banner 468x60

Mahasiswa Ini Sukses Bikin Film dengan Ending Sesuai Keinginan Penontonnya

iklan

logo Universitas-Surabaya_resizePenakita | SURABAYA – Film dengan ending sesuai keinginan penonton? Inilah pertama kalinya hadir sebuah film yang endingnya bisa disesuaikan kemauan penontonnya.

Berkat film interaktif berdurasi 25 menit tersebut, Aditya Bonaficio Calderon, mahasiswa Program Studi Multimedia, Fakultas Teknik, Universitas Surabaya (Ubaya) meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,579.

Close Call, film karya mahasiswa yang akrab disapa Bona ini memang bisa menjamin tak akan membuat penontonnya kecewa lantaran alur cerita atau akhir ceritanya tidak sesuai yang diharapan. Memang tak mudah untuk membuat film seperti itu. Karena cukup rumit, Bona butuh waktu hingga satu tahun untuk menyelesaikan film interaktif tersebut.

Sulung dari tiga bersaudara ini memaparkan, enam bulan pertama dia habiskan untuk melakukan riset mengenai program yang akan dipakai. “Awalnya saya memakai program adobe flash, ternyata tidak bisa. Akhirnya saya pakai visual basic untuk bahasa dan program software saya gunakan visual studion,” demikian ungkapnya.

Setelah menemukan teknologinya, Bona pun mulai menyusun jalannya cerita. Ada empat draft cerita yang diajukan ke dosen pembimbingnya, tetapi hanya dipilih satu cerita yang tidak cukup rumit karena nantinya dibuat percabangan ceritanya.

Sedang untuk proses syuting, mahasiswa yang berdomisili Malang ini perlu dua bulan mulai dari menentukan pemain, lokasi syuting dan pengambilan gambar.

Menurut Bona, teknik memilih alur cerita sesuai keinginan penonton ini terinspirasi sebuah film buatan Jerman yang menggunakan telepon seluler sebagai ‘tombol’ untuk memilih jalan ceritanya. Namun, film tersebut hanya dapat diputar di satu tempat.

Sedang film karyanya yang menggunakan suara untuk menentukan alur cerita ini sifatnya portable. “Bisa diputar di PC atau laptop yang menggunakan sistem OS wondows 7 terinstal .net. Untuk interaktif antara penonton dan aktor menggunakan microfon yang disambungkan ke computer PC atau laptop tersebut,” bebernya.

Jawab Melalui Microphone
Close Call menceritakan persahabatan dua mahasiswa yang menjadi korban perampokan saat mereka berjalan bersama. Tas berisi dokumen beasiswa ke luar negeri mereka dirampas penjahat. Salah satu diantara mereka terluka setelah berusaha mempertahankan tas tersebut.

Di sinilah penonton diajak berinteraksi oleh pemain utama untuk menentukan apakah dia harus menolong temannya atau mengejar perampok. Untuk memilihnya, penonton tidak perlu memencet tombol tertentu. Tetapi cukup menjawab melalui microphone yang terkoneksi ke film, alur cerita selanjutnya berjalan otomatis.

Interaksi antara pemain dengan penonton ini terjadi tujuh kali dalam satu film. Dan, jawaban yang berbeda-beda itu memungkinkan percabangan alur ceritanya.

Bona membuat lebih dari empat percabangan cerita dari film yang dimainkan teman-temannya ini. Percabangan itu akan bermuara pada empat ending yang berbeda-beda.

Diantaranya, temannya terselamatkan dan dia akhirnya berangkat ke luar negeri atau perampoknya tertangkap, dan diadili di pengadilan tetapi temannya tewas. “Ending ini tergantung dari percabangan cerita yang dipilih penonton,” tuturnya.

Lewat film close Call ini, Bona berharap penonton bisa merasakan emosi yang disajikan di filmnya. “Di sini saya ingin ada komunikasi antara film dan penonton sehingga benar-benar bisa dirasakan,” cetus lelaki kelahiran Surabaya, 18 mei 1991 ini.

Bona berharap film seperti karyanya itu bisa menjadi sarana hiburan masa depan. Sebab film buatan anak pasangan Heryanto Wirohadi-Merliana ini mampu menjembatani antara dunia nyata dan maya.

Meski begitu, Bona yang berencana menggeluti dunia perfilman usai lulus dari Ubaya ini mengaku belum puas atas karya perdananya tersebut. Ada beberapa kekurangan yang ingin dia sempurnakan. Diantaranya adegan interaktif dalam film yang masih terbatas pada satu kata seperti ya, tidak, kanan, kiri dan hei.

“Nantinya total interaktifnya bisa diperbanyak, tidak hanya tujuh seperti saat ini,” ucap Bona. ari

author