banner 468x60

Memilih Penginapan Ternyata Berpengaruh pada Kelancaran Pendidikan, Begini Penjelasannya

iklan

Yehezkiel Tumewu dan Patrick Clifford berbagi pengalaman tentang kehidupan akademik mahasiswa di Amerika di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. (foto-foto: Lintang Suminar K)

Penakita.com | SURABAYA – Salah memilih penginapan selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat bisa berpengaruh tidak lulus kuliah?

“Karena jika penginapan tidak nyaman, akan mengakibatkan kegiatan belajar dan istirahat terganggu. Hasilnya dijamin kalian tidak akan berhasil,” begitu ungkap Yehezkiel Tumewu, Senin (10/06/2019).

Siang itu, Hezki –sapaan akrab Yehezkiel Tumewu – yang juga pernah menerima beasiswa EducationUSA berbagi pengalaman pada 15 siswa asal Jawa Timur penerima beasiswa untuk belajar di Negeri Paman Sam.

Dalam paparannya di Information Resource Center (IRC) Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Hezki membeberkan fakta dan tips mulai dari memilah-milah barang bawaan hingga soal penginapan.

“Hal ini (memilih penginapan) bisa jadi sepele, namun penting diperhatikan jika ingin sukses menimba ilmu di sana (Amerika Serikat). Jadi jangan sampai salah memilih penginapan!” tegasnya.

Dalam Seminar Orientasi Pra-Keberangkatan tersebut, para siswa penerima beasiswa tak hanya dapat pembekalan pengetahuan dan pengalaman dari alumni. Hadir pula Patrick Clifford, tamu spesial yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat.

Mahasiswa Universitas North Carolina yang kebetulan kini sedang menjalani magang di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya itu berbagi gambaran seputar kehidupan akademik di universitas di Amerika Serikat.

Patrick tak menampik bahwa fenomena culture-shock bisa dialami siapapun tidak hanya para mahasiswa internasional. “Aku bahkan butuh waktu setahun untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mendapatkan teman,” ungkapnya.

Jadi, menurut Patrick, para siswa yang akan berangkat ke Amerika diharapkan tidak perlu khawatir akan perbedaan. “Di Amerika Serikat, kami menerima perbedaan itu dengan tangan terbuka,” ujarnya.

Sependapat dengan Patrick, Christine Getzler-Vaughan, Kepala Humas Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya turut memberikan dukungan penuh kepada para siswa sembari memberi wejangan agar nantinya para siswa tidak ragu dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal maupun internasional ketika di kampus.

Sementara Mark McGovern, Konsul Jenderal Amerika Serikat menyatakan harapan kepada para penerima beasiswa tersebut agar bisa menjadi jembatan hubungan baik Indonesia-Amerika Serikat.

“Saya berharap kalian bisa menjadi bagian dari kemajuan Indonesia dengan berkontribusi melalui pendidikan,” cetusnya.

Dalam rangka 70 tahun peringatan hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat hingga tahun ini sudah ada 9.000 orang yang menimba ilmu di Amerika Serikat. “Ini merupakan kesempatan yang bagus untuk membangun hubungan baik kedua negara,” tuturnya.

Untuk meningkatkan pemahaman budaya kedua negara, imbuhnya, Mark berharap bahwa di kesempatan mendatang mahasiswa Amerika Serikat juga memiliki kesempatan lebih banyak untuk datang ke Indonesia.

Konsulat Jenderal Amerika Surabaya melalui program pendidikannya EducationUSA tahun ini memberangkatkan 15 siswa asal Jawa Timur penerima beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat.

Di antara kelima belas siswa itu, delapan orang merupakan siswa lulusan SMA yang mendapatkan beasiswa kuliah S1 dan sisanya melanjutkan ke jenjang Pascasarjana di beberapa universitas di Amerika Serikat. sum

author