banner 468x60

Mahasiswa Universitas Brawijaya Kembangkan Pupuk Organik dari Kotoran Sapi

iklan

sapi perahPenakita | MALANG – Kotoran sapi sebagai pupuk organik kian berkembang di masyarakat Dusun Bendrong, Desa Argosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Pemanfaatan teknologi pembuatan pupuk organik karya mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang itu bisa diterima karena mudah penggunaannya dan lebih murah.

Sebelumnya teknologi yang diberi nama Bioreaktor Pengontrol Suhu (BPS) ini sudah digunakan di wilayah Poncokusumo, Kabupaten Malang. Selain mudah pembuatannya dan murah, teknologi BPS karya Suroto, Vagga Satria Rizki Aji, Hernadi Septo Aji, Arifuddin, dan Rosida Wulandari ini juga membuat proses pembuatan pupuk organik relatif lebih cepat dari sebelumnya 1,5 bulan kini hanya dua minggu.

“Kelebihan-kelebihan teknologi BPS ini membuat petani lain pun berminat menerapkan teknologi BPS ini di daerahnya,” ungkap Suroto.

Menurut Suroto, selama ini pupuk yang digunakan petani di Jabung masih semi organik. Kotoran sapi hanya dimasukkan ke pusat irigasi. Setelah tercampur, air irigasi ini kemudian dialirkan ke sawah-sawah.

Sedang teknologi BPS ini prosesnya terlebih dulu dilakukan pada sebuah tempat berukuran 3x4x1 meter. Kumpulan kotoran sapi ini lalu diberi bekatul guna merangsang pertumbuhan mikroba pengurai.

Kotak tempat kotoran sapi ini selanjutnya ditutup dan diberi penerangan lampu 150 watt dengan pengontrolan suhu 40 derajat celcius. Bila lebih dari 40 derajat, lampu akan mati sendiri. Menjaga suhu ini sangat penting untuk menjaga unsur-unsur hara hasil fermentasi.

Selain menghasilkan pupuk organik untuk keperluan lahan pertanian sendiri, lanjut Suroto, para petani ini bisa menjualnya ke daerah-daerah lain lantaran bahan bakunya yang melimpah. “Harga pupuk organik buatan pabrik Rp 7.500 untuk 5 kg, sedang pupuk BPS ini hanya Rp 5.000,” kata Vagga. sum

author