani selama enam bulan,” paparnya.

Tingkatkan Mutu SDM Hadapi AFTA
Tantangan dan juga sekaligus peluang lulusan SMK adalah Asean Free Trade Area (AFTA) yang diberlakukan pada dua tahun mendatang. Guna menembus pasar kerja di negeri tetangga inilah, semua pengelola SMK dituntut meningkatkan mutu lulusannya.

“Tantangan saat ini tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga bagaimana bisa bersaing di pasar global,” tandas Sugiono.

Dengan pemantapan kualitas sumber daya manusia ini, masih kata Sugiono, diharapkan Indonesia bisa mengirimkan lulusan SMK sebagai tenaga kerja tingkat menengah. “Kita harus bisa bersaing dalam penyiapan tenaga kerja terampil lulusan SMK ini,” ujarnya. ari/adi

author