banner 468x60

Mau Ikut Lomba Mewarnai? Inilah Caranya

185 views
iklan

Lomba Brosur_OLPenakita | SURABAYA – Bagi yang berminat ikut Lomba Mewarnai terlebih dulu harus mendaftarkan diri dengan mengisi formulir dengan meng-klik poster di sisi kanan PENAKITA.com. “Karena keterbatasan tempat jumlah peserta dibatasi 75 orang,” kata Masich Prasetyo, Ketua Panitia Lomba Foto Anak & Story Telling 2014.

Selain itu, lanjutnya, pendaftaran juga bisa dilakukan di Perpustakaan Bank Indonesia (BI) Jl Taman Mayangkara 6 Surabaya. Masa pendaftaran dibatasi hingga tanggal 21 November 2014.

Pria yang akrab disapa Pras ini menambahkan, pada saat lomba, peserta harus membawa sendiri alat tulis (pensil warna) serta alas untuk mewarnainya. “Panitia hanya menyediakan media gambar yang nanti diwarnai peserta,” ucapnya.

Panitia akan memilih enam pemenang dan masing-masing mendapat hadiah senilai Rp 500.000 (Juara 1), Rp 300.000 (Juara 2), dan Rp 200.000 (Juara 3). Sedang Juara Harapan 1, 2, dan 3 masing-masing mendapat hadiah senilai Rp 100.000.

Sebagaimana diberitakan PENAKITA bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Lomba Foto dalam rangka Hari Anak Nasional dan Hari Pahlawan 2014. “Tema besar kami kali ini adalah Hari Pahlawan. Kami ingin tahu seperti apa gambaran sosok pahlawan di mata anak-anak. Karena sosok pahlawan sekarang tentu tak lagi harus menenteng senjata dan bergerilya,” tutur Pras.

Ditekankan pula, di era kemerdekaan ini pengertian pahlawan cakupannya lebih luas. “Guru bisa jadi pahlawan, tukang sapu di jalanan juga pahlawan. Atau bahkan orangtua pun tentu pahlawan juga,” bebernya.

Penanaman sosok pahlawan sejak usia dini itu ditekankan Pras amat penting agar ketika remaja dan dewasa mereka punya wawasan mengenai sosok pahlawan yang mereka idolakan. “Melalui lomba ini diharapkan ada penanaman sikap sejak dini untuk menghargai orang lain dalam kegiatan profesi apa pun dengan standar yang sama. Dengan karya fotografi diharapkan bisa mengedukasi masyarakat tentang semangat kepahlawanan di era kemerdekaan,” pungkasnya. ari

author