Padangpanjang Sudah 100 Persen Terapkan Kurikulum 2013

PADANGPANJANG – Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim menyebutkan, pemberlakukan kurikulum 2013 ditargetkan mencakupi 30 persen wilayah pada tahun ini dan berlaku penuh di tahun ajaran 2014.

“Penerapan yang tidak total itu khusus untuk sekolah dasar (SD), yakni minimal 30 persen dari SD yang ada di setiap kabupaten, tapi tahun berikutnya sudah harus 100 persen,” kata Musliar Kasim di Padangpanjang, Sabtu (26/1/2013) malam ketika mensosialisasikan kurikulum 2013 kepada ribuan guru se-Padangpanjang, di Aula Balaikota setempat.

Dia menjelaskan, penerapan minimal 30 persen itu tidak menutup kemungkinan penerapan dengan jumlah lebih dari itu. “Kalau ada daerah yang bisa 100 persen seperti Padangpanjang ya silakan saja, karena penerapan 30 persen itu sifatnya minimal,” ujarnya.

Penerapan minimal itu dilakukan, lanjut Kasim, karena sumber daya manusia Kemendikbud yang terbatas, tapi 2014 sudah harus berlaku total dan di seluruh Indonesia. Kriteria 30 persen SD yang akan memberlakukan kurikulum 2013 itu, dia mengatakan, tetap berkeadilan yakni merepresentasikan sekolah negeri dan swasta, serta merepresentasikan akreditasi A, B, dan C.

“Kita memiliki SD sebanyak 148 ribu, karena kalau 30 persen saja sudah ada 48 – 49 ribu guru SD yang harus dilatih untuk melaksanakan kurikulum 2013. Itu jumlah yang banyak, sehingga kalau lebih dari itu ada keterbatasan,” bebernya.

Sosialisasi kurikulum 2013 yang dilakukan Kemdikbud tersebut ada empat daerah di Sumatera Barat satu di antaranya Padangpanjang. Kurikulum 2013 merupakan penyederhanaan kurikulum sebelumnya yang akan mendidik kreativitas peserta didik, termasuk memudahkan para guru dalam mengajar.

“Kurikulum 2013 ini sesuai dengan kondisi suatu daerah, sehingga peserta didik akan bisa memunculkan kemampuan yang dia miliki,” pungkas Kasim.

Bekali Bimbel dan Try Out Jelang Tes CPNS

SURABAYA –¬†Dewan Koordinator Honorer Indonesia (DKHI) Surabaya menghimpun seluruh anggotanya untuk mempersiapkan diri menyambut tes CPNS khusus GTT. Mereka membekali diri dengan bimbingan belajar (Bimbel) dan try out khusus GTT. Sampai saat ini, proses penggalangan peserta Bimbel masih terus berlangsung. Dari ribuan GTT dan PTT di Surabaya dan sekitarnya, mereka berkesempatan mengikuti pembekalan jelang tes CPNS khusus GTT. “Kami buka sampai akhir Februari. Mari kita siapkan diri dengan semacam Bimbel. Wong dulu tes UMPTN saya ikut Bimbel. Masuk CPNS harus ada Bimbel,” kata Sekertaris DKHI Surabaya Atiko, Minggu (27/1/2013). Ide Bimbel khusus para GTT dan PTT ini tercatat baru kali pertama diadakan. DKHI yang melihat kondisi para anggotanya tidak membekali diri dengan sistematis. Mereka berjuang sensdiri-sendiri dalam hal penyiapan materi. Akhirnya lahir gagasan, mengkoordinasi ribuan GTT tersebut untuk dibimbing dan dipandu dalam pengerjaan tes CPNS. “Sebenarnya sifatnya try out tapi digelar seharian. Kami menghadirkab praktisi dan pakar yang biasa menggelar try out dan Bimbel CPNS dari Malang dan Surabaya,” tambah Atiko. DKHI sudah menjadwalkan try out dan Bimbel masuk CPNS itu pada Maret nanti. Mereka membatasi tidak lebih dari 400 GTT untuk tahap pertama. Untuk bisa masuk Bimbel khusus GTT ini tentu harus mengeluarkan biaya. Tapi tidak banyak, yaitu hanya Rp 200.000 per-GTT. “Kami yakin, minimal teman-teman GTT tidak grogi dan terbiasa dengan soal-soal CPNS. Tidak hanya itu, mengerjakan tes CPNS dengan materi scolastik dan bidang studi ada triknya. Sebab berbenturan dengan waktu,” cetus Atiko yang lama menjadi GTT di SMKN 7 Surabaya.

Kuota Mahasiswa Indonesia Belajar di Jepang Masih Banyak

JAKARTA –¬†Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia mengadakan promosi pendidikan mereka melalui Pameran Pendidikan Jepang Global 30 di Universitas Atma Jaya Jakarta, Sabtu (26/1). Proyek Global 30 tersebut telah diluncurkan sejak 2009. Program dicanangkan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada warga non-Jepang belajar di universitas-universitas Negeri Sakura.

Acara tersebut diikuti 16 universitas Jepang dengan masing-masing fakultas dan konsentrasi studi yang ditawarkan.
Universitas tersebut seperti Universitas Tohoku, Universitas Tsukuba, Universitas Tokyo, Universitas Nagoya, Universitas Kyoto, Universitas Osaka, Universitas Kyushu, Universitas Keio, Universitas Sophia, Universitas Meiji, Universitas Waseda, Universitas Doshisha, Universitas Ritsumeikan, Universitas Chiba, Universitas Teknologi Toyobashi, dan Universitas Hiroshima.

“Kami harapkan lebih banyak lagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang mengingat masih banyak kuota bagi mereka untuk menuntut ilmu di negara kami,” kata Dekan Pascasarjana Ilmu Informasi dan Teknologi Universitas Tokyo, Profesor Hagiya Masami, di Jakarta, Sabtu (26/1).

Data per 2009 terdapat 716.353 orang Indonesia belajar bahasa Jepang atau 20 persen dari jumlah orang asing yang belajar bahasa itu. Sampai 1 Mei 2011, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang baru sejumlah 2.162 orang atau jauh dari target pemerintah Jepang yang mencapai 300 ribu mahasiswa asing pada 2020.

Terdapat perbandingan mencolok antara jumlah pembelajar bahasa Jepang dengan siswa yang memiliki kesempatan menuntut ilmu di Negeri Sakura. Menurut Profesor Hagiya, para penuntut ilmu dari Indonesia tidak perlu khawatir terhadap bahasa Jepang yang kemungkinan menjadi faktor kesulitan mereka.

“Sejumlah universitas membuka program studi mereka masing-masing dengan bahasa pengantar kuliah memakai bahasa Inggris untuk kelas internasionalnya. Bahasa Jepang akan mereka pelajari sedikit-demi sedikit di luar jam formal pendidikan,” tutur dia seperti dikutip Antara.

“Modal utama belajar di Jepang adalah bahasa Inggris, visi luas dan memiliki minat riset yang tinggi,” tuturnya.