banner 468x60

Mahasiswa Ini Ciptakan Cara Bercocok Tanam Modern

533 views
iklan
Farika, mahasiswa Ubaya

Farika, mahasiswa Ubaya

Penakita | SURABAYA – Hobi bercocok tanam atau berkebun, tapi tak ada lahan untuk menyalurkannya? Farika, mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) punya solusinya. Mahasiswa kreatif yang satu ini menciptakan inovasi karya berupa urban gardening. Yakni cara bercocok tanam modern bagi masyarakat urban di kota metropolitan seperti Surabaya ini.

Terinspirasi dari ritme hidup masyarakat urban di kota-kota besar, dan berawal dari hobinya bercocok tanam, Farika menciptakan inovasi karya unik. Mahasiswa jurusan Desain Manajemen Produk ini menciptakan urban gardening, yakni cara bercocok tanam modern.

Karyanya ini merupakan solusi tepat bagi masyarakat urban yang memiliki hobi bercocok tanam, namun tak ada lahan dan wadah menyalurkannya. Di kota besar yang begitu padat penduduk, tentu tak banyak tersedia lahan kosong untuk sekadar bercocok tanam.

Apalagi, bagi masyarakat urban yang tinggal di apartemen atau kos-kosan. Tentu menjadi suatu hal yang mustahil menyalurkan hobinya itu.

“Dengan Urbtion ini, kita bisa menyalurkan hobi menanam bunga, tanpa perlu repot memikirkan lahannya. Karena Urbtion ini juga tak banyak memakan lahan. Saya berusaha menciptakan produk ini dengan seefisien mungkin,” tutur Farika kepada PENAKITA.com, Minggu (17/3/2013).

Remaja berparas ayu ini menjelaskan, Urbtion karya hebatnya ini dilengkapi berbagai perlengkapan bercocok tanam. Mulai dari gardening pot, planting tool, watering tool, gardening gloves, hingga dispenser tool.

Karya ciptaan Farika ini hanya menelan biaya Rp 3 juta, dan memakan waktu selama enam bulan. Dengan biaya yang tidak terlalu mahal, Farika ingin memproduksinya secara massal sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

“Proses pembuatannya juga tidak lama. Dari mulai konsep sampai pengaplikasiannya ini terhitung cepat kok. Cuma sekitar enam bulan. Kalau bisa dan memungkinkan dari segi modal dan tenaga, inginnya sih diproduksi massal. Karena produk ini juga memiliki nilai jual ekonomis dan manfaatnya yang banyak. Kalau diproduksi massal mungkin biaya jualnya hanya Rp 800 ribu,” tukas Farika. ika

author