Mahasiswa UPN Olah Limbah Kakao Jadi Bahan Pembuat Selai

Mahasiswa UPN Veteran Jatim memeragakan alat pengolah limbah kakao

Mahasiswa UPN Veteran Jatim memeragakan alat pengolah limbah kakao

Penakita | SURABAYA – Kini tak ada lagi yang terbuang dari buah kakao. Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim membuktikan bahwa daging buah kakao yang selama ini dibuang atau dibuat kompos itu ternyata memiliki kandungan pektin dan lemak yang besar.

Selama ini limbah kakao atau sisa daging buah setelah diambil bijinya sering kali menimbulkan masalah pencemaran yang cukup serius. Berkat temuan ini, maka limbah tersebut diolah menjadi pektin, bahan pembuat permen, jelly dan selai.

Dari penelitian mahasiswa UPN Veteran Jatim diketahui, kandungan pektinnya mencapai 19 persen. Pemanfaatan limbah kakao ini digagas Prof Dr Soemargono, Ketua Pusat Studi Energi dan Biomasa UPN.

Berkat dukungan Departemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Dirjen Dikti melalui program HI- LINK maka kegiatan ini pun semakin lancar. Menurut Soemargono, proses pengolahan kakao ini pertama adalah memasukkan buah kakao tanpa dikupas dalam parutan hingga halus.

“Proses selanjutnya dilumatkan air dengan perbandingan 1 kg parutan daging kakao dicampur 3 liter air. Setelah itu dipanaskan dengan ditambah asam sitrat dan natrium hidroksida dengan tingkat keasaman (pH) 3,” paparnya.

Untuk melalukan ini Soemargono dibantu sejumlah mahasiswanya, diantaranya adalah Intan Ariani dan One Yustisia. “Proses pemanasan dilakukan 70 menit hingga mendidih,” beber Intan Ariani, mahasiswa jurusan Teknik Kimia.

Larutan buah kakao lalu disaring dan dipanaskan kembali hingga didapat separuh dari hasil saringan tersebut. Setelah itu dicampur alkohol untuk proses pengendapan. “Endapan-endapan putih inilah yang disebut pektin,” ujar Intan.

Endapan pektin ini lalu dikeringkan dalam oven atau dijemur di bawah cahaya matahari menjadi butiran-butiran putih. Butiran putih pektin inilah yang dimanfaatkan untuk industri makanan.

“Pektin iniĀ  berfungsi mengentalkan,” kata One Yustisia sambil menambahkan, pektin ini diperlukan untuk pembuatan permen, jelly, selain, makanan beku dan minuman tak beralkohol.

Menurut Soemargono, selain buah basah, buah dalam kondisi kering juga bisa diolah. “Pektin dari buah kakao ini memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dari buah lain. Kalau biasanya kadar metoksil di pektin hanya 1 hingga 3 persen. Kalau pektin dari kakao ini sampai 5 persen sehingga sangat cocok untuk industri permen dan sejenisnya,” ucapnya.

Dalam pengembangan ini, pihaknya sudah bekerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Guyub Santoso, Blitar untuk mendapatkan limbah kakaonya. “Di sana limbah kakao ini hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak sehingga nilainya rendah,” urainya.

Padahal Gapoktan ini setiap harinya bisa menghasilkan 10 hingga 15 ton biji coklat. Dan daging buahnya tiga kali lipat atau mencapai 45 ton per hari. “Dengan potensi ini saya bisa pastikan prospek usaha ini akan besar,” tegas Soemargono yang guru besar Teknik Kimia.

Ada beberapa tawaran kerjasama yang akan diberikan, yakni dengan bagi hasil penjualan pektin, atau bisa juga dengan bagi hasil lainnya karena Gapoktan ini ternyata juga memproduksi produk coklat olahan seperti permen yang membutuhkan pektin sebagai bahan utamanya.

Selain pektin, Soemargono dan timnya kini juga sedang meneliti daging buah kakao sebagai bioetanol maupun minuman. “Dari proses pengolahan pektin juga masih bisa dikembangkan. Misalnya cairan sisanya bisa diolah lagi menjadi alkohol sehingga tidak terbuang percuma,” ungkap Soemargono. ari