• Home »
  • Aktualita »
  • Menteri Yohana Ajak Kalangan Akademisi Selamatkan Keluarga Rentan, Begini Caranya

Menteri Yohana Ajak Kalangan Akademisi Selamatkan Keluarga Rentan, Begini Caranya

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise di tengah peserta reuni Senior Perempuan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Penakita | SALATIGA – Pertahanan keluarga yang kurang baik seperti timbulnya kasus perceraian keluarga, serta kekerasan dalam rumah tangga akan berdampak buruk bagi proses tumbuh kembang anak. Ironisnya kasus percerain ini meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, kasus perceraian pada tahun 2009-2016 mengalami kenaikan 16-20 persen. Pada 2015 lalu, setiap satu jam terjadi 40 sidang perceraian atau sekitar 340.000 lebih gugatan cerai.

“Ketika perceraian terjadi, anak terluka secara batin, merasa tidak aman dan seringkali tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orangtuanya. Keluarga rentan seperti inilah yang harus kita lindungi,” tegas Yohana saat hadir pada acara reuni Senior Perempuan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jumat (3/8/2018).

Guna membantu masyarakat dan menyelamatkan keluarga rentan, Yohana mengajak kaum akademisi khususnya para mahasiswa untuk secara aktif ambil peran positif. Yohana berharap kalangan perguruan tinggi ini bisa turut menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh keluarga,  khususnya keluarga yang rentan tersebut.

“Bagi setiap individu, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat serta tempat pertama dan utama. Pembagian peran dalam mempertahankan keutuhan keluarga, harus dilakukan secara sinergi yang berbasis pada kemitraan gender,” ujarnya.

Aksi yang bisa dilakukan, menurut Yohana, salah satunya dengan mengembangkan gagasan One Student Saves One Family (OSSOF). “Mahasiswa sebagai insan intelektual dapat berperan aktif membantu mencarikan akses bagi penyelesaian masalah yang dihadapi keluarga, serta mampu membuka akses pada berbagai sumber daya untuk menyelamatkan keluarga yang rentan,” tutur Yohana.

Gagasan OSSOF menjadi penting bukan hanya manfaat jangka pendek, namun juga secara jangka panjang. Para mahasiswa dapat mempelajari tahapan-tahapan untuk berperan aktif dan berkontribusi secara maksimal untuk membantu menyelesaikan masalah khususnya yang terkait dengan perempuan dan anak yang dihadapi oleh keluarga rentan.

Dalam kesempatan itu, Yohana berharap GMKI sebagai bagian dari kaum intelektual bangsa ini dapat memberikan dukungan untuk pencapaian kesetaraan gender serta perlindungan dan pemenuhan hak anak. “Dengan menghargai perempuan serta memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak sama artinya kita berinvestasi untuk masa depan bangsa,” tegasnya.

Dalam pertemuan ini, turut juga diselenggarakan penganugerahan penghargaan yang terinspirasi dari dua orang tokoh perempuan yaitu Marie Claire Barth-Frommel dan Lebrien A Tamaela yang banyak berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan meningkatkan rasa cinta Tanah Air, bukan hanya bagi individu yang berada dalam organisasi GMKI, namun juga bagi masyarakat luas. wan