• Home »
  • Headline »
  • Mahasiswa ITS Manfaatkan Serat Tebu sebagai Pengganti Semen, Simak Prosesnya Seperti Ini

Mahasiswa ITS Manfaatkan Serat Tebu sebagai Pengganti Semen, Simak Prosesnya Seperti Ini

Proses pengujian beton yang menggunakan serat tebu sebagai pengganti semen.

Penakita | SURABAYA –  Bikin bangunan dengan bahan beton dari serat tebu? Temuan baru ini dipapar lewat penelitian dan proses uji coba yang dilakukan mahasiswa Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Melalui terobosan barunya, Dzikrie Fikrian Syah didukung dua temannya M Rifat Hidayat dan Verdi Arya Rahaditya berhasil membuktikan bahwa serat tebu bisa dipakai sebagai pengganti semen. Hasilnya, dipastikan bahwa kuat tarik beton yang mengusung inovasi beton geopolimer ini melebihi beton konvensional.

“Serat tebu dipilih sebagai pengganti semen dengan pertimbangan bahan bakunya mudah didapatkan. Selain itu, kerapatan massa yang rendah membuat serat tebu ini lebih mudah untuk diolah,” kata Dzikrie Fikrian Syah.

Mahasiswa asal Jombang itu menambahkan,“Kami ingin bisa memanfaatkan limbah pabrik gula, terlebih karena kuat tarik dari serat tebu ini ternyata cukup tinggi dan juga tahan karat.”

Dzikrie yang tergabung dalam Tim Sang Makarya bersama M Rifat Hidayat dan Verdi Arya Rahaditya membuat beton dengan mencampur pasir, kerikil dan fly ash di mesin pengaduk beton. Setelah itu, mereka menambahkan larutan aktivator ke dalam campuran tersebut.

“Aktivator ini kami buat dengan melarutkan natrium silikat dan natrium hidroksida di wadah nonlogam,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, serat tebu kemudian ditambahkan dengan perbandingan bahan yakni satu persen fly ash; dua persen kerikil; 0,86 persen pasir; 1,43 persen NaOH; 0,17 persen NaSiO3; dan 0,26 persen serat tebu.

“Proses pembuatan sampai pencetakan beton ini memakan waktu lima belas menit, sedangkan proses perawatan dilakukan sejak beton berumur satu hari sampai 28 hari,” katanya.

Usai beton tersebut jadi, imbuh Dzikrie, dilakukan pengujian kuat tekan dan kuat tarik. Dari pengujian tersebut, kuat tariknya dihentikan saat mencapai 42,5 MPa. Sedangkan kuat tekannya sebesar 14,2 MPa, di mana beton konvensional seharusnya sudah gagal di 4,25 MPa. “Hal ini menunjukkan bahwa kuat tarik beton dari bahan serat tebu tersebut di atas dari beton konvensional yang terbuat dari semen,” ujar mahasiswa penggemar olahraga futsal ini.

Selain itu, dari hasil penelitian yang telah meraih juara satu pada ajang Civil Days yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang tersebut, dihasilkan susut beton yang terbilang kecil. Menurutnya, hal itu dikarenakan beton geopolimer adalah beton dengan kekuatan awal tinggi, yakni sekitar 70 persen kekuatan beton tercapai di umur satu hari.

“Semoga segera ditemukan metode mix design beton geopolimer agar dapat diterapkan di konstruksi bangunan,” tandasnya.  wid