Novel Ke-Tujuh Difilmkan, Kirana Kejora Menangis. Ini Alasannya!

workshop Film AMTB_PenakitaPenakita | SURABAYA – Kirana Kejora, penulis novel Air Mata Terakhir Bunda (AMTB) mengaku menangis begitu karya sastranya tersebut benar-benar hadir di layar lebar. Derai air mata itu tumpah ketika ibu dua anak ini hadir dalam Gala Premier AMTB di Jakarta, Senin (30/9/2013) lalu.

“Saya tak bisa menahan tangis ketika cerita ini akhirnya benar-benar difilmkan. Waktu saya duduk di gedung bioskop dan menyaksikan nama saya muncul setelah nama Mas Endri (Endri Pelita, sutradara AMTB) saya langsung terpaku. Saya seakan tak percaya pada kenyataan ini,” begitu kisahnya di hadapan peserta Workshop Film AMTB di Atrium City of Tomorrow (Cito) Surabaya, Kamis (3/10/2013).

AMTB merupakan novel ketujuh yang dihasilkan penulis asal Sidoarjo ini. Menurut Kirana, enam novelnya juga sempat ditawar sejumlah produser untuk difilmkan. Namun, semuanya tidak kelanjutannya.

“Jadi sebetulnya ketika itu saya sudah dalam kondisi puncak kelelahan. Jadi ya sudahlah kalau memang tidak ada yang berminat mau gimana lagi. Yang penting bagi saya adalah berkarya dan itu tak akan pernah berhenti,” cetus Kirana.

Ketika ada tawaran datang untuk karya novelnya berjudul AMTB, Kirana sempat merespons tanpa semangat. Namun, ketidakyakinan itu berlanjut jadi sebuah kejutan sewaktu Erna Pelita, produser RK23 Pictures menyatakan keseriusannya untuk menggarap AMTB.

Kirana makin terperangah saat mengetahui sejumlah aktor dan aktris yang bakal mendukung film tersebut. “Nama-nama yang disodorkan produser betul-betul aktor dan aktris yang punya karakter kuat di bidangnya. Saya sangat surprise menghadapi ini semua,” ungkapnya.

Lebih lanjut Kirana menyatakan, dirinya sering berdialog dengan Endri Pelita, sutradara AMTB dalam upaya menghidupkan sosok-sosok dalam cerita AMTB. “Saya bersyukur, dialog kami selalu lancar hingga proses produksi tuntas,” beber Kirana.

AMTB yang seluruh proses produksinya dilakukan di kota Sidoarjo ini adalah sebuah film yang sangat menyentuh yang menonjolkan bernilainya keluarga. Film dengan durasi 100 menit ini diperkuat dua bintang cilik pendatang baru asal Sidoarjo, Ilman Lazulfa dan Reza Farhan yang masing-masing berperan sebagai tokoh Delta kecil, dan tokoh Iqbal kecil.

“Film ini akan menggerakkan hati siapa pun untuk mengingat Ibunda kita masing-masing,” ujar Erna Pelita. adi