Mau Ikut Lomba Story Telling? Ini Pesan Kak Nitnit

Kak Nitnit (kiri) bersama Kak Yeyen, Juri Lomba Story Telling PENAKITA

Kak Nitnit (kiri) bersama Kak Yeyen, Juri Lomba Story Telling PENAKITA

Penakita | SURABAYA – Peserta Lomba Story Telling diminta mempersiapkan materi dengan baik sehingga bisa disampaikan di depan juri secara apik. Mengenai alat bantu juga diharap disesuaikan dengan tema cerita yang mau disampaikan.

Menurut Kak Nitnit, aktivis mendongeng di Surabaya, alat bantu jangan malah membuat peserta kesulitan saat menyampaikan materi cerita. “Biasanya sibuk dengan alat bantu, tapi topik ceritanya justru tidak nyampai ke penonton,” cetus Kak Nitnit, salah satu juri Lomba Story Telling yang digagas PENAKITA.COM bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Sebagaimana diberitakan, selain Lomba Foto Anak, PENAKITA juga menggelar Lomba Mendongeng (Story Telling). Kedua lomba ini digelar untuk memeringati Hari Anak Nasional sekaligus Hari Pahlawan 2014.

“Perkembangan teknologi belakangan justru membuat aktivitas mendongeng yang dulu sering dilakukan ibu-ibu jelang anaknya tidur tidak lagi dilakukan. Padahal mendongeng punya dampak positif luar biasa, khususnya untuk ikatan psikologis antara ibu dan anak,” cetus Masich Prasetyo, Ketua Panitia Lomba Foto Anak dan Story Telling 2014.

Aktivitas mendongeng ini, lanjut Prasetyo, juga bisa membentuk karakter anak di usia dini. “Interaksi ini akan mewarnai kehidupan anak saat dewasa nanti,” ungkapnya.

Karena diselenggarakan dalam rangka Hari Pahlawan, maka tema cerita yang harus dibawakan peserta Lomba Story Telling nanti adalah mengenai sosok pahlawan di mata anak-anak. “Tantangannya adalah memberi pemahaman pada anak-anak tentang sosok pahlawan di era modern ini yang tentu beda dengan pahlawan di era perjuangan,” tandasĀ  pria yang akrab disapa Pras ini.

Beda dengan Lomba Foto Anak yang tanpa batas maksimal jumlah peserta, untuk Lomba Story Telling dibatasi hanya untuk 50 orang. “Tiap peserta kami beri waktu hanya lima menit untuk menyampaikan dongengannya. Peserta bisa memakai alat bantu saat mendongeng. Tapi alat bantu ini tidak memengaruhi nilai. Yang penting adalah kemampuannya menggugah imajinasi anak,” kata Pras. ari