banner 468x60

Mau Jadi Petani Kota? Inilah Cara Menyelamatkan Lingkungan Kita

423 views
iklan
Antonius P Wigig R MM, Presiden Bamboosa Forest Indonesia saat menggelar workshop Urban Farming di Expo Koperasi dan UMKM di Grand City Mall Surabaya

Antonius P Wigig R MM, Presiden Bamboosa Forest Indonesia saat menggelar workshop Urban Farming di Expo Koperasi dan UMKM di Grand City Mall Surabayaadu

Penakita | SURABAYA – Bertani itu ternyata tak selalu identik dengan pakain kumuh dan berlumur lumpur. Kegiatan bercocok tanam sayuran kini bisa dilakukan sendiri di pekarangan rumah dalam area yang tak terlalu besar.

Urban Farming, tema workshop tersebut disampaikan Drs Antonius P Wigig R MM, Presiden Bamboosa Forest Indonesia (Bafi), LSM lingkungan dalam acara Expo Koperasi & UMKM di Grand City Mall Surabaya, Jumat (6/12/2013). Di luar dugaan, workshop yang mengangkat topik eksplorasi tanah pekarangan ini mendapat sambutan antusias pengunjung.

“Berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk memulai kegiatan menanam sayuran di pekarangan rumah ini?” tanya salah seorang pengunjung.

“Apa tanaman tidak kena hama? Kan tidak pakai pupuk pestisida yang antihama?” celetuk pengunjung lainnya.

“Berapa lama masa tanam hingga akhirnya bisa dipanen?” cetus pengunjung lainnya lagi.

Ragam pertanyaan itu disambut satu demi satu oleh Antonius. Menurut pria yang akrab disapa Anton ini, untuk polibag sebanyak 500 buah, hanya diperlukan area sekitar 3×5 meter. Dan biaya yang dikeluarkan pun relatif terjangkau yaitu sekitar Rp 1,5 juta.

“Masa tanam hingga panen sekitar dua bulan. Dan setelah panen, sayuran semi organik ini punya nilai ekonomi tinggi. Sehingga dipastikan balik modal dan bisa digunakan untuk membeli bibit tanaman berikutnya,” ungkap Anton.

Bafi, LSM yang fokus pada eksplorasi tanah pekarangan dan budi daya bambu ini sering bekerjasama dengan Penakita.com dalam kegiatan workshop Urban Farming bagi siswa SMA di Surabaya dan Malang. adi

author