banner 468x60

Ngotot Biayai Pendidikan Murid SMA/SMK, Risma : Anak Putus Sekolah Akan Jadi Beban Kota Ini

iklan

Penakita.com | SURABAYA – Adanya biaya pendidikan bagi murid di tingkat SMA/SMK/MA dikhawatirkan, pada suatu saat, bakal menjadi beban daerah setempat. Karena itu, Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya terus gencar melontarkan keinginannya mengelola SMA/SMK/MA secara langsung.

“Pembiayaan untuk pendidikan dan kesehatan itu bagian dari investasi masa depan,” demikian tegas wanita yang akrab disapa Risma ini.

Lulusan SMA Negeri 5 ini kemudian menegaskan,“Saya nggak bisa bilang pemerintah rugi karena biaya pendidikan. Kalau satu tahun ada anak putus sekolah 10 saja, berarti 5 tahun ada 50 anak. Suatu saat 50 anak itu akan menjadi beban bagi kota ini.”

Risma lalu memaparkan alasannya bahwa anak-anak yang putus sekolah kurang berkompeten, karena kurang matang menempuh pendidikan. “Sekarang tenaga sapu pakai sapu manual. Tetapi nanti misalnya pakai alat (sapu mekanik, Red) dia tidak bisa operasionalkan karena tidak sekolah. Kalau rusak gimana? Jika dia tidak bisa menjalankan, akhirnya akan menjadi beban,” tegasnya.

Alasan lainnya, lanjut Risma,”Kalau tiba-tiba dia jadi penjahat karena nggak bisa ngapa-ngapain? Akhirnya dia ngrampok, nah rugilah kota ini kan,” tandasnya.

Untuk pendidikan bagi pelajar SMA/SMK/MA ini, ditekankan Risma, Pemkot Surabaya siap membiayai secara penuh kebutuhannya melalui dana SILPA APBD 2019, sebesar Rp 600 juta.  

“Aku tidak mau ada anak putus sekolah. Harus diselesaikan, dia mau sekolah apa? Kalau dia tidak cocok akademisi, makanya di Kampung Anak Negeri itu ada pendidikan lain saya lihat rata-rata IQ mereka di bawah 100,” cetusnya.

Risma mengakui banyak faktor yang melatarbelakangi anak-anak putus sekolah. Selain karena ekonomi juga karena faktor keharmonisan keluarga.

“Berbagai macam masalahnya, tapi rata-rata dan bisa ditebak penyebabnya tak jauh dari dua permasalahan itu,” ucap Risma yang menduduki jabatan Wali Kota Surabaya selama dua periode.

Risma lalu memberi contoh lagi terkait kebijakannya membubarkan Lokalisasi Dolly. “Kalau dulu aku bubarkan Dolly itu ada korelasinya dengan lokalisasi. Sekarang ternyata kalau masih ada (anak putus sekolah), biasanya orang tua ada masalah kemiskinan, lalu sekolah malu, karena ada murid tidak pakai sepatu dan seragam bagus,” ungkapnya.

Untuk Itu Risma mengaku sering ke sekolah-sekolah untuk memberi anak-anak dorongan dan semangat agar tidak minder. Karena sebenarnya kesuksesan bukan sebab sepatu atau seragam bagus, tapi keinginan untuk mau belajar. dit

author